oleh

Roll Out Picu Intensitas Literasi dan User BSI Mobile

-Ekonomi-dibaca 344 kali

Migrasi rekening eks-BRIS dan BNIS menuju layanan satu pintu pada Bank Syariah Indonesia (BSI) jadi ‘hajatan’ kedua terbesar pasca merger bank syariah pemerintah pada 1 Februari 2021 lalu.

RAHMAT KURNIAWAN / SULTENG RAYA

Proses roll out menjadi salah satu instrumen kunci dalam menyatukan skema pembiayaan yang selama ini masih berjalan pada ‘rel’ berbeda dengan keunggulan masing-masing. Maka dengan penyatuan itu, dipastikan pembiayaan dalam menyokong pembangunan ekonomi umat makin kuat dan lebih variatif pilihannya dalam satu kesatuan bernama Bank Syariah Indonesia.

Belum lagi, dari segi kelas Bank Umum Kelompok Usaha (BUKU) yang telah berada pada BUKU III membuat BSI makin leluasa melakukan ekspansi bisnis di Indonesia maupun mancanegara.

BSI saat ini memiliki Rp214 triliun asset, Rp157 triliun pembiayaan, Rp210 triliun Dana Pihak Ketiga (DPK), serta modal inti Rp22,6 triliun.

Namun, terlepas dari prospek cerah itu. Ada hal yang detail dan urgent di tingkat tapak (nasabah) berkenaan dengan proses migrasi tersebut yang tidak kalah penting untuk pengembangan bisnis BSI di nasional yakni instensitas literasi keuangan syariah dan percepatan kapabilitas digital BSI salah satunya dengan memanfaatkan instrumen mobile banking, BSI Mobile.

Di Kantor Area Palu saja, peningkatan literasi dan penambahan user begitu kentara. Posisi per 30 Juni 2021, 18.744 Number of Akun (NoA), secara YTD Growth 9.705 NoA atau 107,37 persen atas posisi Desember 2021 sebanyak 9.039 NoA. Sedangkan untuk user register, posisi Juni 2021 sebanyak 46,801 NoA.

Baca Juga :   Ajenkris: Kehadiran Alfamart Ciptakan Lapangan Kerja

Area Manager BSI Area Palu, Arif Gunawan mengatakan, proses roll out memang begitu berdampak terhadap peningkatan transaksi non tunai hingga user mobile banking. Tak lupa juga soal literasi keuangan syariah yang begitu berkembang di area kerja.

Khusus pada user BSI Mobile, kata dia, pertumbuhan level aktivasi dan penggunaan hingga 107,37 persen itu akan mengurangi mobilisasi transaksi dasar nasabah di kantor operasional. Di masa pandemi Covid-19, pengurangan kontak tatap muka begitu membantu pemerintah dalam upaya meminimalisasi penambahan kasus-kasus Covid-19.

Pada faktor literasi keuangan syariah, secara otomatis akan meningkatkan trust umat muslim terhadap produk-produk pembiayaan syariah di akomodasi BSI yang tentunya sesuai syariat  Islam yang diperbolehkan.

“Literasi tentunya sangat penting dan BSI berkomitmen menggaungkan pengetahuan terhadap keuangan syariah kepada nasabah sehingga tingkat kepercayaan dan keamanan dapat terjamin baik secara bisnis yang menguntungkan maupun secara agama,” kata Arif kepada Sulteng Raya, Rabu (21/7/2021).

Baca Juga :   BPR SMA Siap Komitmen Bangun Ekonomi di Tengah Pandemi

Di Region XI Makassar, sebagai teritori kerja BSI Area Palu sendiri  melakukan penyatuan dan integrasi sistem layanan secara bertahap pada 5 dan 19 April 2021 lalu dan telah sukses terlaksana dan menjadi roll model proses migrasi seluruh Indonesia. Hal tersebut sebagai wujud komitmen perusahaan mendorong pengembangan keuangan syariah dan meningkatkan literasi masyarakat di kawasan Timur Indonesia.

Sementara itu, RCEO Bank Syariah Indonesia (BSI) Region Office XI Makassar, Kemas Erwan Husainy, mengatakan, pada tahap migrasi di Area Palu menyebutkan rerata migrasi per hari di BSI Area Palu mencapai 2.000-an nasabah dari target keseluruhan sebanyak 117.000-an rekening.  

117.000 rekening itu juga, diklaim bakal mendapatkan edukasi keuangan syariah sehingga dapat mengetahui pelbagai instrumen dan pola-pola yang digunakan dalam melangsungkan bisnis syariah.

 “Semuanya pada periode ini, tapi mungkin yang berhalangan dalam kondisi tertentu tidak memungkinkan sama sekali untuk melakukan migrasi akan tetap terlayani diluar periode. Kami melakukan upaya tahap selanjutnya, yakni menghubungi nasabah, saat ini kan kami menunggu. Tapi setelah ini lewat, kita akan hubungi dengan daftar kontak yang ada,” ungkapnya.

Penyatuan sistem layanan di region XI Indonesia Timur ini mencakup migrasi rekening nasabah, kartu ATM hingga mobile dan internet banking. Direktur Utama BSI, Hery Gunadi dan beberapa jajaran direksi dan manajemen BSI langsung meninjau proses tersebut.

Baca Juga :   BPR SMA Siap Komitmen Bangun Ekonomi di Tengah Pandemi

Direktur Utama Bank Syariah Indonesia, Hery Gunardi mengatakan penyatuan integrasi sistem layanan harus berjalan dengan lancar dan optimal.

“Ini merupakan salah satu langkah merger operasional dan bisa mendukung layanan BSI berjalan lebih optimal,” kata Hery.

Hery menegaskan Sulawesi adalah salah satu pintu penting dalam integrasi sistem layanan BSI karena wilayah ini merupakan gerbang untuk melebarkan lini bisnis di Timur Indonesia.

“Sekaligus membuktikan bahwa perusahaan fokus pada pengembangan yang bersifat Indonesia sentris. Hadirnya BSI di wilayah ini dapat meningkatkan pangsa pasar keuangan syariah dan literasi masyarakat di kawasan Timur Indonesia,” imbuhnya.

Proses integrasi ini mengedepankan kenyamanan dan keamanan data nasabah. Selama proses penyatuan integrasi sistem layanan Hery memastikan nasabah tetap dapat melakukan aktivitas dan transaksi keuangan seperti biasa.

“BSI menargetkan pada 1 November 2021, seluruh jaringan Bank Syariah Indonesia bisa terintegrasi. Selain itu, sampai akhir 2021 sebanyak 100 persen dari total nasabah akan memiliki akun di sistem baru BSI,” kata Hery. ***

Komentar

News Feed