Perekat Rakyat Sulteng.

Enjoy a Spacious Driving Comfort

Enjoy a Spacious Driving Comfort

Harga Beras Naik, Bulog Siap Gelontorkan Stok

0 80

SULTENG RAYA – Harga beras di Pasar Induk Tradisional (PIT) Kota Palu merangkak naik.

Menyikapi kondisi tersebut, Bulog Sulawesi Tengah siap menggelontorkan stoknya di gudang sekaligus sebagai  upaya menekan fluktuasi harga.

“Sudah bergerak, diperintahkan teman-teman Bulog untuk masuk pasar selain dari menyalurkan BPNT maupun KPSH. Intinya Bulog siap, Bulog stok cukup untuk antisipasi kenaikan itu,” kata Kepala Kantor Wilayah (Kanwil) Bulog Sulteng, Miftahul Ulum kepada Sulteng Raya, Jumat (13/3/2020).

Saat ini, kata dia, Bulog memiliki stok 4.000-an ton, baik yang ready maupun sedang dalam perjalanan, karena stok diminta dari Sulawesi Selatan (Sulsel).

“Ada 2.500 ton di gudang, dalam perjalanan kurang lebih mudah-mudahan hari ini (kemarin, red) sudah sandar kapal 1.500 ton juga. Kurang lebih 4.000 ton yang siap kami salurkan (ke pasar),” katanya.

Sebelumnya diberitakan, harga salah satu kebutuhan pokok masyarakat, khususnya beras di sejumlah pasar di Kota Palu, Ibu Kota Provinsi Sulawesi Tengah, mulai bergerak naik dalam beberapa hari terakhir ini.

Pantauan di Pasar Masomba Palu, Selasa (10/3/2020), harga beras seperti jenis cimandi, buri-buri dan ciliwung rata-rata mengalami kenaikan sebesar Rp2.000 per kilogram dari sebelumnya Rp8.000 per kilogram, kini naik menjadi Rp10.000 per kilogram.

Menurut para pedagang di pasar itu, kenaikan harga beras disebabkan harga pembelian di tingkat produsen juga sudah naik karena pengaruh belum memasuki musim panen raya padi.

“Panen raya baru akan berlangsung akhir Maret dan awal April 2020,” kata Ny Fitri (45), seorang pedagang beras di Pasar Masomba Palu.

Di tingkat produsen, harga beras sekarang ini sudah mencapai  Rp500.000 per karung ukuran 50 kilogram atau mengalami kenaikan harga dari sebelumnya hanya Rp450.000 per karung (isi 50kg).

Hal senada juga diungkapkan Rais, seorang pedagang beras di Pasar Manonda Palu mengatakan kenaikan harga beras saat ini karena terkait belum masuk musim panen raya padi, meskipun kondisi stok beras di pasaran cukup tersedia.

“Kalau stok beras di pasar sebenarnya cukup banyak, hanya harganya yang bergerak naik. Kenaikan harga beras ini tidak akan bertahan lama, dan jika sudah masuk panen raya, harga beras baik di tingkat produsen maupun pengecer diperkirakan turun kembali,” ujarnya.

Menurut ia, stok beras yang ada di pasaran cukup memadai dan tersedia, selain  beras produksi petani lokal, juga stok beras yang didatangkan dari luar Sulteng seperti Sulsel dan Sulbar.

“Sulteng bertetangga dengan Sulsel dan Sulbar yang selama ini dikenal sebagai daerah produsen beras terbesar di Pulau Sulawesi, bahkan Indonesia Timur. Beras dari produksi petani di dua provinsi itu banyak dijual ke Kota Palu, sehingga masyarakat di Sulteng tidak akan pernah kekurangan beras, sebab selain produksi petani di daerah itu setiap tahun surplus hingga 300 ribu ton, juga ada beras didatangkan dari luar daerah,” ujarnya.

Selain terjadi harga beras di pasaran Kota Palu, juga komoditas pangan yang mengalami kenaikan harga seperti gula pasir di tingkat pengecer mencapai Rp17.000 per kilogram dari sebelumnya dijual harga normalnya sekitar Rp13.000/kg. Kenaikan harga gula tersebut disebabkan stok kurang dan permintaan meningkat.

Stok gula pasir yang dijual di pasaran Kota Palu saat didatangkan para distributor dari Provinsi Gorontalo.

“Saya sendiri tidak ada stok gula sekarang ini,” kata Jemy Hosan, Pimpinan CV Garindo Palu, salah satu distributor gula dan tepung terigu di Kota Palu. RHT/ANT

Balas

Email tidak akan dipublikasikan