oleh

Sekkot Palu: Menikah Muda Bahaya Bagi Kesehatan Tubuh

SULTENG RAYA – Sekretaris Kota (Sekkot) Palu, Asri L Sawayah, mengatakan, menikah diusia muda atau usia anak dapat mempengaruhi kesehatan tubuh.

“Dampak dari menikah diusia muda, yaitu meningkatkan risiko  kesehatan misalnya risiko  kesehatan saat hamil di usia muda, karena di usia tersebut tubuh belum siap untuk hamil atau mengandung anak, sebab tubuh masih dalam proses pertumbuhan dan perkembangan,” kata Asrisaat Rapat Koordinasi (Rakor) dan Diseminasi Pencegahan Perkawinan Usia Anak di salah satu restoran di Kota Palu, Selasa (20/10/2020).

Kumala Digifest

Selain itu, kata dia, kepada kesehatan tubuh lainnya, yaitu tekanan darah tinggi akibat emosi tidak stabil, anemia karena kekurangan zat besi, bayi yang lahir bisa prematur, bahkan menyebabkan kematian kepada anak atau pun ibu.

“Bukan hanya dari segi kesehatan saja, dampak dari pernikahan usia muda dapat mempengaruhi pendidikan. Maka dari itu, atas nama Pemkot Palu berharap dengan kegiatan Rapat Koordinasi dan Diseminasi Pencegahan Perkawinan Usia Anak, bisa menghasilkan keputusan-keputusan yang akan menjadi dasar kebijakan daripada Pemkot Palu dalam mencegah perkawinan usia anak,” harapnya.

Sebenarnya, kata dia, usia ideal menikah sudah diatur dalam UU Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan sebagaimana telah diubah dengan UU Nomor 16 Tahun 2019 tentang Perkawinan.

Baca Juga :   Gubernur Ajak Meniru Kepribadian Rasulullah SAW

“Sebagaimana ditetapkan dalam UU nomor 16 tahun 2019 tentang perubahan UU nomor 1 tahun 1974 tentang perkawinan, bahkan BKKBN menetapkan usia ideal untuk kawin yaitu 21 tahun bagi perempuan dan 25 tahun bagi laki-laki,” katanya.

“Hal ini, disebabkan oleh beberapa faktor antara lain faktor ekonomi, faktor pendidikan, faktor biologis, faktor media elektronik, dan tradisi (adat) serta pergaulan bebas,” tuturnya.

 

PAKAI TOGA DULU, BARU BAJU PENGANTIN

Sebelumnya diberitakan, Gubernur Sulawesi Tengah, Longki Djanggola mengajak seluruh remaja di Sulteng untuk berfikir matang-matang sebelum memutuskan menikah dini.

Ia berharap, para remaja di daerah itu lebih mengutamakan pendidikan dulu daripada menikah di usia muda.

Harapan itu diutarakan Gubernur Longki lantaran jumlah pernikahan dini di Sulteng masih terbilang tinggi. Berdasarkan dari Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sulteng, angka Usia Kawin Pertama (UKP) pada wanita kurang dari 20 tahun di Sulteng sebesar 58,97 persen dari seluruh perkawinan yang ada.

“Pakai dulu baju wisudamu sebelum baju pengantinmu. Tunda nikah dini itu keren. Pernikahan dini hanyalah kebahagiaan sesaat tapi sengsaranya sepanjang masa,” tegas Gubernur Longki saat membuka ajang pemilihan Duta Generasi Berencana (Genre) tingkat Provinsi Sulteng Tahun 2020 di salah satu hotel di Kota Palu, Sabtu (26/9/2020) malam.

Baca Juga :   Disperdagin Palu Dorong IKM Lebih Kreatif dan Inovatif

Selain itu, pernikahan dini juga berdampak pada tingginya angka putus sekolah, kekerasan rumah dalam tangga (KDRT), perceraian dan kemiskinan. Hal itu lantaran pasangan nikah dini belum matang, baik emosional maupun ekonomi.

Bukan hanya itu, pernikahan dini juga menambah risiko bayi lahir prematur, stunting dan kematian ibu melahirkan.

Duta Genre diharapkan mampu memberi pemahaman tentang ‘berencana itu keren’, guna mencegah remaja melakukan pernikahan dini, seks pranikah dan penyalahgunaan narkoba.

Terutama jadi fokus gubernur adalah mengedukasi usia ideal menikah kepada remaja, yang kini telah menjadi 21 tahun bagi perempuan dan 25 tahun bagi laki-laki, karena di usia itu barulah calon mempelai dianggap cukup matang untuk berumah tangga.

“Semoga para finalis Duta Genre berperan sebagai mitra remaja dalam mengatasi permasalahannya, termasuk membantu Pemda mencegah pernikahan dini,” kata Longki.

Gubernur juga mewanti para remaja supaya lebih disiplin melaksanakan protokol kesehatan, karena klaster millenial (remaja dan pemuda) menurut Gubernur Longki, terbanyak menambah jumlah kasus positif akhir-akhir ini.

“Remaja yang masih suka berkerumun di tempat-tempat ramai, bepergian tidak pakai masker, tidak jaga jarak dan tidak melakukan pola hidup bersih dan sehat karena menganggap diri sudah kebal dari COVID-19,” ucapnya.

Baca Juga :   BEI Sulteng Ajak Perusahaan Lokal ‘Melantai’ di Bursa

Sementara itu, Kepala Perwakilan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Sulteng, Maria Ernawati, bahwa para finalis duta genre kabupaten dan kota yang berkompetisi telah menjalani karantina selama 3 hari sejak Kamis (24/9/2020).

Ia berharap, seluruh finalis dapat menjadi remaja berkualitas dan role model diteladani remaja sebayanya.

 “Duta-duta Genre adalah generasi unggul Sulawesi Tengah yang akan menjadi agent of change (agen perubahan) bagi generasi muda,” kata Kepala Perwakilan Maria Ernawati.

Hasil akhir dewan juri, memutuskan lima besar Duta Genre Sulteng untuk kategori putra, diraih oleh Ahmad Syahrul Ramadhan (Banggai), Andre Fairuz (Banggai Laut), Muh. Krisna (Bangkep), Nuriadin (Parigi Moutong) dan Yusril Desrama (Palu-5)

Untuk putri diraih Krisna Puspita (Palu-4), Michelle (Poso), Evi Muliani (Palu-1), Ester Veronika (Parigi Moutong) dan Puput Nilasari (Morowali)

Turut hadir, Ayah Genre Banggai Kepulauan, H Rais Adam, Bunda Genre Tojo Unauna, para pembina Pusat Informasi dan Konseling Remaja (PIK-R) dan Bina Keluarga Remaja (BKR) serta pejabat terkait.ULU/HGA

Komentar

News Feed