oleh

Prospek Cerah Holding UMi Mendorong Kinerja BRI

-Ekonomi-dibaca 72 kali

SULTENG RAYA – Prospek cerah bisnis Holding Ultra Mikro yang didanai dari hasil rights issue bernilai jumbo yang dilakukan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk., dinilai akan semakin mendorong kinerja fundamental bank dengan jaringan terluas di Tanah Air tersebut.

Pengamat Pasar Modal sekaligus Founder Indonesia Superstocks Community Edhi Pranasidhi memproyeksikan setelah rights issue kinerja usaha fundamental BBRI akan bersinar.

Dia menggambarkan, pada akhir tahun ini BRI akan mengalami penambahan laba bersih sekitar Rp1,5 triliun hingga Rp2 triliun dari PT Pegadaian (Persero) dan PT Permodalan Nasional Madani (Persero) atau PNM yang segera menjadi bagian dari holding.

“Peningkatan kinerja BRI bersama holding cukup potensial. Penerbitan saham untuk pembentukan Holding ini tentu akan mendukung kinerja bagi bank BRI dan Holding Ultra mikro maupun para pelaku bisnis skala mikro nasional,” katanya dalam keterangan tertulis, Rabu (8/9/2021).

Dia menerangkan BRI bersama holding akan menjadi penopang peningkatan rasio kredit UMKM nasional menjadi 22% pada 2024. Sebelumnya, rasio penyaluran kredit perbankan nasional kepada segmen UMKM masih sekitar 20%.

Di sisi lain, pelaku usaha mikro termasuk ultra mikro memiliki porsi 98% dari total jumlah usaha UMKM nasional. Adapun UMKM porsinya mencapai 99% dari total usaha nasional. Sehingga Holding Ultra Mikro akan menjadi entitas paling besar dan kokoh dalam segmen ini serta mampu mendorong kinerja laba yang lebih kuat lagi bagi BRI sebagai induk holding.

Baca Juga :   Dirut BRI: Pegadaian dan PNM Tetap pada Core Bisnisnya

Dia menyampaikan sinergi tersebut membuat beban pendanaan masing-masing anggota holding menjadi lebih efisien. Pegadaian dan PNM akan mendapat sumber dana murah dan cepat dari BRI.

Sementara itu, BRI akan memiliki kemampuan untuk mendongkrak jumlah nasabah yang juga menjadi sumber dana murah bagi holding. Peran holding pun akan semakin krusial dari sisi penyaluran bantuan sosial yang pada akhirnya mendongkrak reputasi dari holding.

Diketahui bersama BRI sebagai bank pelat merah menjadi salah satu alat negara dalam menyalurkan bantuan sosial kepada masyarakat di masa pandemi Covid-19. Selain akan mendongkrak kinerja fundamental, Edhi mengatakan faktor-faktor tersebut akan mendorong investor saham memborong BBRI.

“Inilah background bagi para investor untuk mempertimbangkan potensi dari penerbitan saham BBRI,” imbuhnya.

Seperti diketahui, dalam prospektus yang diterbitkan pada Selasa (31/8), BRI menawarkan sebanyak-banyaknya 28,213 miliar Saham Baru Seri B atas nama dengan nilai nominal Rp50 per saham atau sebanyak-banyaknya 18,62% dari modal ditempatkan dan disetor penuh perseroan setelah Penambahan Modal Dengan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMHMETD) I.

Baca Juga :   Tips Berkendara Maksimal Pakai Motor Sport Fairing

Harga pelaksanaan rights issue BBRI yakni Rp3.400 per lembar saham. Pemerintah akan melaksanakan seluruh haknya sesuai dengan porsi kepemilikan sahamnya dalam BRI dengan cara penyetoran saham dalam bentuk lain selain uang (Inbreng) sesuai PP No. 73/2021.

Seluruh saham Seri B milik pemerintah dalam Pegadaian PNM akan dialihkan kepada BRI melalui mekanisme inbreng. Nilai total PMHMETD I yang telah memperhitungkan inbreng serta eksekusi hak Pemegang Saham Publik adalah sebanyak-banyaknya sebesar Rp95,92 triliun.

Dirinci dari total dana tersebut, nilai inbreng sebesar Rp54,77 triliun dan sisanya Rp41,15 triliun apabila seluruh pemegang saham publik mengeksekusi haknya sesuai porsi masing-masing. Dana hasil dari aksi korporasi itu di antaranya akan dimanfaatkan oleh BRI untuk pembentukan Holding Ultra Mikro bersama Pegadaian dan PNM.

MOMENTUM PEMULIHAN EKONOMI

Senada dengan Edhi, Anggota Komisi VI DPR RI Adisatrya Surya Sulisto mengamini rights issue BRI merupakan hal yang positif karena terjadi konsolidasi keuangan bersama PNM dan Pegadaian melalui holding.

Dia setuju hal itu sejalan dengan bisnis BRI yang fokus pada banking dan micro landing khususnya UMKM. Langkah pengembangan ekosistem usaha ultra mikro serta bisnis mikro dan kecil melalui holding dinilai akan membuat BRI semakin maju dan bertumbuh lebih besar.

Baca Juga :   Ini Tiga Fitur Baru BSI Mobile

“Tentunya juga akan menjadi sumber pertumbuhan bisnis baru yang berkelanjutan bagi Holding Ultra Mikro itu sendiri, di mana BRI ditunjuk sebagai induk, serta akan menjadi embrio bisnis yang akan memperkuat core competence BRI di segmen tersebut,” ujarnya. 

Lebih jauh Adisatrya melihat hadirnya holding adalah upaya tepat dari pemerintah melalui Kementerian BUMN dalam merespon kondisi ekonomi saat ini di mana dibutuhkan langkah dan kebijakan strategis untuk mendorong percepatan perbaikan ekonomi.

Dia memproyeksikan pembentukan Holding Ultra Mikro menjadi langkah strategis untuk menggenjot pertumbuhan ekonomi baru bagi Indonesia. Holding diharapkan memperluas dan memeratakan akses pembiayaan untuk usaha ultra mikro nasional. “Dengan adanya holding tersebut, diharapkan akses pembiayaan untuk usaha ultra mikro menjadi lebih luas dan merata, cost of fund bisa lebih murah, biaya dan risiko bisa ditekan melalui digitalisasi, sehingga cost of credit menjadi lebih rendah. Alhasil, pelaku usaha ultra mikro bisa naik kelas dan terus berkembang usahanya,” tutupnya.*/RHT

Komentar

News Feed