Perekat Rakyat Sulteng.

Jiwa Entrepreneurship Mahasiswa Perlu Penguatan

23

SULTENG RAYA-Semangat jiwa Entrepreneurship mahasiswa masih butuh penguatan dan motivasi, setelah selama ini menerima teori dari dosen, karena teori tanpa praktek belum cukup sebagai modal mahasiswa setelah lulus dari kampus.

Penguatan bisa dalam bentuk keterlibatan mahasiswa dalam pengabdian di masyarakat, karena disitu ada transformasi pengetahuan dan skill seperti pengelolalaan  potensi lokal.

“Butuh penerapan dari suptasi kurikulum kewirausahaan itu, selama ini hanya teoritis, saat ini tinggal pendekatan yang koprehensif, seperti penguatan dari dosen atau institusi bisa dilakukan lewat keterlibatan dalam pengabdian pada  masyarakat,”kata Wakil Rektor 1 Unismuh Palu, Dr. Rafiuddin Nurdin, mewakili Rektor Unismuh. Belum lama ini.

Bahkan kedepan katanya, bisa menjalin kerjasama dengan pihak pemerintah atau industri sehingga teori-teori yang mahasiswa dapatkan bisa diterapkan atau dipraktekan.

Sehingga tujuan dari Universitas Muhammadiyah Palu yakni mewujudkan pengabdian dan pemberdayaan masyarakat yang bermanfaat bagi umat, menuju kewirausahaan mandiri dalam masyarakat bisa betul-betul terwujud, dan bukan hanya masyarakat yang merasakan, melainkan juga mahasiswa dan lulusan.

Apalagi saat ini, perguruan tinggi tidak bisa lagi melahirkan lulusan yang hanya berorentasi menjadi tenaga kerja, atau pegawai. Melainkan harus bisa berorentasi pada jiwa kewirausahaan atau Entrepreneurship. Jika masih berorentasi pada tenaga kerja atau menjadi pegawai, maka perguruan tinggi itu dipastikan akan mencetak pengangguran terdidik.

Upaya Pemerintah mengatasi hal tersebut sudah cukup banyak, diantaranya dalam menyempurnakan sistem pendidikan, antara lain dapat dilihat dari disahkannya UU No: 20 tahun 2003 tentang SISDIKNAS dan PP No. 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan.

Ini memberikan banyak ruang bagi lembaga pendidikan untuk membuat dan mengelola kurikulumnya sesuai dengan tensi dan kompentensi wilayah/ lingkungan yang dimilikinya.

Ini berkaitan erat dengan kurikulum yang disusun di perguruan tinggi guna menjawab masalah peningkatan kualitas sumber daya manusia melalui kurikulum berbasis wirausaha. Pendidikan berbasis kewirausahaan adalah proses pembelajaran penanaman tata nilai kewirausahaan melalui pembiasaan dan pemeliharaan perilaku dan sikap.

Kurikulum yang dibuat harus mengacu kepada kebutuhan daya saing bangsa, serta visi dan misi dalam menghasilkan lulusan. Perubahan visi dan misi diperlukan dalam rangka menghasilkan lulusan yang mampu meningkatkan daya saing bangsa, yaitu lulusan-lulusan yang bukan sekadar mencari kerja tetapi lulusan yang juga mampu menciptakan peluang kerja.

“Memang tidak semua bidang ilmu saat ini dapat diaplikasikan di dunia nyata apalagi dunia usaha, maka tantangannya ini adalah mendesain kurikulum yang berbasis wirausaha. Kurikulum berbasis kewirausahaan diharapkan dapat menjadi kurikulum kunci yang akan menjadi ukuran keberhasilan perguruan tinggi menciptakan lulusan yang berdaya saing tinggi, Unismuh sudah dua tahun terakhir mendesain kurikulum itu,”ungkap Raifuddin.

Untuk membangun semangat kewirausahaan dan memperbanyak wirausahawan, Pemerintah juga telah mengeluarkan Instruksi Presiden Nomor 4 Tahun 1995 tentang Gerakan Nasional Memasyarakatkan dan Membudayakan Kewirausahaan. Instruksi ini mengamanatkan kepada seluruh masyarakat dan bangsa Indonesia untuk mengembangkan program-program kewirausahaan.

Selanjutnya, dalam mendukung Pengembangan Ekonomi Kreatif (PEK) tahun 2010-2014, yakni pengembangan kegiatan ekonomi berdasarkan pada kreativitas, keterampilan, dan bakat individu untuk menciptakan daya kreasi dan daya cipta individu yang bernilai ekonomis dan berpengaruh pada kesejahteraan masyarakat Indonesia.

“Terpenting saat ini adalah mengimplementasikan teori-teori yang ada,”tambah Rafiuddin. AMI

Leave A Reply

Your email address will not be published.