oleh

BKIPM Dorong Hasil Perikanan Harus Terjamin Mutu dan Keamanan

SULTENG RAYA – Kepala Badan Karantina Ikan Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan (BKIPM), Rina, mengatakan, untuk meningkatkan keberterimaan hasil perikanan Indonesia di pasar internasional, maka hasil perikanan terlebih dahulu harus terjamin mutu dan kemanannya.

“Mengapa harus mementingkan sistem penjaminan mutu dan keamanan? Karena, saat ini tuntutan jaminan mutu dan keamanan hasil perikanan secara internasional semakin meningkat, adanya kasus penolakan hasil perikanan di Negara tujuan ekspor dan hasil inspeksi Negara mitra,” kata Rina, dalam Seminar Nasional tentang Akselerasi Ekspor Produk Perikanan di Masa Pandemi Covid-19, di STPL Palu, Sabtu (14/11/2020).

Sehingga, kata dia, untuk solusi dari permasalahan tersebut, kata dia, melakukan pemenuhan persyaratan mutu dan keamanan hasil perikanan dari hulu ke hilir.

Baca Juga :   Besok, STISIP Panca Bhakti Palu Gelar Wisuda ke-19

Sementara itu, untuk potensi penyebab teknis kasus penolakan 2008-2020, yaitu adanya logam berat seperti merkuri, timbal dan cadmium, bakteri salmonella, mikrobiolgi seperti coliform, mesophyl aerobic dan optional anaerbic microorganism, adanya histamin, poor temperature control, decompose, filth dan E-316 sodium erythorbate atau bahan tambahan pangan.

“Dengan memperhatikan potensi penyebab teknis kasus penolakan, maka kiranya kita dapat meningkatkan jaminan mutu dan keamanaan kita,” ujarnya.

Penyebab kasus penolakan, kata dia, karena adanya penerapan sistem sanitasi dan higiene yang tidak konsisten. Kemudian, kurang diterapkannya sistem rantai dingin selama proses produksi, tidak terkendalinya suhu selama proses distribusi, mutu bahan baku rendah dan tidak terkendali dalam sistem rantai dingin, serta BTP E-316 digunakan untuk produk ikan pengawet dan semi pengawet bukan untuk produk cephalopod.

Baca Juga :   Izin Tinggal Penyintas di Huntara Poboya Sampai Bulan Depan

“Bahkan, kita mempunyai persoalan dengan adanya Covid-19 saat ini, seperti Negara Cina yang mengecek semua produk masuk, jika ditemukannya jejak Covid maka akan ditolak oleh mereka,” jelasnya.

Saat ini, untuk jenis produk banyak dikeluarkan yaitu tuna, tuna-like, bonito, cephalopod, octopus, shrimp, frozen fish, baby clam, cobia dan flying fish roe.

Oleh karnanya, untuk tindaklanjut dalam rangka peningkatan keberterimaan produk di pasar internasional, maka harus ada kerja sama dalam rangka memperkuat komitmen keterlibatan Pemerintah, institusi ilmiah atau pendidikan dan pelaku usaha, adanya peningkatan kapasitas Sumber Daya Manusia (SDM), serta  laboratorium penguji mutu dan keamanan hasil perikanan.

Selanjutnya, kerja sama peningkatan kapasitas laboratorium penguji mutu dan keamanan hasil perikanan, kerja sama peningkatan kapasitas laboratorium penguji penyakit ikan dan kerjasama internasional dalam rangka peningkatan keberterimaan di Negara mitra.

Baca Juga :   Disperdagin Bersama Dinkes Bagi-bagi Masker di Pasar Lasoani

Senada, Kepala Stasiun Karantina Ikan, Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan (SKIPM) Palu, Khoirul Makmun, mengatakan, dengan adanya seminar nasional tersebut, dapat memberikan manfaat besar dalam meningkatkan pemahaman komprehensif tentang sistem jaminan mutu dan keamanan hasil perikanan.

“Dengan harapan, terjadi peningkatan keberterimaan produk perikanan Indonesia pada pasar internasional,” katanya.ULU

Komentar

News Feed