oleh

BI Sulteng Kembangkan Pilot Project Urban Farming

SULTENG RAYA – Pandemi Covid-19 secara tidak langsung memberikan dampak ekonomi  bagi masyarakat. Dampak tersebut juga dialami Sri Lestari, ibu rumah tangga yang berdomisili di Lorong Sintuwu I, Kelurahan Lolu Utara, Palu Timur, Kota Palu.

Sri Lestari sehari-hari mengadalkan nafkah dari suami yang berprofesi sebagai tukang parkir mengaku penghasilannya surut selama pandemi Covid-19.

“Kondisi tersebut mengharuskan saya harus membantu suami mencari sumber penghasilan baru untuk menghidupi keluarga dan menyekolahkan anak”, ujar Sri Lestari.

Dalam rangka meningkatkan penghasilan masyarakat, serta sebagai salah satu upaya dalam penanggulangan inflasi volatile food, Kantor Perwakilan Bank Indonesia Prov. Sulawesi Tengah (KPwBI Sulteng) berinisiasi mendorong implementasi urban farming melalui Program Sosial Bank Indonesia (PSBI) pada kelompok masyarakat perkotaan di Lorong Sintuwu I di Kelurahan Lolu Utara, Kota Palu sebagai pilot project.

KPwBI Sulteng memberikan bantuan berupa rangkaian hidroponik yang merupakan salah satu metode dalam budidaya menanam dengan memanfaatkan air dengan menekankan pada pemenuhan kebutuhan hara nutrisi bagi tanaman tanpa media tanah.

Baca Juga :   Pimpinan BRI Palu Kunjungi Percetakan Tri Media Grup

Kebutuhan air pada hidroponik lebih sedikit daripada kebutuhan air pada budidaya dengan tanah, serta tentunya dapat dilakukan pada lahan yang terbatas. Bantuan yang diberikan antara lain Hidroponik sistem Deep Flow Technique (DFT) 50 set, sistem Nutrient Film Technique (NFT) 200 titik 2 set, sistem fertigasi 15 set, Green House Produksi dan taman edukasi.

Program ini diharapkan dapat menjadi alternatif sumber pemasukan baru serta menjadi pemenuhan kebutuhan konsumsi masyarakat, melalui budidaya hortikultura dan komoditas inflasi volatile food lainnya seperti tanaman cabai, tomat, bawang merah, kangkung, sawi dan sejenisnya.

Pemanfaatan hidroponik melalui Program Sosial Bank Indonesia kini dirasakan oleh keluarga Ibu Sri Lestari.

“Saya awalnya ragu dengan menanam menggunakan hidroponik karena tidak punya pengetahuan yang memadai, tapi saat kami diberi pelatihan oleh Bank Indonesia Sulteng, kami merasakan manfaat yang banyak karena kegiatan menanam menjadi produktif. Dari ilmu yang diberikan, kami bersama-sama mengelola hidroponik di rumah dan di green house untuk dapat memenuhi kebutuhan sayur sehat konsumsi keluarga, mengembangkan bantuan yang diberikan dan menjadi penghasilan untuk keluarga,” ujar Sri Lestari.

Baca Juga :   Rentan Pergaulan Bebas, Keluarga Harap Proaktif Awasi Remaja

Sementara itu, Lurah Lolu Utara, Nanda mengaku  program hidroponik sudah lama diharapkan oleh untuk membantu masyarakatnya agar lebih produktif.

“Program hidroponik dari Bank Indonesia ini merupakan salah satu cara meningkatkan produktivitas dan kegotongroyongan masyarakat. Hasil panen hidroponik dimanfaatkan sebagai konsumsi masyarakat dan dijual untuk menambah pendapatan rumah tangga,” ungkapnya.

Berdasarkan informasi yang dihimpun dari anggota kelompok, konsumen bukan hanya dari dalam Kota Palu melainkan juga dikirim ke Kabupaten Tolitoli.

Setiap masa panen, kelompok memperoleh penghasilan ±Rp8.000.000,00 yang kemudian dibagikan kepada anggota kelompok dan disisihkan untuk kas.

 

Tentunya dalam mensukseskan program tersebut, KPwBI Sulteng bersinergi dengan komunitas Peduli Hidroponik Kota Palu untuk turut mendampingi dan memberikan edukasi terkait proses pemanfaatan hidroponik, mulai dari pemilihan bibit, proses persemaian, penyediaan media tanam, proses pindah tanam, pemeliharaan tanaman pada media hidroponik, pemupukan, proses panen sampai pasca panen.

Baca Juga :   BNNP Sulteng Sosialisasi P4GN di Kemenkumham Sulteng

Belum berakhir sampai disitu saja, melalui kerjasama yang telah dilakukan komunitas Peduli Hiroponik Kota Palu telah komitmen untuk membantu dari sisi pemasaran dan penjualan hasil panen. Masyarakat pun menjadi lebih aware untuk selalu menjaga kebersihan di lingkungan dan mengolah sampah plastik menjadi produk yang bernilai (menuju go green). Rencana kedepannya, KPwBI Sulteng dengan dukungan stakeholder terkait, akan mendorong lingkungan urban farming di Kelurahan Lolu Utara menjadi project percontohan lingkungan cashless society di Kota Palu dengan memanfaatkan Quick Respons Indonesian Standard (QRIS) sebagai sistem pembayaran nontunai. Upaya tersebut tentunya sebagai upaya pencegahan penularan COVID-19 melalui uang tunai, meningkatkan literasi keuangan digital bagi masyarakat dan sebagai bentuk penyesuaian transformasi sistem pembayaran diera digital saat ini. Kemudian dari sisi pemasaran, KPwBI Sulteng pun akan berupaya untuk meningkatkan akses pemasaran produk kelompok melalui sinergi dengan marketplace lokal dan korporasi pasar modern di Sulawesi Tengah.*/WAN

Komentar

News Feed