oleh

Guru SMAN 3 Poso Mogok Mengajar

-Kab. Poso-dibaca 101 kali

SULTENG RAYA – Puluhan guru SMAN 3 Poso melakukan aksi mogok mengajar dengan cara duduk di tengah lapangan basket SMAN 3 Poso, Kamis (9/9/2021). 

Aksi itu dimulai pukul 08.00 wita pagi hingga jam kerja usai pukul 12.00 wita siang yang dilakukan sebanyak 44 guru sebagai bentuk solidaritas dan protes atas penegakan hukum terhadap Kepala SMAN 3 Poso Suhariono yang divonis bersalah dalam perkara penyalahgunaan pungutan Dana P3/Dana Komite pada SMAN 3 Poso tahun ajaran 2018/2019.

Kejaksaan Negeri (Kejari) Poso mengeksekusi mantan kepala SMA Negeri 3 Poso itu pada Senin 6 September 2021 setelah menerima putusan Kasasi Mahkamah Agung (MA) RI, menyusul putusan Pengadilan Negeri Palu menjatuhkan vonis dirinya bebas pada tahun 2020 lalu.

Koordinator aksi solidaritas guru SMAN 3 Poso, Andi Asgar mengatakan, aksi ini sebagai bentuk protes atas penegakan hukum di Poso yang tak berkeadilan.  Sebab, kasus yang divonis kepada mantan Kepala SMAN 3 Poso ini tidak menimbulkan kerugian negara. Bahkan, tak sepeserpun dana komite yang dipakai oleh yang bersangkutan.

Baca Juga :   Personel Satlantas Polres Poso Donor Darah

Dia mengaku, jika penegakan hukum masalah dana komite sekolah ini benar-benar ditegakan oleh Kejari Poso. Maka, banyak Kepala Sekolah (Kepsek) akan terseret. Tapi faktanya, penegakan hukum ini terkesan tak berkeadilan.

Sementara, guru lainnya mengaku, tidak ada penyalahgunaan dana komite oleh mantan Kepsek. Sebab putusan PN Palu mantan Kepsek sudah bebas. Namun, dalam kasasi Jaksa memasukkan unsur pemerasan, sehingga MA keluarkan putusan eksekusi, padahal tak ada itu pemerasan.

Para guru juga menyayangkan, jika Jaksa dalam pernyataan di media melakukan jemput paksa terhadap Suhariono. Padahal, yang bersangkutan diantar langsung oleh anaknya.

“Kami sayangkan Kejari Poso, LB Hamka kepada media saat konfrensi pers mengatakan melakukan jemput paksa terhadap Suhariono di rumahnya, padahal beliau diantar oleh anaknya ke Kejaksaan. Kejari Poso telah melakukan pembohongan publik dan mencederai rasa keadillan para guru,” terang para guru perempuan sambari terisak mengenang mantan Kepsek mereka.

Baca Juga :   Ibrahim Jabat Ketua Komda Alkhairaat Poso

Aksi para guru SMAN 3 Poso ini akan terus mereka lakukan sampai ada kejelasan hukum dan status Suhariono.

Diketahui, eksekusi terhadap mantan Kepala SMAN 3 itu berdasarkan putusan Mahkamah Agung Nomor 1999 K/PID.SUS/2021 tanggal 19 Juli 2021. Yang bersangkutan dinilai melanggar Pasal 12 Huruf E UU Nomor 31 tahun 1999 terkait perkara penyalahgunaan pungutan Dana P3/Dana Komite pada SMAN 3 Poso tahun ajaran 2018/2019. Pengadilan Negeri Palu menyatakan bebas sebagaimana tertuang dalam putusan Nomor 24/Pid.Sus.TPK/2020/PN.Pal tanggal 20 Oktober 2020. Kemudian Jaksa Penuntut Umum pada Kejari Poso melakukan upaya hukum Kasasi sesuai Akta Permohonan Kasasi Nomor 21/Akta/Pid.Sus-TPK/2020/PN.Pal tanggal 20 November 2020.

MA juga menjatuhkan pidana kepada terdakwa dengan pidana penjara selama 4 tahun penjara dan denda sebesar Rp200 juta.

Baca Juga :   Ibrahim Jabat Ketua Komda Alkhairaat Poso

Sementara, Dinas Pendidikan dan Pengajaran Provinsi Sulawesi Temgah melalui Kabid Menengah Atas, Dr. Muchlis mengatakan, terkait adanya putusan hukum bagi sejumlah Kepala sekolah setingkat SMA di Kabupaten Poso, menyatakan rasa keprihatinan yang sangat mendalam. 

Bahkan Ia juga mengimbau, agar kiranya segenap para Kepala sekolah untuk lebih hati-hati melakukan sebuah kebijakan.

“Terhadap sebuah kebijakan hendaknya selalu berpihak pada aturan main yang berlaku,” ujarnya.

Saat disinggung terkait aksi solidaritas para guru di lingkungan SMA Negeri 3 Poso, Muchlis menegaskan hal tersebut tidak mengapa, selama aksi damai tersebut tidak bertentangan perturan hukum yang berlaku. SYM

Komentar

News Feed