oleh

Hingga Agustus, Kekerasan Perempuan dan Anak Capai 101 Kasus

SULTENG RAYA – Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Pelindungan Anak (DP3A) Kota Palu, mencatat kasus kekerasaan terhadap perempuan dan anak di Kota Palu periode Januari hingga Agustus 2020 mencapai 101 kasus, terdiri dari 52 kasus kekerasan terhdap perempuan dan 49 kasus kekerasan terhadap anak.

Kepala DP3A Kota Palu, Irmayanti Pettalolo, mengatakan, hingga kini, pihaknya mencatat, kasus kekerasaan terjadi pada perempuan berupa Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT), pemerkosaan perempuan, perzinahan, pelecehan seksual dan perebutan hak asuh anak.

Kumala Digifest

“Untuk, kasus kekerasaan yang dilakukan pada anak yaitu pencurian yang dilakukan oleh anak, aniaya anak, persetubuhan anak, pemerkosaan anak, aborsi anak, pelemparan yang dilakukan anak dan pencabulan anak,” kata Irmayanti Pettalolo, Jumat (16/10/2020).

Baca Juga :   IBI Diharapkan Jadi Wadah Pembinaan Bidan Berkualitas dan Kompeten

Sementara itu, pada 2019, DP3A Kota Palu mencatat  jumlah kekerasaan terhadap perempuan dan anak mencapai 144 kasus, terdiri dari kasus kekerasaan terhadap perempuan yaitu KDRT sebanyak 71 kasus, pemerkosaan delapan kasus, perzinahan dua kasus, pelecehan seksual tiga kasus dan perebutan hak asuh anak satu kasus.

Sedangkan kasus kekerasan pada anak sering terjadi yaitu aniaya anak sebanyak 36 kasus, persetubuhan anak sembilan kasus,pencabulan anak tujuh kasus, pemerkosaan anak  tiga kasus, pencurian yang dilakukan oleh anak dua kasus, aborsi anak satu kasus dan pelemparan yang dilakukan anak satu kasus.

Sebelumnya diberitaka, DP3A Kota Palu akan memberikan pelayanan terhadap korban kekerasan dalam hal menerima pengaduan kemudian ditindaklanjuti  atau diproses. Setelah itu, melakukan pendampingan, menyediakan pelayanan psikolog atau melakukan pelayanan untuk pemulihan psikis.

Baca Juga :   Sekkot Asri Harap Kedisipilinan Prokes Covid-19 Ditingkatkan

“Pemberian pelayanan pemulihan psikis tersebut, dilakukan saat  korban atau yang bersangkutan dalam keadaan terguncang dan terganggu psikisnya. Nantinya, mereka akan didampingi oleh psikolog,” jelas Irmayanti Pettalolo, Senin (29/6/2020).

Bukan hanya itu, kata dia, pihak DP3A juga memfasilitasi layanan Rumah Sakit (RS) jika ada korban kekerasan kondisinya mengalami luka akibat kekerasan fisik.

“Korban yang terluka akan dirujuk ke RS, setelah melapor ke pihak kepolisian dan dilakukan fisum. Jika korban mesti dirawat inap, maka pihak DP3A menyediakan biaya untuk perawatannya. Apa lagi, untuk korban yang memang kondisi ekonominya lemah,” ucapnya.

DP3A juga meyediakan Rumah Aman bagi para korban kekerasan yang merasa tidak aman serta tertekan tinggal di rumahnya. Begitu juga jika pelaku kekerasaan belum tertangkap.

Baca Juga :   Data Perpanjangan Penyaluran Stimulan Tahap II Diserahkan ke BNPB

Irmayanti Pettalolo, kalau kasus kekerasaannya lanjut ke jalur  hukum maka korban diberikan pelayanan pendamping DP3A Kota Palu.

“Nah, semua pelayanan yang diberikan pihak DP3A Kota Palu adalah semata–mata  faslitas yang diberikan oleh Pemerintah untuk para korban tindak kekersaan,”tandasnya. ULU

Komentar

News Feed