oleh

Prof Lincolin, Ingatkan Dosen Turun Penuhi Tri Dharma

-Pendidikan-dibaca 318 kali

SULTENG RAYA- Ketua Majelis Pendidikan Tinggi Penelitian dan Pengembangan (Diktilitbang) PP Muhammadiyah, Prof. H. Lincolin Arsyad, M.Sc., Ph.D, mengingatkan kepada para dosen turun memenuhi tuntutan Tri Dharma Perguruan Tinggi.

Katanya,  dosen memiliki kewajiban tidak hanya mengajar, ada penelitian dan pengabdian pada masyarakat yang juga harus dipenuhi. Untuk itu, setiap dosen harus bisa mengembangkan diri menyesuaikan dengan tantangan yang ada saat ini dan kedepan. Karena saat ini dan kedepan jauh berbeda dengan kondisi delapan dan sepuluh tahun yang lalu.

“Tidak kalah penting adalah Penelitian dan Pengabdian, selain mengajar dan AIK, karena itu adalah kewajiban sebagai seorang dosen, itu harus dipenuhi,”pesan Prof Lincolin, saat membuka Rapat Kerja (Raker) 2021-2022 Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Palu secara Virtual. Selasa (24/8/2021).

Baca Juga :   Jelang PTM, SMPN 1 Palu Kerja Bakti Bersihkan Lingkungan Sekolah

Penegasan yang sama juga diutarakan oleh Rektor Unismuh Palu, Dr. Rajindra, SE., MM. Katanya Catur Dharma Perguruan Tinggi pada Perguruan Tinggi Muhammadiyah (PTM) itu, khususnya penelitian dan pengabdian pada masyarakat berkaitan erat dengan kepangkatan, karena setiap pengurusan pangkat membutuhkan jurnal.

Terkait pembiayaan kata rektor, bisa didiskusikan. Jika ada dosen yang ingin melakukan penelitian atau pengabdian pada masyarakat, sementara proposalnya tidak lolos mendapatkan hibah dana penelitian atau pengabdian dapat mengkomunikasikan hal tersebut kepada lembaga terkait, dalam hal ini Lembaga Penelitian Pengabdian Masyarakat (LP2M) Unismuh Palu.

Bahkan sampai pada penerbitan jurnal sekalipun, universitas siap membantu, sepanjang itu bisa dipertanggungjawabkan. “Jauh lebih baik hal seperti itu dibiayai, dari pada hal-hal yang belum tentu ada manfaatnya,”ujar rektor.

Baca Juga :   4 Oktober, Unismuh Palu Terapkan Kembali PTM

Kata rektor, banyak hal yang bisa diteliti di Sulawesi Tengah ini, termasuk yang terkait kuliner lokal. Ia mencontohkan seperti Kaledo, begitu diminati oleh masyarakat, padahal bumbunya hanya sederhana sekali. Begitu juga nenek moyang (leluhur) Sulawesi Tengah hingga hari ini, sangat meminati sayur kelor.

Sementara daerah lain, seperti di Pulau Jawa, justru dijadikan bahan untuk memandikan mayat. “Banyak objek yang bisa diteliti, apalagi berkaitan dengan kearifan lokal kita di tanah Kaili ini, itu baik sekali untuk diangkat dan diteliti,”ujar rektor.

Hal yang sama terkait pengabdian kata rektor, masih banyak daerah-daerah di Sulawesi Tengah ini yang membutuhkan inovasi dan pemikiran akademisi yang berkaitan dengan peningkatan kesejahteraan mereka. Tentu juga katanya berkaitan kearifan lokal, yakni pemanfaatan Sumber Daya Alam yang ada di daerah itu.

Baca Juga :   Jelang Implementasi PTM, Peserta Didik SMPN 7 Palu Divaksin

Begitu juga katanya, terkait penelitian di bidang Al-Islam Kemuhammadiyaaan (AIK), hal tersebut dapat dilakukan, seperti meneliti peran Muhammadiyah di Sulawesi Tengah pasca peristiwa 28 September 2018 silam, karena begitu banyak peran yang dilakukan oleh Muhammadiyah saat itu bahkan hingga saat ini.

Tapi pastinya kata rektor, jangan sampai hanya kejar proyek. Melakukan tindakan memalukan sebagai seorang akademisi yakni plagiat atau hanya Copy Paste karya orang lain. “Gunakan pikiran sendiri untuk melakukan penelitian dan pengabdian,”pesan rektor.

Di dalam rapat kerja itu, rektor menginstruksikan lembaga terkait untuk menyiapkan anggaran pembiayaan penelitian dan pengabdian yang dapat dibiayai oleh universitas. ENG

Komentar

News Feed