oleh

Lubang PETI Buranga Makan Korban, Enam Penambang Tewas Tertimbun Lumpur

SULTENG RAYA – Lubang Penambangan Emas Tanpa Izin (PETI) di Desa Buranga, Kecamatan Ampibabo makan korban. Enam penambang tewas dan tiga lainnya luka-luka akibat material yang longsor pada Rabu sore (24/2/2021) sekitar pukul 18.15 WITA.

Satu penambang lainnya atas nama Maskam, warga Desa Tomoli Selatan, Kecamatan Toribulu masih dalam proses pencarian. Proses evakuasi korban telah dilakukan sejak Rabu malam hingga Kamis (25/2/2021).

Adapun korban tewas akibat kejadian tersebut adalah Lisnawati (30 tahun) warga Desa Lemo Utara Kecamatan Ampibabo, Adriana Lapaente (24 tahun) dan Fitri (17 tahun) keduanya warga Desa Tombi Kecamatan Ampibabo.

Ketiga korban tersebut berhasil dievakuasi pada Rabu malam. Tiga korban tewas lainnya adalah, M Jawir (42 tahun) warga Desa Tombi berhasil dievakuasi pada Kamis (25/2/2021) kemarin sekitar pukul 12.51 Wita, Yanti Ngambas (42 tahun) warga Desa Tombi yang merupakan istri dari M Jawir berhasil dievakuasi pukul 13.42 Wita dan Alimuddin (39 tahun) ber-KTP Nabire namun berdomisili di Desa Sidole dievakuasi pukul 14.50 Wita.

Sebelum diserahkan kepada keluarganya, seluruh korban meninggal dibawa ke Puskesmas Ampibabo untuk dibersihkan diindetifikasi sebelum diserahkan kepada keluarganya.

Baca Juga :   Kepala BKPSDM Parmout Akui Keliru Lakukan Pergeseran Pejabat

Kapolres Parigi Moutong (Parmout), AKBP Andi Batara Purwacaraka, SH, SIK mengatakan, proses evakuasi itu dilakukan oleh tim gabungan yang terdiri personil Polres Parmout, 60 orang, TNI 10 orang, Basarnas 13 orang, BPBD Sulteng 11 orang, BPBD Parmout tujuh orang, Tagana Parmout 11 orang dan PMI enam orang. Selain itu juga ikut bergabung dalam proses evakuasi adalah SAR Songulara lima orang, Vertical Rescue lima orang dan SAR Mar Team tiga orang. Juga ikut bergabung warga setempat.

“Jumlah keseluruhan korban 23 orang, yang selamat 16 orang yang meninggal dunia dan berhasil kita evaluasi enam orang dan masih dalam pencarian satu orang. Yang mana setelah ini kita akan melaksanakan kegiatan evakuasi untuk pencarian satu korban lainnya, namun akan dilakukan maping dulu berdasarkan informasi dari pihak keluarga yang telah melakukan pengaduan di posko pengaduan,” ujar Kapolres didampingi Kepala Basarnas Sulteng, Andrias Hendrik pada jumpa pers di lokasi kejadian, kemarin.

Lanjut Kapolres, menurut keluarganya, korban yang belum ditemukan itu memang datang lokasi tersebut dan beberapa saksi melihatnya melakukan aktivitas penambangan di lokasi itu sekitar pukul 16.50 wita.

Baca Juga :   Kepala BKPSDM Parmout Akui Keliru Lakukan Pergeseran Pejabat

Kapolres juga menyatakan, sesuai SOP, proses pencarian korban yang dilakukan selama tujuh hari, namun bila korban sudah ditemukan sebelum hari ketujuh, maka proses pencarian akan dihentikan. Sebaliknya jika korban tidak ditemukan dalam waktu tujuh hari, maka korban akan dinyatakan hilang.

“Kita berdoa semoga korban segera ditemukan. Kita juga berharap dari pihak keluarga tiba-tiba mungkin korban selamat pada saat kejadian segera diinformasikan kepada kami,”harapnya.

Kapolres mengungkapkan, kejadian longsor  tersebut  terjadi sekitar pukul Rabu malam sekitar 18.15 Wita disaat  sejumlah masyarakat sedang melakukan kegiatan pendulangan di dinding lubang sehingga terjadi longsor.

Ditanya langkah kepolisian pasca kejadian itu, Kapolres menegaskan, setelah proses evakuasi selesai, pihaknya bersama pihak Polda akan melakukan proses terhadap kegiatan tambang itu, baik kepada pemilik alat termasuk yang membiayai kegiatan tambang illegal tersebut.

“Alat ini (eksavator,red) akan kita sita dan akan kita laksanakan kegiatan lidik, sesuai tahapannya akan kita naikkan ke sidik,”jelasnya.

Terkait aparat desa dan kecamatan yang memberikan kegiatan tambang tersebut, Kapolres mengatakan juga diproses melalui penyelidikan dan penyidikan.

Baca Juga :   Kepala BKPSDM Parmout Akui Keliru Lakukan Pergeseran Pejabat

Ditanya apakah tambang tersebut akan ditutup atau tidak, Kapolres menyatakan, setelah kejadian itu dan jika tambang itu illegal, maka kegiatan tambang tersebut akan terhenti.

“Kalau seandainya ditutup, tidak ada yang ditutup sebenarnya. Dia akan berhenti secara otomatis apabila sudah tindak lanjuti baik proses lidik maupun sidik,”pungkasnya.  

Sementara itu juga, Ketua DPRD Parmout  Sayutin Budianto kembali menegaskan, siapa pun pengelola atau penggiat pertambangan ilegal tersebut, harus bertanggungjawab penuh atas kejadian itu termasuk memberikan santunan kepada korban.

Pantauan wartawan Koran ini, proses evakuasi para korban berlangsung dramatis. Pasalnya kegiatan evakuasi yang dimulai sejak pukul 07.00 wita baru membuahkan hasil dengan evakuasi korban pertama pukul 12.51 Wita. Kesulitan proses evakuasi itu karena ada korban yang terhimpit batu besar. Batu besar tersebut baru bisa dipindahkan menggunakan eksavator. Ratusan warga juga ikut menyaksikan proses evakuasi tersebut. Bahkan ada keluarga korban menangis histeris dan pingsan setelah keluarganya berhasil dievakuasi. AJI 

 

Komentar

News Feed