Perekat Rakyat Sulteng.

Sulteng Perlu Agro Industri

MAKSIMALKAN HASIL BUMI DAN PRESENTASE PERTANIAN

15

 

 

SULTENG RAYA – Belum adanya Industri pengolahan sektor pertanian di Sulawesi Tengah, ternyata ikut mempengaruhi presentase kesejahteraan petani domestik.

Hasil pangan yang sering terdistribusi ke luar daerah dengan harga minim juga membuat tingkat kesejahteraan petani jalan di tempat, kecuali komoditi tertentu yang ‘angin-anginan’ naik namun tidak konsisten.

Menurut Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Sulteng, Faizal Anwar, untuk meningkatkan kesejahteraan petani di Sulteng, Pemerintah perlu berani berinisiatif untuk membuka Industri besar semacam di sektor Industri Pengalolahan di Morowali atau industri migas di Luwuk.

“Kita tak punya itu (industri besar sektor pertanian), dan apa yang terjadi saat ini seperti itu Nilai Tukar Petani (NTP) kita tetap dibawah seratus persen yang artinya petani masih lebih banyak kebutuhan daripada yang dihasilkan,” tuturnya, diwawancara Sulteng Raya beberapa waktu lalu. NTP Sulteng sendiri, per Oktober 2019 sebesar 95,36 persen.

“Gini ya, pertanian itu adalah chord ekonomi yang menyentuh banyak masyarakat. Maka itu harus diupayakan peningkatan produksinya, dibutuhkan industri ekonomi, industri lain tetap jalan, silahkan aja. Tapi perhatikan juga pertanian dengan membangun industri pertanian,” ujarnya menambahkan.

Faizal juga menyebut kebiasaan petani domestik yang menjual kepada tengkulak dengan harga murah menjadi penyebab NTP Sulteng tidak pernah menyentuh angka 100 persen sehingga diperlukan juga perhatian untuk menjual kepada distributor resmi atau BUMN yang bergerak dibidang pangan yang ketika membeli, mengacu pada regulasi.

“Kebiasaan ini juga harus dihindari, kondisi pertanian kita perlu dapat perhatian dari sisi produksi, distribusi hingga kesejahteraan para pelakunya,” ucapnya. RHT

Leave A Reply

Your email address will not be published.