Perekat Rakyat Sulteng.

Tenny: Menikah Tanpa Rencana Adalah Bencana

PESAN KEPADA REMAJA SULTENG

61

SULTENG RAYA – Dewasa ini, pernikahan usia dini sangat marak terjadi di Indonesia. Kondisi itu dipengaruhi banyak hal, diantaranya menjadi kebiasaan suatu daerah hingga akibat seks bebas pada remaja.

Pasti, pernikahan dini lebih banyak dampak buruknya ketimbang dampak baiknya. Paling utama, banyak kasus menikah di usia remaja, mengakibatkan terputusnya pendidikan. Padahal, masa depan bangsa terletak di tangan remaja.

Artinya, remaja yang berkualitas dapat dipastikan masa depan bangsa ini lebih cerah. Sebaliknya, bila remaja saat ini tidak berkualitas maka boleh jadi masa depan bangsa ini lebih suram. Kualitas sumber daya manusia bisa didapatkan, salah satunya paling besar pengaruhnya adalah melalui pendidikan.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Perwakilan (Kaper) BKKBN Sulawesi Tengah, Tenny C Soriton mengatakan, jumlah penduduk yang besar dan berkualitas akan menjadi modal dalam pembangunan. Namun demikian, bila SDM yang tidak berkualitas akan menjadi beban bagi pembangunan.

Untuk itu, ia berharap, remaja di Sulteng tidak menikah pada usia muda. Karena, menikah tanpa rencana adalah bencana. Melanjutkan pendidikan setinggi-tinggi mungkin sebagai bekal masa depan remaja harus menjadi prioritas. Sehingga, di masa mendatang kualitas SDM generasi lebih baik lagi. Dengan begitu, remaja saat ini akan menjadi modal pembangunan di masa mendatang.

“Jangan sampai kita menyia-nyiakan masa depan kita karena tanpa perencanaan. Kalau terencana semua lebih mudah. Ingat! jangan sampai menikah di usia muda. Menikah tanpa rencana adalah bencana,” kata Tenny saat menyampaikan sambutan pada kegiatan ajang kreativitas generasi muda peduli kependudukan dalam rangka membentuk hari kependudukan di Taipa Beach, Rabu (14/8/2019).

“Pendidikan adalah modal utama bagi adik-adikku, untuk menempuh kehidupan masa depan yang saya pastikan, bahwa persaingan akan lebih keras dan lebih ketat dibandingkan dengan saat ini,” lanjutnya.

Selain itu, semakin banyaknya jumlah penduduk, juga akan timbul isu persaingan memperebutkan kesempatan kerja, kesempatan mengenyam pendidikan, pelayanan kesehatan dan sebagainya. Lebih dari itu, akan muncul perwaingan memperebutkan sumber daya alam (SDA) yang jumlahnya terbatas, misalnya kecukupan pangan lahan dan air bersih.

Terlebih, kata dia, dengan adanya revolusi industri 4.0 yang diperkirakan mesin dan robot akan mengambil alih 800 juta lapangan pekerjaan di seluruh dunia pada 2030. Ditambah lagi dengan revolusi sosial 5.0 semakin menuntut penyiapan SDM sejak dini perlu dilakukan.

“Sejak dini kita membangun kesadaran tentang kependudukan. Kuantitas itu penting, tapi lebih penting lagi kualitas. Kita yang akan menjalani masa depan, kita pula yang merencanakan masa depan kita,” tuturnya. HGA

Leave A Reply

Your email address will not be published.