Perekat Rakyat Sulteng.

PMP Buol Kecam Perusakan Rumah Ibadah Hindu

43

SULTENG RAYA – Perusakan rumah ibadah Marajapati milik umat Hindu di Desa Modo merupakan tindakan intoleransi atas nama agama yang sangat tidak terpuji.

Hal itu disampaikan oleh Ketua Posko Menangkan Pancasila (PMP) Kabupaten Buol, Dhimansyur Lewa melalui rilisnya yang dikirim ke Sulteng Raya, Selasa (31/12/2019).

Menurut lewa, Pijakan dalam kehidupan berbangsa dan bertanah air telah termaktub dalam pancasila dan UUD 1945, sehingga tak ada alasan untuk tidak memberi dan menghargai kebebasan seluruh rakyat Indonesia, khususnya masyarakat Buol memeluk dan menjalankan agama sesuai keyakinannya.

“Melakukan perusakan tempat ibadah milik suatu golongan adalah tindakan melanggar konstitusi dan Hak Asasi Manusia (HAM),” ucap ketua PMP Buol.

Kata Lewa, Negara ini diperjuangakan hingga merdeka agar menjadi sebuah tempat hidup bersama, didalam negeri ini terdapat keanekaragaman agama, keanekaragaman suku, keanekaragaman budaya dan adat istiadat, sehingga dari bentuk keanekaragaman tersebut, termasuk  keanekaragaman agama dan kepercayaannya, kita sebagai rakyat Indonesia khusus di Kabupaten Buol harus mengakui keberadaannya.

Bahkan kata Lewa, sebelum proklamasi kemerdekaan dibacakan, konsensus nasional pertama yang kita sepakati adalah Indonesia buat semua. Tidak ada dikotomi pribumi dan non-pribumi, juga tidak dibenarkan mempertentangkan agama yang satu dengan yang lain.

“Segenap rakyat hendaknya ber-Tuhan secara kebudayaan, yakni dengan tiada egoisme agama,” ujar Lewa mengutip perkataan Bung Karno dalam pidato 1 Juni 1945.

Lanjut Lewa, intoleransi buah hasil dari tumbuh suburnya gerakan Foundamental reaksioner di Indonesia bahkan, sampai ke tanah Pogogul, realitas ini dilihat dengan adanya peristiwa perusakan fasilitas ibadah Marajapati di Desa Modo.

“Undang-Undang Dasar 1945 (UUD 1945) Pasal 29 Ayat (2) : Negara menjamin Kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan beribadah sesuai dengan agama kepercayaannya,” lanjutnya.

Lewa mengaku, sangat menyayangkan peristiwa yang terjadi di Desa Modo Kabupaten Buol, perusakan tempat peribadatan Marajapati umat hindu, telah merusak pula hubungan baik antar sesama pemeluk agama di Kabupaten Buol yang selama ini terjaga dengan penuh toleransi.

Lewa menyampaikan juga, Kabupaten Buol yang berumur 20 tahun, baru kali ini ada tindakan perusakan rumah peribadatan, sehingga ia meminta kepada pihak kepolisian segera mengusut tuntas pelaku bahkan dalang dari perbuatan tersebut agar tidak semakin merusak toleransi yang selama ini dipupuk secara bersama-sama oleh masyarakat Buol.

“Pemerintah Daerah Kabupaten Buol pun harus hadir menyelesaikan permasalahan ini, serta menjamin kenyamanan bagi tiap-tiap pemeluk agama sebagaimana yang telah diatur oleh konstitusi. Serta, terlibat aktif mendorong peningkatan kesadaran nilai-nilai Pancasila kepada masyarakat agar dapat diamalkan dalam kehidupan sehari-hari,” jelasnya.

Lewa berharap, sebagai masyarakat Kabupaten Buol jangan mudah terprovokasi oleh isu-isu yang beredar bebas melalui media maenstream, sebab banyak pula berita hoax yang beredar dengan tujuan menghancurkan, menciptakan konflik Horizontal atau disebut dengan Devide at Impera (Konflik pecah belah) guna untuk kepentingan segelintir orang.

“Jangan mau dipecah belah, sebab kita punya riwayat nasionalisme yang sama yaitu pernah sama-sama terjajah oleh kolonialisme, sehingga semangat nasionalisme lewat persatuan nasional dari beragam perbedaan, kita dapat merdeka serta menjaga kedaulatan bangsa dan juga menghargai perbedaan dalam keyakinan beragama,” tegasnya. */YAT

Leave A Reply

Your email address will not be published.