Perekat Rakyat Sulteng.

Cadar untuk Hindari Zina Mata

17

SULTENG RAYA – Terkait larangan Aparatur Sipil Negara (ASN) memakai cadar dan celana cingkrang di lingkungan kerja oleh Menteri Agama (Menag), Fachrul Razi menuai beragam tanggapan dari berbagai pihak.

Salah seorang  warga Kota Palu, Ernawati mengaku dilema dengan larangan tersebut. Hal itu dikarenakan ia pernah bekerja di instansi pemerintahan. Kata dia, ada hal lain yang lebih mendesak dibandingkan mengurusi cadar dan celana cingkrang.

“Misalnya penggunaan rok bagi ASN, mestinya ada aturannya juga. Karena saat ini, masih ada yang menggunakan rok agak mini dengan belahan, dipadukan baju yang jangkis istilahnya dan warna rambut yang mencolok. Sebagai seorang ASN, menurut saya kurang pantas berpenampilan seperti itu. Bukan karena saya berpakaian syar’I, lantas saya mau mengomentari cara berpakaian orang lain. Hanya saja, untuk kriteria pakaian kerja, itu kurang pantas,” ujar Pengurus One Day One Juz (ODOJ) Wilayah Kota Palu ini kepada Sulteng Raya, Kamis (7/11/2019).

“Kenapa bukan hal-hal seperti itu yang didahulukan aturannya, yang sudah jelas pakaian seperti itu pun bisa menimbulkan fitnah. Sebagai pengayom masyarakat dan bekerja di ranah publik, kurang pantaslah menjadi contoh untuk yang lain. Kami hanya ingin pemerintah mendahulukan hal-hal yang lebih mendesak,” lanjutnya.

Selain itu, Erna menjelaskan, tujuan penggunaan cadar yakni untuk menghindari zina mata dan zina lainnya. Namun, masih banyak orang menganggap dan mengidentikkan cadar dengan terorisme. Padahal, niat memakai cadar semata-mata untuk menutup aurat, menjaga diri dan menambah ketaatan kepada Allah SWT.

“Kalaupun ada yang lain seperti kami, itu hanyalah oknum. Kalaupun seseorang memiliki kenangan kurang menyenangkan dengan orang yang memakai cadar, sekali lagi itu hanya oknum. Jangan hanya karena hal itu, semua orang yang menggunakan cadar disamaratakan,” tegasnya.

Masyarakat harus berpikiran terbuka, jangan hanya menilai sesuatu dari satu sudut saja atau  menghakimi sesuatu hanya berdasarkan satu argumen, tanpa mencari bukti penguat.

“Ingin sebenarnya melihat Negara ini, ke kantor sudah bisa menggunakan cadar. Apalagi, mayoritas penduduk Indonesia adalah muslim. Alangkah indahnya, namun mungkin tidak semudah itu, masih butuh proses panjang. Bahkan, untuk membahas cadar pun tidak mudah karena agak sensitif, jadi harus hati-hati,” katanya. CR2

Leave A Reply

Your email address will not be published.