oleh

Rafael Rindu Bertemu Teman-Teman dan Ibu Guru

SULTENG RAYA – Sejak mewabahnya pandemi Covid- 19 di Indonesia pada awal Maret 2020, sekira tanggal 4 Maret 2020 oleh kementerian pendidikan, sekolah mulai jenjang TK/PAUD hingga perguruan tinggi diliburkan serentak. Sama halnya di kota Palu, sejak itu aktivitas di luar rumah menjadi sepi diganti sekolah dari rumah dan kerja dari rumah (Work of Home).

Laporan: Helmy Jatmika

Rafael menuturkan kalau dirinya lebih senang untuk bersekolah tatap muka. Menurutnya, sekolah di rumah, dia tidak konsentrasi belajar karena harus bermain dengan adiknya yang berusia satu setengah tahun dan juga tidak mendapat uang jajan dari ibunya.

“Kalau pergi sekolah, mama selalu berikan uang jajan tetapi karena belajar dari rumah, saya sudah tidak ada uang jajan lagi karena mama selalu membelikan snack kalau pulang kerja”, ucapnya.

Baca Juga :   Rektor Pantau Jalannya UTBK-SBMPTN di Tiga Lokasi

Rafael mengakui dia pernah bermimpi supaya libur sekolah kalau boleh 2 bulan, sehingga dia punya waktu yang banyak untuk bermain dan pergi ke luar kota mengunjungi keluarganya di kampung.

Tetapi libur sekolah yang sudah hampir sepuluh bulan ini, Rafael sudah merasa bosan dengan rutinitasnya.

Dia menginginkan sekolah tatap muka mulai dilaksanakan lagi karena bermain dengan teman sekolah dan belajar bersama ibu guru dan teman berbeda jika dilakukan di rumah.

Di awal Maret 2020, ketika dinyatakan libur sekolah dan diganti dengan belajar jarak jauh dari rumah, bukannya membuat anak-anak senang tetapi rasa ketakutan juga mulai menghantui, jika mereka akan terkena virus yang mematikan ini.

Hal yang sama dirasakan Rafael Kurnia Seak, berusia delapan setengah tahun adalah anak kedua dari tiga bersaudara ini, merasa ketakutan saat mengetahui virus corona sudah mewabah dikota Palu.

Baca Juga :   Gunakan Jasa “Joki” Untad Diskualifikasi Satu Peserta UTBK SBMPTN 2021

 “Saya senang sekali libur, tetapi saya juga sedih karena tidak bisa bermain dengan teman-teman karena harus menjaga jarak agar tidak terjangkit Covid-19 ini”, kata Rafael.

Namun seiring dengan waktu, Rafael sudah tidak merasakan ketakutan lagi karena menurutnya dia rajin berolahraga pagi, menjemur di bawah terik matahari pagi, rajin cuci tangan, memakai masker saat bermain di luar rumah serta rajin makan sayuran dan buah-buahan.

Rafael yang kini duduk di bangku kelas 3 Sekolah Dasar bercerita kalau dirinya merasa kesusahan belajar di rumah karena kedua orang tuanya bekerja dan biasanya nenek atau kakaknya yang mengajari. Namun, tetap dia merasakan cara berbeda jika ibu guru di sekolah yang mengajarinya. Karena belum memiliki android sendiri, Rafael mengikuti jadwal belajar sesi sore/malam mulai pukul 18.00 wita hingga 21.00 wita.

Baca Juga :   Usai Dilantik, Rajindra Serukan Persatuan

Sebelum ibunya ke kantor, Rafael tidak lupa untuk absen secara virtual dan mencatat tugas yang diberikan ibu guru lalu mengerjakannya, dan jika ada kesulitan dalam mengerjakan tugas, Rafael harus menunggu ibunya pulang kerja.

Untuk mengusir kejenuhan di rumah, Rafael biasanya meminjam handphone kakaknya untuk bermain game online free fire. Seperti itulah keseharian Rafael selama sekolah daring (dalam jaringan) di masa pandemi Covid-19. Namun hal itu membuatnya merasa bosan dan terbesit dipikirannya agar pandemi ini segera berakhir dan dirinya kembali bersekolah seperti sedia kala ketemu dengan ibu guru dan temannya.

Rafael rindu bermain bola bersama teman-temannya di lapangan sekolah dan juga makan bersama saat waktu istirahat tiba. ****

Komentar

News Feed