Perekat Rakyat Sulteng.

Dosen Untad Temukan Katak Jenis Baru Di Kawatuna

Mirip Spesiaes di India dan Papua New Guinea

16

SULTENG RAYA – Dosen Fakultas Peternakan dan Perikanan (Fapetkan) Universitas Tadulako (Untad), Prof. Dr. Ir. Kaharudin Kasim, M.S, beberapa waktu lalu saat melakukan penelitian di area pertambangan Poboya, untuk meneliti kondisi biologis yakni keberadaan flora dan fauna yang berada di lokasi itu, menemukan Spesies katak baru yang diyakini mirip dengan spesies katak yang hanya terdapat di India dan Papua New Guinea.

“Awalnya kita memang ada proyek penelitian untuk meneliti apa saja jenis flora dan fauna yang ada di lokasi pertambangan Poboya, selama lima hari saya bersama tim terus melakukan penelitian dan kita menemukan semua jenis hewan yakni mamalia, reptile dan amfibi, ada juga flora yang unik seperti pakis raksasa, hingga kita menemukan spesies katak yang ukurannya sangat kecil hanya sekitar 10-11 milimeter,  mirip dengan katak yang hanya ada di India dan Papua New Gini,” katanya kepada Sulteng Raya saat di temui di ruang kerjanya Jumat (8/11/2019).

Ia juga mengatakan, bahwa penelitian ini masih belum diekspos dan diperkenalkan kepada publik karena masih harus ditindaklanjuti dan diteliti kembali keberadaannya.

“Untuk saat ini saya belum mengekspos keluar hasil temuan saya ini, temuan ini masih harus di teliti kembali, karena beberapa waktu lalu disana terjadi banjir besar sehingga spesies katak itu mungkin terbawa air karena saya menemukannya di sekitar aliran sungai sehingga saya perlu untuk kembali kesana lagi untuk memastikan keberadaan katak tersebut, jika masih ada maka penemuan ini berhasil,” katanya

Ia mengatakan, bukan hal yang mudah untuk kembali meneliti keberadaan spesies katak ini, karena membutuhkan tenaga dan biaya yang cukup besar sehingga membutuhkan bantuan dari Pemerintah.

“Untuk kembali kesana lagi, harus ditemani tim dan pastinya membutuhkan biaya, kalau sendiri saya tidak mampu harus ditemani oleh tim dan saya juga berharap jika pemerintah mau, saya siap melanjutkan meneliti temuan ini,” katanya

Ia berharap katak yang bernama latin Paedophryne Verrucossa dan Paedophryne Dekot ini kelak akan menjadi ikon untuk kota Palu seperti pada beberapa daerah di Sulawesi Tengah yang menggunakan ikon daerah berlambang hewan endemik.

“di daerah lain misalnya Ampana menggunakan burung maleo sebagai ikon daerahnya karena terdapat banyak burung Maleo disana dan beberapa daerah lainnya juga menggunakan hewan endemik sebagai ikon daerah mereka, harapan saya katak ini juga bisa menjadi ikon bagi Kota Palu,” harapnya. CR1

Leave A Reply

Your email address will not be published.