Perekat Rakyat Sulteng.

Waspadai Paham Radikalisme di Kampus

70

SULTENG RAYA- Wakil Rektor I IAIN Palu, Dr. Abidin Djafar, MAg mengingatkan pentingnya kewaspadaan dini akan masuknya paham radikalisme di lingkungan kampus di Sulawesi Tengah, baik kampus perguruan tinggi keagamaan maupun kampus perguruan tinggi umum.

Sebagaimana yang diutarakan oleh Direktur pencegahan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Brigjen Pol Hamli, saat mengisi dialog pelibatan civitas akademika di kampus Universitas Jember, Rabu (24/7/2019), bahwa banyak mahasiswa mulai terpapar paham radikal.

Penetrasi para teroris sudah memasuki segala lini, termasuk di kalangan kampus. Bahkan, yang menjadi target mereka adalah kampus besar. Ditambah lagi hasil riset setara Institut, terdapat 10 perguruan tinggi negeri (PTN) di Indonesia terpapar paham Islam radikalisme.

Berdasarkan hal tersebut, pihak kampus katanya perlu mengambil langkah-langkah kongrit untuk membendung masuknya paham-paham radikal itu, mengingat bangsa Indonesia tidak mentolerir adanya paham-paham radikal yang berkembang di masyarakat. “Saya kira semua agama di dunia itu, tidak ada yang menerima dan mengajarkan hal-hal seperti itu, namun juga perlu dipahamai, bahwa semua agama punya ajaran yang berpotensi radikal,”jelasnya.

IAIN Palu katanya, kebetulan sebagai Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri sudah mengambil sikap melalui penerapan mata kuliah Islam Moderat, disamping ada dalam bentuk mata kuliah khusus, juga diintegrasikan dengan mata kuliah lain yang mengajarkan kepada mahasiswa, bahwa Islam itu adalah agama rahmatan lilalamin, bukan hanya rahmat bagi sesama pemeluk agama Islam, melainkan rahmat bagi seluruh mahluk hidup di seluruh alam semesta.

Artinya, mengajarkan sikap toleransi, saling menghargai dalam perbedaan, tidak semestinya menjadikan perbedaan sebagai sumber masalah, melainkan berusaha mencari persamaan di dalam sebuah perbedaan. “Minimal kita ini sama-sama makhluk ciptaan Allah SWT, sehingga kita semestinya saling menghargai, menghormati,”ungkapnya. Jumat (5/12/2019).

Jika pemahaman itu sudah terpatri di dalam diri setiap mahasiswa, dipastikan tindakan, ucapan dan pemikirannya jauh dari hal-hal yang bisa merugikan pihak lain. Tidak lagi memandang setiap perbedaan sebagai pertentanan.

Karena perbedaan dan keragaman adalah bagian dari ketentuan Allah SWT, agar kita sebagai manusia lebih banyak belajar dan bersyukur, sebab di dalam keragaman terdapat banyak pengetahuan. “Kita selalu mengajarkan bahwa di dibalik perbedaan dan keragaman itu terdapat banyak pengetahuan, sehingga semestinya jadikan sebagai tempat memperkaya pengetahuan,”jelasnya.

Bahkan di kampus ini juga akan dibangun Rumah Besar Islam  Moderat, sebagai bentuk kajian yang mendalam tentang Islam Moderat.AMI

 

Leave A Reply

Your email address will not be published.