oleh

Tips UMKM Agar Tetap Eksis di Masa Pandemi

-Ekonomi-dibaca 90 kali

SULTENG RAYA– Branding dan mengkomunikasikan produk merupakan hal penting harus dilakukan para pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM), agar bisa menembus pasar dan tetap eksis, sehingga dapat memperluas usahanya.  

Briefer.id, platform kolaborasi bagi para praktisi di industri komunikasi tengah berfokus pada bidang public relations dan brands menyelenggarakan Seri Webinar bertajuk #MerdekaBerkolaborasi “Branding & Komunikasi untuk Pelaku UMKM, Penting gak sih?!” dengan menghadirkan pelaku UMKM Driana Rini dan Brand Strategist Purwanto Hasan, Selasa (24/8/2021).

Communication Lead Briefer.id, Celixa Yovanka, mengungkapkan, untuk dapat terus bertumbuh pelaku UMKM di Indonesia perlu membekali diri dengan kemampuan melakukan branding dan mengkomunikasikan produk, sehingga mereka dapat memanfaatkan medium-medium digital yang relatif terjangkau.

Saat ini, mengkomunikasikan produk UMKM dan usaha secara digital, melalui sosial media lebih optimal. Karena dapat menyasar khalayak yang ditarget dan dapat menumbuhkan skala bisnisnya secara bertahap, demikian hasil rangkuman dari webinar bertajuk #MerdekaBerkolaborasi.

Melalui seri webinar ini, Celixa berharap dapat menjadi wadah bagi para pelaku UMKM  untuk mengkomunikasikan tentang bagaimana produk dan mereknya serta  berbagi inspirasi.

Baca Juga :   Pandemi, IZI Punya Program Bantu Penyandang Disabilitas

“Bukan hanya kisah sukses, tetapi juga kisah kegagalan untuk mendapatkan ragam pengalaman langsung dari pakarnya,” tutur Celixa.

Brand Strategist, Purwanto Hasan mengatakan meski banyak produk yang sama di pasaran, namun tetap ada bedanya.

“Yang membedakan adalah apa tujuan dari pembuatan produknya atau bagaimana kisah di balik produk tersebut. Hal itu tentunya penting untuk dikomunikasikan melalui branding yang baik kepada konsumen agar tetap loyal,” tuturnya.

Artinya, dalam hal ini branding bukan sekadar masalah merek atau visualisasi yang bagus dari sebuah produk. Lebih dalam dari itu, branding terkait nilai-nilai yang ingin disampaikan seperti awal sebuah produk terbentuk, hingga citra yang ingin dicapai.

“Contohnya Wakai, dia mengincar orang–orang yang suka produk look-alike Jepang dengan harga yang lebih murah. Makanya dia membuat produk sepatu Jepang sehingga orang-orang berprasangka bahwa itu adalah produk Jepang padahal produk lokal,” ujar Purwanto.

Dengan menguatkan komunikasi melalui branding yang baik, konsumen dapat membedakan produk yang satu dengan produk yang lain meski tampak sama. Harapannya konsumen lebih menyukai dan mengkonsumsi produk tersebut.

Baca Juga :   Terdorong Holding UMi, BBRI Bisa Cetak Rekor Lagi

Menurut Purwanto, kisah yang tepat dari sebuah produk akan juga membuat konsumen tersentuh dan tertarik untuk mencoba dan membeli produk tersebut. Karena itu dalam membuat kisah sebuah produk, pelaku UMKM harus mencari keunikan di balik produk tersebut.

Kisah atau cerita di balik sebuah brand pun menurutnya harus konsisten. Pelaku usaha harus menjauhi kisah negatif yang membuat konsumen enggan mencoba produk tersebut.

“Pertama cari insights dulu, apa yang orang-orang mau. Tapi mulailah dari produk yang diketahui dan disukai oleh diri sendiri. Story – story (negatif) tersebut menurut saya gak akan terjual, mungkin sekali, tetapi habis itu orang akan merasa bahwa you’re just making it up biar orang mau beli,” ujarnya.

Dalam kesempatan yang sama, pemilik usaha kuliner Sei Sapi dengan merek “Frozen Food by @venustweets” yang juga pegiat media sosial Driana Rini mengamini Purwanto. Berdasar pengalaman pribadinya, Driana mengungkapkan cara berjualan paling enak adalah dengan bercerita atau story telling.

Pasalnya, hal tersebut bisa menyentuh hati para konsumen. Selain itu, kata dia, penjual juga harus memastikan produknya bagus, cita rasa makanan enak, dan tonjolkan keunikannya.

Baca Juga :   Sabet Penghargaan Internasional , Dirut BSI: Pelecut Semangat Jadi 10 Bank Syariah Terbesar Dunia

“Lebih baik juga untuk menjual sesuatu yang kita tahu dan suka. Semua makanan yang saya jual itu tadinya yang saya suka beli, seperti empek-empek, sei sapi, bakso. Itu sebenarnya jualan dari produksi temen – temen yang tadinya saya beli ke mereka. Jadi pastikan kita suka dulu sama produknya, produknya enak dan bagus,” ujar Driana.

Dia pun menekankan pelaku UMKM harus kreatif dan inovatif. Selain itu selalu berani mencoba hal-hal baru, sehingga konsumen akan selalu datang kembali mencoba produk dari si penjual tersebut.

“Menghadapi dinamika kenormalan baru, kolaborasi juga menjadi bagian yang penting dalam UMKM demi menciptakan pertalian kuat dalam kreativitas sehingga bersama-sama dapat menggerakan produktivitas perekonomian,” tutup Celixa. */RHT

Komentar

News Feed