oleh

Moh Rosni: Cegah Anak Stunting, Hindari 4T!

SULTENG RAYA – Stunting menjadi salah satu pekerjaan rumah mendapat perhatian serius di Sulawesi Tengah. Pasalnya, Sulteng masuk 10 besar dengan angka stunting tertinggi di Indonesia.

Kepala Bidang Advokasi, Pergerakan dan Informasi (Adpin) Perwakilan  Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Sulteng, Muhammad Rosni, menjelaskan, stunting adalah kondisi kekurangan gizi kronis atau berkepanjangan pada anak. Stunting menyebabkan fisik anak mengalami kekerdilan. Tumbuh tidak ideal dibandingkan anak seusianya. 

Menurutnya, dalam program Pembangunan Keluarga, Kependudukan dan Keluarga Berencana (Banggakencana), pencegahan stunting digelorakan melalui gerakan menghindari 4T, yakni jangan terlalu muda, jangan terlalu tua, jangan terlalu rapat dan jangan terlalu banyak.

“Artinya tinggi dan besar anak bersangkutan tidak sama dibandingkan dengan anak seusianya. Stunting Itu juga akan berdampak pada perkembangan otak anak ke depan, sehingga kita selalu imbau agar menghindari 4T, artinya hamil jangan terlalu muda, terlalu tua, terlalu rapat jarak anak dan tentunya jangan terlalu banyak anak,”jelas Moh Rosni, Selasa (15/12/2020).

Baca Juga :   Penangkapan Sabu 250 Gram, Polda Sulteng Sita Aset Tersangka Rp10 Miliar

Ia mengatakan, masalah stunting dipengaruhi banyak faktor, baik karena budaya ataupun kesalahan pola asuh. Hal itu bisa terjadi karena dampak dari pelanggaran 4T sebagai penyebab anak stunting.

“Generasi muda yang merencanakan pernikahan sebaiknya jangan terlalu mudah usia karena banyak risikonya. Usia muda dalam konteks ini adalah perempuan umur antara 16 sampai 18 tahun atau 20 tahun ke bawah,” jelasnya.

Dari sisi fisik, kata dia, rentang usia itu belum matang dan siap untuk melakukan kontak fisik suami istri. Akibatnya, bisa berdampak pada janin dikandungnya.

“Kalau masalah fisik belum siap, rahim masih posisi rawan. Pengaruhnya ketika melahirkan maka kondisi alat reproduksinya belum berkembang secara normal. Akibatnya pada saat melahirkan bisa mengalami pendarahan,” paparnya.

Sementara dari sisi mental, usia mudah belum siap memberikan pola pengasuhan optimal kepada anak.

“Mentalnya belum siap sehingga pola pengasuhan yang diberikan anaknya tidak sesuai pola normal, karena belum memahami benar bagaimana pola pengasuhan normal pada umumnya,”katanya.

Baca Juga :   Kepsek Watusampu Optimis Ikut PSP

Terlebih saat ini generasi muda banyak menghabiskan waktu dengan gadget sambil begadang. Kebiasaan itu bisa menyebabkan anak dalam kandungan mengalami anemia.

“Inilah salah satu penyebab bisa terjadi kekurangan gizi sejak dari kandungan sampai nanti pada tahap dilahirkan sampai 1.000 HPK (hari pertama kehidupan),” urainya.

Kemudian, kata dia, jangan terlalu tua saat melahirkan karena bisa berdampak baik terhadap ibu maupun anak. Rentang usia terlalu tua adalah 30 tahun ke atas. Alat reproduksi dalam usia itu juga sudah rentan.

“Agak tua lebih rawan lagi. Terlebih jika ada indikasi tekanan darah, maka pada saat melahirkan bisa menyebabkan penyempitan pembuluh darah. Sangat rawan ke janin yang dikandung,” katanya.

Selanjutnya, jangan terlalu dekat jaraknya untuk melahirkan, karena kondisi itu juga sangat bahaya dampaknya baik bagi ibu dan anak. Misalnya, kata dia, tahun ini baru saja melahirkan, lalu tahun depannya lagi kembali melahirkan.

Baca Juga :   Gubernur Sulteng Lantik Lima Kepala Daerah Terpilih

“Bisa dibayangkan seorang anak sudah pasti tidak tercukupi asupan gizinya. Dalam budaya dan agama menganjurkan pengasuhan anak normalnya sampai dua tahun sebagai ukuran 1000 hari pertama,”sambung Rosni.

Budaya dan agama tambah dia sudah menganjurkan bahwa pengasuhan anak harus dicukupkan sampai umur 2 tahun melalui pemberian ASI yang penuh nutrisi. Pemberian ASI sangat penting karena dalam usia itu anak belum bisa memakan apapun, maka nutrisi itu harus dipenuhi melalui asi.

“Kalau setiap tahun melahirkan,   maka bisa terhenti pengasuhan pemberian nutrisi lengkap dari ibu. Ini bisa berdampak kekurangan gizi dan menyebabkan stunting,”jelasnya lagi.

Berikutnya jangan terlalu banyak anak. Rosni menyebut, terlalu banyak anak sangat rentan terhadap pemenuhan gizi anak. Dari sisi kuantitas, 2 anak lebih baik dari pada 3 anak. Jumlah anak yang lebih sedikit memudahkan orang tua memenuhi asupan gizi anak.

“Intinya hindari 4 terlalu ini karena erat kaitannya dengan penyebab masalah stunting,” pungkasnya. HGA

Komentar

News Feed