oleh

53 Tahun Beroperasi, PT Vale Terbukti Jaga ‘Kesucian’ Danau Matano

-Ekonomi-dibaca 215 kali

SULTENG RAYA – Perusahaan tambang dan produsen nikel terbesar di Indonesia, PT Vale Indonesia Tbk, telah beroperasi selama 53 tahun. Sepanjang perjalanan itu pula, aktivitas pertambangan sangat berdekatan dengan Danau Matano di Sorowako, Kabupaten Luwu Timur, Provinsi Sulawesi Selatan.

RAHMAT KURNIAWAN / SULTENG RAYA

Hal tersebut ditakutkan berdampak terhadap keberlangsungan Danau Matano, baik kualitas air yang menurun dan mengancam spesies-spesies endemik di lokasi tersebut.

Namun, ketakutan itu nyatanya tidak terbukti sama sekali, setengah abad lebih beroperasi, tidak membuat kualitas air yang menjadi sumber kehidupan masyarakat sekitar tetap terjaga.

Hal itu bukannya tanpa sebab. Menurut Presiden Direktur PT Vale Indonesia, Febriany Eddy, pihaknya memiliki komitmen kuat untuk terus menjaga sumber mata air Danau Matano untuk tetap asri dengan sejumlah action yang telah bertahun-tahun dilakukan.

Bahkan yang terbaru di Agustus 2021 kemarin, PT Vale Indonesia dan sejumlah stakeholder bersama pemerintah mengangkut 27 ton sampah hanya dalam waktu sehari dari Danau Matano.

“Dari operasi tambang PT Vale sendiri,  pasti kita jaga betul-betul Danau Matano ini, dan sudah terbukti kita beroperasi 53 tahun, studi terakhir juga menunjukkan bahwa kualitas air tidak berubah, padahal kita, area tambangnya sangat dekat dengan danau,” kata Febriany Eddy, dalam konferensi pers belum lama ini.

Baca Juga :   Telkomsel Pastikan Kesiapan Jaringan Broadband dan Layanan Digital Terdepan

Menurutnya, komitmen keberlanjutan untuk menjaga ‘kesucian’ Danau Matano terus ditingkatkan. Bagi PT Vale, Danau Matano merupakan aset bersama dengan masyarakat. Sudah menjadi kewajiban bersama untuk terus menjaga keberlangsungan kelestarian segala aspek yang ada di Danau Matano.

“Masyarakat Sorowako bisa menilai sendiri, komitmen sustainability yang kami lakukan. Danau Matano ini luar biasa, bagi PT Vale ini aset karena danau ini ada terdampat spesies endemik. Jadi, kualitas air harus kita jaga,” ungkapnya.

“PT Vale terus mengembangkan standar kita, dan tidak pernah kita turunkan, malah kita naikkan,” ujranya menambahkan.

Namun demikian, komitmen tersebut bukannya tidak mendapat tantangan. Kedala yang saat ini dihadapi yakni dari faktor eksternal. Untuk itu, PT Vale terus menjaga komunikasi dengan pemerintah, memberikan langkah solutif atas permasalahan dari faktor eksternal tersebut.

Baca Juga :   Pasca Rights Issue Aset BRI Akan Jadi yang Terbesar

“Kendala terbesar kami adalah air aliran dari perambahan hutan karena ini di luar area lingkup kami. Jadi kita berkoordinasi terus menerus dengan pemerintah, supaya bisa meminimalisir dampak yang ditimbulkan terhadap Danau Matano yang sama-sama kita jaga ini,” ungkapnya.

KOMITMEN SUSTAINABILITY LAIN

Disamping itu, menurut Dirut Febriany, pihaknya juga memberikan perhatian khusus pada lintas sektor yang menjadi tanggungjawab bersama. Ada beberapa project yang saat ini terus digodok maupun telah dieksekusi, menjaga alam sekitar agar tetap memiliki kualitas yang baik. Seperti, reforestasi, biodifersity, dan penurunan emisi karbon.

“Komitmen lingkungan lainnya, kami ada komitmen reforestasi diluar areal tambang, itu 15.000 hektar sampai 2025. 15.000 hektar gak main-main, itu harus kita penuhi. Kemudian, ada juga komitmen biodifersity, beberapa program yang sedang jalan. Kalau sudah siap akan kita paparkan ke publik lebih lanjut lagi,” tuturnya.

“Kemudian komitmen lingkungan terbesar yakni emisi karbon, PT Vale juga sudah announce bahwa dekarbonisasi 2030 harus turun emisi karbon sepertiga dan menuju karbon netral 2050,” katanya.

Baca Juga :   Kalla Toyota Janjikan Banyak Keuntungan Hingga Akhir September

Pada penurunan emisi karbon, PT Vale kedepan akan menggunakan gas sebagai bahan bakar pada sektor pengoperasian produksi perusahan. Hal itu diyakini akan efektif menunjang penurunan emisi karbon hingga puluhan persen.

Febriany melanjutkan, menurut studi, bahan bakar gas akan menurunkan emisi karbon setengah daripada batubara dan minyak. Dengan pelaksanaan konversi ke gas, perusahaan akan bisa menurunkan emisi karbon 28 persen, salah satu project kunci yang akan membantu mencapai target reduksi 33 persen emisi karbon di 2030. “Untuk yang 2030, reduksi sepertiga karbon emisi sudah ada project-nya kemungkinan akan dikonversi. Saat ini kan tanur pengering masih menggunakan minyak dan batu bara walaupun dipornisnya PLTA sudah 100 persen. Target kita sekarang ada di tanur pengering dan tanur reduksi yang kemudian hari kemungkinan besar kita akan mengarah kepada konversi ke gas,” katanya.***

Komentar

News Feed