oleh

Arifudin: Pelibatan Mahasiswa Mengajar Jadi Peluang Asah Kompetensi

SULTENG RAYA-Akademisi Fakultas Tarbiyah Ilmu Keguruan (FTIK) Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Palu, Dr Arifudin M Arif mengemukakan kebijakan Menteri Nadiem Makarim melibatkan mahasiswa mengajar di daerah tertinggal, menjadi peluang besar bagi perguruan tinggi untuk mengasah dan meningkatkan kompotensi mahasiswa.

“Kebijakan Mas Nadiem Makarim sangat membantu pihak perguruan tinggi negeri ataupun swasta untuk meningkatkan kompetensi lulusan di bidang pendidikan dan pengajaran,” ucap Dr Arifudin M Arif,  Kamis (11/2/2021).

Dr Arifudin M Arief yang juga sebagai Kepala Pusat Pengendalian Mutu Akademik IAIN Palu mengatakan, kebijakan Kemendikbud dalam program pelibatan mahasiswa, bisa menjadi satu solusi untuk mengisi kekosongan guru di daerah tertinggal.

Selain itu, kebijakan itu, kata dia, memberikan keuntungan sekaligus menjadi peluang bagi perguruan tinggi negeri dan swasta, yang mempunyai fakultas atau jurusan yang berkaitan dengan pendidikan, keguruan dan pengajaran seperti Fakultas Tarbiyah dan Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan.

Baca Juga :   Tingkatkan Kompetensi Tik Guru, Kemendikbud Kembali Luncurkan Bimtek PembaTIK 2021

Karena itu, kebijakan Kemendikbud itu bisa dimanfaatkan oleh perguruan tinggi untuk meningkatkan kompetensi mahasiswa atau kompotensi lulusan, juga sebagai bentuk melatih calon tenaga pendidik yang terlatih dan profesional dan kompoten dalam mengajar.

Bahkan, menurut Arifudin, program itu oleh perguruan tinggi idealnya bisa disinkronkan dengan beberapa program yang sudah ada di perguruan tinggi seperti PPL dan KKN yang di dalam pelaksanaan PPL dan KKN mahasiswa dari FKIP atau Fakultas Tarbiayah juga dituntut untuk mengajar.

“Apalagi program ini bisa disetarakan dengan 12 SKS, saya kira sangat relevan. Misalnya di Fakultas Tarbiyah atau FKIP ada beberapa mata kuliah yang bisa diformulasi dan diakumulasi dalam konteks 12 SKS itu, seperti mata kuliah media pembelajaran, perencanaan pembelajaran, metodologi pembelajaran dan praktik pembelajaran, bisa diformulasi sehingga bobot SKS nya mencapai 12.

Baca Juga :   SD di Palu Mengisi Ramadhan dengan Tadarus

“Keuntungannya ialah paradigma pembelejaran dan penguatan komptensi yang berkaitan dengan mata kuliah itu, langsung dengan pendekatan lapangan. Sehingga penguatan-penguatan teoritisnya juga sangat bisa secara mandiri dilakukan oleh mahasiswa tinggal dibimbing oleh dosen pendamping,” tambahnya.

Olehnya, Arifudin mengatakan bahwa program pelibatan mahasiswa mengajar di daerah tertinggal sangatlah positif.

Namun, akui dia, ada tantangan bagi perguruan tinggi yaitu melakukan redesain kurikulumnya untuk sinkronisasi SKS, dan kebijakan akademik lainnya. “Ketika redesain itu bisa dilakukan, maka ini sangat relevan dengan konsep merdeka belajar,” kata Arifudin.*/ENG

Komentar

News Feed