Perekat Rakyat Sulteng.

Rektor: Peserta KKN Wajib Perkenalkan Budaya Kaili

38

SULTENG RAYA- Rektor Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Palu, Dr Rajindra, SE., MM, mewajibkan kepada seluruh peserta KKN Unismuh Palu, baik itu peserta KKN DIK, KKN MU maupun KKN Internasional untuk memperkenalkan dan mempromosikan budaya etnis kaili di lokasi KKN.

Mulai dari tarian, lagu-lagu daerah, maupun pakaian adat Kaili. Begitu juga dengan kulinernya, seperti masakan uta kelor, uta dada, kaledo, uvempoi dan sebagainya.

Hal tersebut bertujuan agar masyarakat tempat KKN Unismuh Palu tertarik mengenal budaya asli lembah Palu, etnis kaili, dengan harapan mereka bisa datang ke Kota Palu.

Dengan mereka datang ke Kota Palu, maka persempsi di luar sana jika Kota Palu hancur akibat musibah 28 September 2018 silam bisa terklarifikasi, karena di luar sana kata rektor masih banyak masyarakat yang menganggap Kota Palu sudah hancur dan lumpuh akibat musibah kemarin, karena telah dihantam tiga bencana alam sekaligus, yakni gempa bumi, tsunami, dan likuifaksi.

“Mungkin melalui ini bisa membantu pemerintah, kalau masyarakat daerah kita ini cepat bangkit, tidak mudah menyerah dengan keadaan,”kata rektor belum lama ini.

Para peserta KKN kata rektor, untuk sementara waktu selama mengikuti program KKN, diharapkan menanggalkan asal etnis mereka masing-masing, khususnya yang di luar dari etnis Kaili agar lebih fokus mempromosikan budaya etnis kaili. “Sekalipun peserta KKN itu etnis Bugis, Jawa, Banjar dan sebagainya, komitmen kita mempromosikan budaya Kaili, untuk itu sementara waktu para peserta KKN jadi orang Kaili semua dulu,”ungkap rektor.

Mengingat kata rektor, khususnya di luar negeri, masih banyak yang belum mengenal budaya Kaili lembah Palu, hal ini tidak seiring dengan program pemerintah Kota Palu yang ingin menjadikan Kota Palu sebagai Kota Wisata yang berlandaskan Iman dan Taqwa.

Sebagai Kota Wisata kata rektor, diantaranya yang harus di jual ke luar adalah budaya, dan kuliner. “Mungkin kita sebagai masyarakat akademis, bisa mengambil peran ini, yakni menjual atau mempromosikan budaya dan kulinernya agar bisa lebih dikenal masyarakat luar negeri, minimal Asia Tenggara,”jelasnya.

Baru-baru ini, rektor kembali melepas peserta KKN Internasional yang ditempatkan di Filipina selama 28 hari, di provinsi Mindanao. AMI

Leave A Reply

Your email address will not be published.