oleh

Bulog Sulteng Siap Dukung Pemerintah Tekan Angka Stunting

-Kota Palu-dibaca 194 kali

SULTENG RAYA – Perusahaan Umum Bulog Kantor Wilayah Sulawesi Tengah menyatakan siap mendukung penuh Pemerintah Sulawesi Tengah untuk menekan angka stunting daerah.

Penanganan stunting sendiri menjadi salah satu program prioritas pemerintah pusat yang terintegrasi hingga tingkat paling dasar pemerintahan dengan tujuan menekan angka stunting mulai dari ibu hamil dengan menerapkan pola hidup sehat dan mengkonsumsi nutrisi sesuai dengan standar gizi baik.

Berangkat dari hal tersebut, Bulog saat ini punya satu produk beras bergizi yang di-plot sebagai salah satu produk untuk memenuhi gizi seimbang masyarakat yakni beras bergizi atau lebih dikenal beras Fortivit. Dengan kaya gizi yang terkandungan dalam satu produk makanan pokok itu, masyarakat tidak lagi perlu repot untuk meminum berbagai suplemen vitamin untuk pemenuhan nutrisi.

Kepala Bidang Komersil Aan Ass Arri Wijaya, mengatakan, dalam satu kemasan Fortivit, nutrisi komplek telah tersedia. Misalnya, vitamin A, vitamin B1, B3, B6, B12, asam folat, zat besi dan seng (Zn) sehingga sangat sesuai dikonsumsi dalam pola gaya hidup sehat.

Untuk itu, lewat Fortivit, Bulog akan mendukung penuh terobosan kebijakan pemerintah terkait penanganan stunting.

Baca Juga :   500 Calon Tenaga Kerja Magang Mulai Dilatih Bahasa Jepang

“Produk ini akan mengakomodasi kebiasaan masyarakat saat ini yang maunya instan yang berakibat tidak lengkapnya asupan nutrisi yang masuk ke dalam tubuh kita sehari-hari. Fortivit menawarkan nutrisi komplet tanpa membuang-buang waktu kita, hanya dengan aktivitas makan kita, kita sudah bisa dapat seluruh vitamin yang dibutuhkan tubuh,” katanya kepada Sulteng Raya, Kamis (24/8/2021).

Dikatakan Aan, pihaknya juga telah gencar melakukan sosialisasi kepada lintas pemerintag di hampir seluruh kabupaten dan kota di Sulteng terhadap berbagai kandungan yang ada dalam beras Fortivit.

“Kami meyakini beras Fortivit akan mendapat tempat di kalangan masyarakat dengan digencarkannya sosialisasi terhadap kandungan yang ada di dalam beras Fortivit,” tuturnya.

Aan menjelaskan pentingnya mengkonsumsi beras Fortivit. Sebab, konsumsi dari fortifikasi pangan (minyak, terigu, garam, beras), keempat produk pangan yang sangat berperan adalah beras.

“Karena kebutuhan karbohidrat dalam tubuh per hari sebanyak 40 persen, beras merupakan sumber karbohidrat  dapat memenuhi kebutuhan tubuh 40 persen tersebut,” tuturnya.

Sebelumnya, disadur dari Kompas.Com, Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian meminta pemerintah daerah serius dalam mendukung program pemerintah pusat dalam percepatan penurunan angka stunting.

Baca Juga :   Genangan Air di Jalan Dewi Sartika Belum Surut

Secara khusus, Tito mendorong pemerintah daerah lebih serius dalam menyusun alokasi anggaran dalam Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) Tahun 2022 terkait penanganan stunting.

“Bagi pemerintah daerah yang alokasi anggarannya masih rendah dan berada di bawah rata-rata nasonal, dan kemendagri memiliki datanya,” kata Tito dalam acara virtual “RAKORNAS Bergerak Bersama untuk Percepatan Penurunan Stunting”, Senin (23/8/2021).

“Atau pemerintah yang belum mengalokasikan APBD-nya padahal ada masalah stunting yang serius di daerahnya agar betul-betul serius dan sekali lagi betul-betul menjadikan program ini program prioritas,” ucapnya.

Lebih lanjut, Tito mengatakan, pihaknya akan melakukan review terhadap penganggaran stunting di setiap wilayah.

Oleh karena itu, ia meminta pemerintah daerah mengalokasikan anggaran untuk penanganan stunting yang cukup dan sesuai dengan kebutuhan daerah setempat.

“Kemendagri akan melakukan review anggaran dan akan betul-betul memelototi APBD bapak ibu sekalian agar betul-betul menganggarkan dan membuat program-program dalam rangka penurunan stunting di daerah masing-masing,” tegasnya.

Ia berharap melalui dukungan pemerintah daerah dalam penanganan stunting maka tahun kedepan akan tercipta penurunan angka stunting. Selain itu, Tito menjelaskan, dalam penganggaran APBD 2021, secara nasional semua daerah menganggarakan sekitar Rp 11,14 miliar.

Baca Juga :   Semangati Peserta, Wali Kota Pantau Pelaksanaan SKD CP3K

Tito menyebutkan, tiga daerah tertinggi yang menganggarkan penanganan stunting adalah Kalimantan Tengah dengan Rp 64,95 miliar, Jawa Tengah dengan Rp 42,18 miliar, dan Papua dengan Rp 31,48 miliar.

Sedangkan, ia menyebut masih ada daerah masih rendah dalam memberikan alokasi anggaran penanganan stunting, yakni Papua Barat, DKI Jakarta, dan Bengkulu.

“Papua Barat misalnya belum alokasikan anggaran spesifik stunting, kemudian DKI Jakarta sebesar 0,5 miliar, kemungkinan problema stunting ini juga bukan menjadi problema yang besar dan Bengkulu sebesar 0,35 miliar,” ungkapnya.

Dalam kesempatan yang sama, Tito memberikan apresiasi kepada provinsi yang sudah menunjukkan keseriusan dalam mendukung program nasional penanganan stunting.

Ia menegaskan, program penurunan angka stunting di Tanah Air tidak akan berjalan maksimal tanpa dukungan dari pemerintah daerah.

“Pemerintah pusat tidak akan mampu bekerja sendiri. Pemerintah daerah selain memiliki kapasitas, pemerintah daerah lah yang memahami situasi daerah masing-masing,” ujarnya.RHT/KPS

Komentar

News Feed