oleh

Begini Tips OJK Hindari Investasi Bodong

SULTENG RAYA – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Perwakilan Provinsi Sulawesi Tengah mengimbau warga Sulawesi Tengah selalu mewaspadai penawaran investasi bodong atau ilegal.

Kepala Sub Bagian Pengawasan Industri Keuangan Non Bank dan Pasar Modal OJK Sulteng, Budi Hamdani, mengatakan, warga Sulteng jangan mudah tergiur dengan iming-iming keuntungan besar tidak rasional.

Kumala Digifest

Ia mengatakan, masyarakat mesti mengetahui ciri-ciri investasi bodong agar kasus penipuan investasi bodong tidak kembali terulang.

“Kita harus memperhatikan prinsip legal dan logis saat ingin berinvestasi. Legal berarti, masyarakat perlu melihat legalitas perizinan usaha dari perusahaan yang menawarkan produk investasi. Salah satunya apakah terdaftar di OJK atau kementerian lainnya untuk menjalankan usahanya atau tidak. Jika tidak berarti itu perusahaan investasi bodong,” katanyasaat memberikan materi pada salah satu rangkaian kegiatan Bulan Inklusi Keuangan disalah satu sekolah di Kota Palu, Jumat (16/10/2020).

Baca Juga :   Pilkada Serentak 2020 , Misi Selamatkan Kemanusiaan, Selamatkan Kualitas Demokrasi

Kemudian prinsip logis terkait kewajaran keuntungan ditawarkan perusahaan investasi. Menurutnya, perusahaan investasi bodong umumnya menggunakan sejumlah skema dalam memasarkan produknya.

Antara lain, kata dia, perusahaan investasi tersebut menjanjikan imbal hasil alias return sangat tinggi atau tidak wajar, sifat berantai atau ‘member get member’ alias skema piramida.

“Menggunakan skema ponzi atau membayarkan keuntungan kepada investor dari uang mereka sendiri atau uang yang dibayarkan oleh investor berikutnya, bukan dari keuntungan yang diperoleh oleh perusahaan tersebut,”ujarnya.

Kemudian, kata dia, perusahaan memberi kesan seolah-olah bebas risiko. Selanjutnya perusahaan memasarkan produk investasinya menggunakan ‘public figur’ seperti pejabat, tokoh agama dan artis.

“Beberapa contoh investasi bodong di antaranya menawarkan paket umroh dengan harga jauh di bawah tarif normal. Kalau perusahaan atau travel lain menawarkan paket umroh umumnya Rp30 juta maka perusahaan investasi bodong hanya Rp20 juta. Tidak masuk akal,” terangnya.

Baca Juga :   Meningkatkan Kapasitas, OJK Dorong Perusahaan Lokal Go Public

Ada juga perusahaan investasi bodong yang menawarkan Kredit Pemilikan Rumah (KPR) secara syariah tapi ujung-ujungnya rumah tidak dibangun. ANT/RHT

Komentar

News Feed