oleh

Keluarga Alm Kadis Capil Sayangkan Penanganan Covid di Buol

-Kab. Buol-dibaca 399 kali

SULTENG RAYA – Keluarga Almarhum (Alm) Kepala Dinas Catatan Sipil (Kadis Capil) Kabupaten Buol, Drs. Sukarno S. Tama, MM, menyayangkan penanganan COVID-19 di Kabupaten Buol.

Pasalnya, menurut istri Almarhum Sukarno S. Tama, Dra. Endang Mentemas, selama suaminya menjalani isolasi mandiri (Isoman) sejak terkonfirmasi positif COVID-19 sejak tanggal 2 Agustus 2021 sampai 10 Agustus 2021 tidak pernah mendapatkan pelayanan COVID-19 dari pihak kesehatan, maupun Satgas COVID-19.

Nanti setelah Almarhum suaminya meninggal pada 10 Agustus 2021, tiba-tiba pihak satgas datang meminta almarhum dibawa ke Rumah Sakit Umum Daerah Buol untuk ditangani proses pemakamannya secara protokol COVID-19, dengan alasan almarhum meninggal akibat COVID-19.

“Sebenarnya bapak meninggal kami tidak persoalkan, karena itu sudah takdir yang digariskan Allah SWT, yang kami sayangkan ini adalah kenapa selama bapak menjalani isolasi mandiri tidak pernah mendapatkan penanganan COVID-19, minimal dilihat atau dipantau dan diberi obat dan vitamin,” ujar Endang Mentemas, Sabtu (14/8/2021).

Almarhum sendiri sempat dua kali menjalani swab tes, pertama kali menjalani swab tes tanggal 29 Juli 2021, setelah ada salah seorang stafnya yang terkonfirmasi positif COVID-19. Saat menjalani swab itu, Almarhum dinyatakan negatif, namun terdapat tujuh stafnya yang lain terkonfirmasi positif.

Jelang lima hari kemudian, tanggal 2 Agustus 2021 kembali dilakukan swab (sesuai prosedur COVID-19), kali ini almarhum dinyatakan terkonfirmasi positif COVID-19.

Setelah dinyatakan terkonfirmasi positif, saat itulah Almarhum menjalani isolasi mandiri di rumahnya. Namun sayang kata istrinya, selama itu tidak mendapatkan penanganan COVID-19 dari pihak kesehatan maupun satgas COVID-19, hingga puncaknya pada Selasa (10/8/2021) malam pukul 20:00 wita almarhum dinyatakan meninggal di kediamannya.

Kata istri Almarhum, sempat terjadi ketegangan antara dirinya dengan satgas, mengingat satgas memaksakan agar Almarhum dibawa ke rumah sakit karena meninggal akibat COVID-19. Disisi lain, istrinya tidak menginginkan mayat suaminya dibawa ke rumah sakit, karena tidak pernah ditangani pihak kesehatan secara COVID-19 selama isolasi mandiri.

“Namun setelah berdebat, akhirnya mereka bilang fikti-fikti, keinginan keluarga kami ikuti, tapi keluarga juga harus mengikuti protokol COVID-19,” jelas Endang Mentemas.

Akhirnya, Endang mengirim tiga anggota keluarganya untuk memandikan almarhum di rumah sakit, serta mengkafani almarhum. Sekalipun setelah dikafani, almarhum dimasukkan ke dalam peti mati untuk dibawa ke kampung halamannya di Kecamatan Paleleh untuk dimakamkan.

Itupun kata Endang, Almarhum hanya diizinkan di salatkan di teras rumah oleh pihak kesehatan.

Sementara, Juru Bicara Satgas COVID-19 Kabupaten Buol, dr Arianto Panambang menjelaskan, jika satgas COVID-19 itu terdiri dari sejumlah pihak di dalamnya dan memiliki tugas masing-masing sesuai bidangnya.

Termasuk di dalamnya adalah dari pihak kesehatan, pihak kesehatan katanya juga terdistribusi kewenangannya, dimana wilayah kediaman Almarhum Drs. Sukarno S. Tama, MM masuk dalam kewenangan Puskesmas Biau.

“Jadi ini bukan dalam ranah pihak Rumah sakit Umum Daerah, karena terkonfirmasi postif dari hasil pemeriksaan di kantor beliau, dan juga beliau menjalani isolasi mandiri, dan alamat rumah beliau masuk dalam wilayah kerja Puskesmas Biau,” jelas Direktur Rumah Sakit Umum Daerah Buol.

Sebenarnya kata  Arianto, Almarhum sebelumnya tidak menunjukkan gejala yang parah, nanti pada Selasa (10/8/2021) di malam almarhum meninggal, tiba-tiba menunjukkan gejala yang parah dan pihak puskesmas baru menyiapkan ambulance untuk menjemput almarhum.

“Namun sayang, belum sempat ambulance datang menjemput, almarhum keburu meninggal,” jelas Ariyanto. ENG

Komentar

News Feed