oleh

Muhammadiyah Bantu Dua Pustu Pemda Donggala

SULTENG RAYA-Setelah Kota Palu dan Kabupaten Sigi mendapatkan bantuan Puskesmas Pembantu (Pustu) dari Muhammadiyah, kini giliran Pemerintah Kabupaten Donggala mendapatkan sebanyak dua unit bangunan Pustu dilengkapi Alat Kesehatan (Alkes) di Kecamatan Balaisang Tanjung dan Kecamatan Tanantovea.

Wakil Ketua Muhammadiyah Disaster Management Centre (MDMC) PP Muhammadiyah, Rahmawati Husein, MCP, Ph.D., didampingi Koordinator Menejer Program MDMC Sulteng, sekaligus Rektor Unismuh Palu Dr. Rajindra, SE.MM, Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sulteng Hadie Sucipto, BSc, SAg, MPdI, secara simbolis menyerahkan dua unit Pustu itu kepada Bupati Donggala Kasman Lassa, di ruangan bupati, Selasa (20/10/2020).

Rahmawati Husein dalam sambutannya mengatakan, Muhammadiyah terus berkarya dan membantu, tidak hanya untuk Muhammadiyah saja, melainkan juga membantu pemerintah dan masyarakat secara luas, baik berupa pembangunan infrastruktur maupun kegiatan dan program lain.

Salah satu contohnya adalah pembangunan infrastruktur kesehatan berupa Pustu di Kabupaten Donggala, dua unit bangunan tersebut bersumber dari pendanaan donatur dari Amerika Serikat, Direct Rilief.

Sebenarnya kata dosen Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) ini, Direct Rilief berkeinginan membantu puskesmas-puskesmas yang terdampak bencana alam 28 September 2018 silam, namun karena puskesmas saat itu sudah didanai oleh Dipa dan dana siap pakai oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), atas arahan dari Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Tengah, menyarankan MDMC untuk membantu Pustu.

Baca Juga :   Tujuh Desember SD Inpres Watusampu Melaksanakan PAS

“Karena pustu menjadi kewenangan daerah kabupaten kota, terlebih saat itu memang banyak pustu-pustu yang rusak dan tidak bisa digunakan lagi akibat bencana itu, sehingga MDMC memilih itu,”urai Rahmawati.

Dari tiga daerah yang terdampak besar bencana alam 28 September 2018 sekaligus yang mendapatkan bantuan Pustu, hanya Kota Palu yang mendapatkan renovasi sebanyak tiga unit Pustu dilengkapi Alkes. “Sementara Kabupaten Sigi (empat Pustu) dan Kabupaten Donggala (dua Pustu) betul-betul dibangun dari nol, serta dilengkapi dengan Alkes,”jelasnya.

Perbedaan tersebut, karena dua daerah Sigi dan Donggala, masih memiliki lahan yang bisa dibangunkan bangunan Pustu, sementara Kota Palu sama sekali sulit untuk mendapatkan lahan.

Katanya, bangunan tersebut masing-masing bisa mencapai Rp500 juta untuk pembangunan dan alat kesehatannya. “Ini telah menjadi hak pemerintah daerah dan diharapkan dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya dan juga pemeliharaannya,”harap Rahmawati.

Baca Juga :   Mewakili Sulteng Ajang Nasional, Miftahul Jannah Lamasitudju Putri Kebudayaan Sulteng 2020

Ia melanjutkan, bahwa MDMC saat ini masih meneruskan program kegiatan rekonstruksi di Balaisang Tanjung dan Sirenja hingga 2022, berupa penguatan ekonomi melalui berbagai program, mulai dari nelayan, pertanian, hingga perdagangan dengan melibatkan sebanyak 2.300 KK. 

“Mohon dukungan dari pemerintah daerah minimal dalam bentuk perizinan, karena kedepan juga masih ada kegiatan berupa Desa Tangguh Bencana, ini juga sampai tahun 2022, itu bantuan dari Swiss,”kata peraih penghargaan Outstanding Alumnus 2019 dari College of Architecture, Texas A&M University, Amerika Serikat ini.

Sementara itu, Bupati Donggala, Kasman Lassa mengucapkan banyak terima kasih kepada Muhammadiyah dan secara khusus kepada MDMC yang sudah membantu masyarakat Kabupaten Donggala, berupa dua unit bangunan Pustu yang dilengkapi dengan alat-alat kesehatan. “Ini akan dimanfaatkan untuk peningkatan derajat kesehatan masyarakar Kabupaten Donggala,”ujar bupati.

Bupati juga menyinggung kondisi Kecamatan Balaisang Tanjung dan Kecamatan Tanantovea, jika dua kecamatan itu memang telah terdampak gempa dan tsunami tanggal 28 September 2018 silam, bahkan tidak sedikit bangunan bersejarah di Kecamatan Tanantovea tepatnya Wani yang dibangun tahun 1806 yang penuh ukiran, sebagai bukti sejarah penyebaran Islam di daerah itu habis tak tersisa.

Baca Juga :   Rektor: Kampus Harus Jadi Pionir Pendidikan Kebencanaan

“Jika dihitung tidak kurang dari 20 unit bangunan (rumah) seperti itu, kayunya besar kokoh dan berukir, semuanya habis tak tersisa,”kenang bupati.

Lanjut bupati, saat Pemda Donggala tengah merancang pembangunan kembali di pedesaan dan Kota Donggala, tetiba datang bencana lain non alam berupa Covid-19, akibatnya anggaran yang sudah dipolotkan ke pembangunan infrastruktur dialihkan ke penanganan dan pencegahan covid-19. “Ini adalah ujian yang sudah ditakdirkan Tuhan, kita hanya bisa menerima dan menjalankan ketentuan itu,”urainya.

Dengan adanya bantuan dua unit Pustu dari Muhammadiyah katanya, itu sangat membantu masyarakat, terlebih bukan hanya bangunan melainkan disertai dengan alat-alat kesehatan.

Terkait ikatan emosional dengan Organisasi Kemasyarakatan Muhammadiyah, bupati mengaku Unismuh Palu tidak asing bagi Pemda Donggala, karena tidak sedikit kader Muhammadiyah kini berada dan berkarya di lingkup Pemerintahan Kabupaten Donggala, termasuk dirinya sendiri, bahkan mengaku perna mengajar di Unismuh Palu. ENG

Komentar

News Feed