Perekat Rakyat Sulteng.

300 Bilik Huntara di Palu Masih Kosong

PENGUNGSI ENGGAN PINDAH

18

SULTENG RAYA – Pemerintah Kota (Pemkot) Palu mencatat, hingga kini telah terbangun 5.732 bilik hunian sementara (Huntara) di Kota Palu.

Huntara tersebut merupakan bantuan dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) RI maupun lembaga non pemerintah atau NGO.

Dari jumlah tersebut, ternyata masih terdapat 300 bilik yang masih kosong alias tidak berpenghuni, khusus di bagian utara Kota Palu. Bukan karena kelebihan, namun banyak pengungsi yang enggan menempati Huntara tersebut akibat jarak dari tempat aktivitas kesehariannya jauh dari lokasi.

“Jumlah Huntara yang kosong atau belum terisi, sebanyak 300 bilki. Hal tersebut dikarenakan masyarakat enggan menempati Huntara yang notabene berlokasi sangat jauh dari aktivitas keseharian masyarakat,” kata Kepala Pelaksana (Kalak) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Palu, Presly Tampubolon, saat menghadiri Rapat Koordinasi, Monitoring dan Evaluasi Penanganan Bencana Gempa Bumi, Tsunami dan Likuefaksi di Kota Palu di ruang Bantaya, Balai Kota Palu,  Kamis (12/9/2019).

Dihadapan Ketua Tim LO Kemenopolhukam RI Satgas Pendampingan Pusat Penanggulangan Bencana Gempa di Palu, S Sulema, Presly mengatakan, banyak pengungsi memilih tinggal di tenda pengungsian dibanding harus pindah dari wilayah barat ke utara Kota Palu.

“Kami kesulitan mobilisasi masyarakat dari Barat ke Utara. Di sisi lain warga juga tidak mau menempati Huntara di bagian Utara karena jauh dari aktivitas mereka di Palu Barat. Akan tetapi, Pemkot terus berupaya menempatkan mereka di Huntara yang kosong tersebut,” jelasnya.

Sementara itu, mengenai perkembangan hunian tetap (Huntap), Kalak Presly menjelaskan, saat ini Pemkot Palu, tengah mengupayakan untuk mendata dan memvalidasi masyarakat pengungsi yang ingin direelokasi ke Huntap.

Berdasarkan formulir disebar, kata dia, sebanyak 1.856 korban bencana menyatakan siap direlokasi menuju Huntap di Kelurahan Tondo, Kecamatan Mantikulore, Kota Palu.

“Sebanyak 1.422 sudah dilakukan verifikasi langsung ke lapangan dari semua kelurahan dan kecamatan di kota Palu,” ujarnya.

Selanjutnya, ia juga melaporkan, dana stimulan untuk rumah rusak berat tahap pertama sebanyak 1.594 unit sebesar Rp82 Miliar lebih sudah termasuk belanja dan biaya pendukung, sudah dicairkan kepada penerima melalui kelompok masyarakat (Pokmas).

“Pokmas yang sudah terkait kontrak sebanyak 110 dengan jumlah pemilik rumah sebanyak 1.247. Masih sekitar 300an yang kita harus lakukan pemegangan kontrak,” jelasnya.

Sementara itu, Ketua Tim LO, Suleman mengatakan, perlunya membuat cluster di daerah, khususnya di Kota Palu, seperti cluster pengungsian, logistik dan lain-lain. Saran itu bertujuan untuk memudahkan koordinasi saat terjadi bencana.

“Sehingga pascabencana terjadi, semua tidak kalang kabut. Mengingat potensi bencana di Palu sangat besar,”  kata Suleman. HGA

Leave A Reply

Your email address will not be published.