oleh

Sepanjang 2020, Bulog Sulteng Serap 14.185 Ton Beras Petani

SULTENG RAYA – PT Perum Bulog Kantor Wilayah Sulawesi Tengah hingga akhir Oktober 2020 ini, mencatat telah menjalankan program penyerapan beras dalam negeri dengan membeli hasil panen petani lokal Sulteng sebanyak 14.185 ton.

Pimpinan Wilayah Bulog Kanwil Sulteng, Basirun, mengatakan, besaran tersebut masih berpotensi bertambah seiring dengan musim panen pada November 2020 mendatang di beberapa daerah sentra serapan Sulteng.

Ia memproyeksikan, hasil penyerapan final sepanjang 2020 nanti berada di kisaran 80 persen ke atas.

“Akhir Oktober 2020 ini, data terakhir Senin (26/10/2020), realisasi seluruh Sulteng dari target 20.000 ton, tercapai 14.185 ton atau 71 persen. Capaian ini kita masih terus berupaya meningkatkan, karena dibeberapa daerah sentra serapan masih ada panen seperti di Toili, Parigi, dan Pantai Barat (Donggala) masih terus kita pantau,” katanya kepada Sulteng Raya, Kamis (29/10/2020).

Baca Juga :   November, NTP Sulteng 94,38

Terkait dengan target 20.000 ton, pihaknya mengakui tidak terlalu ambil pusing dan lebih condong memperhatikan kualitas beras serapan, sesuai komitmen dibangun Dirut Perum Bulog, Budi Waseso.

“Kami juga tidak terlalu memaksakan memenuhi target ya, karena kualitas juga harus kita jaga, karena akan mempengaruhi juga, apakah harganya masuk Harga Pembelian pada Petani (HPP) sesuai regulasi yakni Rp8.300 dengan kualitas standar,” tuturnya.

Keadaan di lapangan saat ini, kata dia, sangat banyak juga terdapat pengepul luar daerah, khususnya di Kabupaten Parigi Moutong seperti dari Gorontalo bahkan sampai ke Sulawesi Utara.

Namun demikian, pihaknya memaklumi karena saat ini pasar tersebut merupakan pasar bebas. Petani dibebaskan menjual hasil panen selama harga cocok dengan mereka.

Baca Juga :   Longki Imbau Jangan Tumpuk Kerja di Akhir Tahun

“Sebenarnya Bulog jangan dianggap sebagai saingan, karena dalam hal ini Bulog berperan agar harga petani itu tidak jatuh dibawah HPP, dan juga menjaga harga pasar agar tidak tinggi,” tutur Basirun.

“Yang lainnya mekanisme pasar. Petani juga kalau ada permintaan, harga cocok selain di Bulog mereka pasti kasih, pasar bebaslah istilahnya. Posisi kami penyeimbang, sepanjang masih ada terus, kita akan serap. Penyerapan dan penggelontoran, karena kita melayani bansos PKH ya, penyalurannya cukup seimbang, malah lebih besar keluar,” ujarnya menambahkan. RHT

Komentar

News Feed