oleh

Prof Khairil Sebut Kaum Milenial Mudah Disasar Paham Radikalisme

SULTENG RAYA-  Akademisi Fisip Untad Prof. Dr. Muhammad Khairil. S.Ag., M.Si., mengatakan kaum muda atau milenial menjadi target yang paling mudah di sasar oleh kelompok radikalisme.

Menurutnya, hal itu disebabkan oleh tingkat kematangan emosi para kaum milenial yang masih labil, ditambah dengan pengetahuan yang terbatas, kemudian faktor lain seperti tingkat pendidikan yang relatif masih menengah.

“Dilihat dari kasus-kasus yang tejadi selama ini, bahwa usia para pelaku masih sangat muda, ini berartii milenial ini memang menjadi sasaran empuk, kenapa karena mereka dalam kategori labil, mudah untuk di masuki, mudah untuk dilakukan proses doktrinasi,”sebutnya. Selasa (6/4/2021).

Katanya, ketika dokrin sudah masuk, maka pola pikir seseorang itu umumnya sudah berubah, mulai dari rasa simpati, ketika simpati sudah datang maka muncul rasa empati, ditambah digugah emosinya melihat ketidak adilan, kezaliman, dan lain sebagainya, sehingga jika semua itu sudah disasar, maka menggerakkan mereka jadi mudah. “Maka terjadilah aksi-aksi seperti bom bunuh diri dan lain sebagainya, dan mungkin saja sudah banyak kaum muda milenial ini yang terekrut,” katanya menambahkan.

Baca Juga :   Lantik Para Wakil Dekan Fisip, Rektor Titip Pesan Hormati Dekan Sebagai Pimpinan di Fakultas

Selain itu kata dia, mahasiswa dan kampus juga tidak terhindarkan dari pengaruh buruk kelompok radikal tersebut, untuk itu kata dia perlu adanya sistem yang di bangun melalui komunikasi dan pemberian edukasi kepada para kaum muda dan milenial yakni mahasiswa.

Agar terhindar dari paparan ideologi radikalisme tersebut, melalui kegiatan Deradikalisasi, dan Pengembangan Sosio Akademik (Depsa) yang diberikan kepada para mahasiswa yang telah dipersiapkan untuk menjadi calon pemimpin lembaga atau organisasi di kampus.

“Sangat mungkin kampus dan mahasiswa disasar oleh kelompok ini, mereka melihat potensi kampus sangat besar melalui kajian, melalui diskusi-diskusi keagamaan, tidak hanya muslim tetapi agama diluar muslim pun berpotensi untuk melakukan hal yang sama, kita mencegah ini melalui kegiatan depsa, saat ini semua ketua lembaga kemahasiswaan itu wajib mengikuti program depsa tersebut untuk mendapatkan sertifikat, dari sertifikat itu mereka dinyatakan bisa menjadi pimpinan lembaga kemahasiswaan,” katanya.

Baca Juga :   Akbid Cendrawasih Buka Perkuliahan Tatap Muka Awal Mei

“Kita harus mewaspadai gerakan itu, caranya membangun komunikasi dengan kaum milenial, di tingkat sosio keluarga, lingkungan sekolah, dan lingkungan mereka bergaul , akan sangat penting hal itu, karena rentan sekali kaum muda ini karena keterbatasan pengalaman dan pengetahuan dan juga pemahaman mereka terhadap nilai nilai keagamaan,” katanya menambahkan.

Untuk itu dirinya mengajak pemerintah bersama dengan masyarakat untuk bersinergi bersama, menyelamatkan generasi milenial ini dari paham-paham radikalisme yang mengancam kehidupan berbangsa dan bernegara.

“Ini menjadi tugas kita bersama untuk bersinergi menghilangkan paham yang patah pensil menggunakan teori pokoknya, ini yang kita upayahkan berubah minimal mereka memiliki pemahaman yang rasional dan pluralis,”ucap mengakhiri.JAN

Baca Juga :   Rektor Harap Dosen dan Pegawai Untad Salurkan Zakat Lewat UPTZ

Komentar

News Feed