oleh

Peduli Sulbar, Unismuh Palu Galang Bantuan

SULTENG RAYA- Sebagai bentuk kepedulian atas musibah yang menimpa masyarakat Sulawesi Barat, Rektor Unismuh Palu, Dr. Rajindra, SE., MM memerintahkan unit kebencanaan yang dimiliki Unismuh Palu, yakni Unit Kebencanaan Sintuvu bekerjasama dengan sejumlah lembaga lainnya yang ada di Unismuh Palu untuk melakukan respon atas musibah di Bumi Manakarra itu.

Melalui lembaga itu, keluarga besar sivitas Unismuh Palu diharapkan dapat mengisihkan sebagian rejekinya, baik berupa uang tunai, selimut, kebutuhan bayi (susu dan pokok), beras, mie, dan lain-lainnya untuk nantinya disalurkan ke masyarakat yang terdampak bencana gempa bumi. “Dikumpulkan di kampus, atau dijemput oleh tim yang ada, lalu diserahkan ke saudara kita yang terdampak di Sulbar,” sebut rektor. Ahad (17/1/2021).

Rektor berharap, bantuan keluarga Sivitas Unismuh itu nantinya dapat disalurkan bersamaan dengan bantuan lainnya yang disalurkan oleh Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) Sulteng.  Mengingat lembaga ini beberapa hari terakhir terus memasok bantuan ke lokasi bencana di Sulbar.“Ini kedua kalinya sudah bantuan MDMC berangkat, selain hari pertama itu. Kita berharap, dalam beberapa hari kedepan, bantuan Civitas Unismuh bisa diberangkatkan bersama dengan bantuan dari MDMC,” ujar rektor.

Baca Juga :   Usai Vaksinasi, Kepsek Berharap Sekolah Segera Dibuka

Perlu diingat kata rektor, saat Sulawesi Tengah, khususnya Palu, Donggala, dan Sigi tertimpa musibah 28 September 2018 silam, masyarakat Sulawesi Barat, termasuk yang pertama kali datang mengulurkan tangannya membantu masyarakat Sulawesi Tengah. Saat ini kata rektor, mereka tengah dilanda musibah, tentu mereka juga sangat membutuhkan bantuan.

“Saya menyaksikan betul, di hari-hari awal musibah itu, bantuan dari Masyarakat Sulbar yang pertama kali datang ke Kampus Unismuh, dan berposko di kampus untuk membantu para korban bencana,”sebut rektor.

“Sebagai orang yang memiliki pengalaman perna dilanda musibah yang begitu hebat, sudah perna merasakan bagaimana kondisi ditengah musibah. Kini giliran kita membantu saudara kita yang tengah dilanda musibah,”sebut lagi.   

Baca Juga :   Kemendikbud Luncurkan Program Guru Belajar

Sebagai mana diketahui, Sulawesi Barat telah diguncang gempa hebat, berturut-turut berawal dari hari Kamis (14/1/2021) pukul 13.35 Wita, dengan kekuatan magnitudo 5,9 SR, disusul gempa utama (mainshock) dengan magnitudo 6,2 SR, dini hari pukul 2.28 Wita, Jumat ( 15/1/2021), masyarakat merasakan getaran hebat selama 5-7 detik.

Akibatnya terdapat empat wilayah terdampak berdasarkan peta sebaran populasi di area III-VI MMI yaitu Kabupaten Majene, Kabupaten Mamuju, Kabupaten Mamasa, dan Kabupaten Polewali Mandar. Dari musibah itu, sejumlah rumah warga, termasuk infrastruktur milik pemerintah rusak parah, serta menelan korban jiwa 46 orang, dan  ratusan luka-luka.

Kepala Pusat Data Informasi dan Komunikasi Bencana BNPB Raditya Jati mengumumkan korban tewas terbanyak tercatat berasal dari Kabupaten Mamuju, yakni 37 orang. Sembilan korban tewas lainnya berasal dari Kabupaten Majene.

Baca Juga :   P3K2 UNTAD, Sosialisasikan Program Holistik Pembinaan dan Pemberdayaan Desa

Untuk Majene, tercatat sebanyak 15 ribu warga mengungsi. Mereka disebar dalam 10 titik pengungsian yakni Desa Kota Tinggi, Desa Lombong, Desa Kayu Angin, dan Desa Petabean.

Lalu di Desa Deking, Desa Mekata, Desa Kabiraan, Desa Lakkading, Desa Lembang, Desa Limbua di Kec. Ulumanda dan Kec. Malunda serta Kec. Sendana.

Sebanyak 826 orang tercatat luka-luka akibat gempa, per Sabtu (16/1/2021) sore. Rinciannya, 12 orang mengalami luka berat, 200 orang dengan luka sedang, dan 425 orang luka ringan.

Kemudian, di Mamuju selain korban jiwa, juga dilaporkan 189 orang mengalami luka berat yang sedang dirawat inap. Pemerintah menyediakan 5 titik pengungsian di Kecamatan Mamuju dan Kecamatan Simboro. CNN/ENG

Komentar

News Feed