Perekat Rakyat Sulteng.

Organisasi Kota se-Asia Pasific Bantu Palu

Bentuk Bantuan Akan Dibicarakan 150 Anggota Tetap

50

SULTENG RAYA – Presiden United Cities and Local Government (UCLG) Asia Pacific (ASPAC) atau Organisasi Kota se-Asia Pasific, Tri Rismaharini siap membantu masyarakat Kota Palu yang terdampak bencana gempa, tsunami dan likuifaksi.

Ia dan 150 anggota tetap UCLG-ASPAC akan membicarakan mengenai bentuk bantuan yang akan diberikan mengingat bantuan tersebut berasal dari sumbangan warga di kota-kota anggota UCLG-ASPAC.

“Bulan Juli nanti saya akan mengikuti rapat UCLG dari seluruh negara di Kantor PBB (Perserikatan Bangsa-bangsa) di New York. Saat rapat akan saya ajukan agar Kota Palu diberikan bantuan,” kata Risma, yang juga menjabat sebagai Wali Kota Surabaya saat berkunjung di Kota Palu, Rabu (19/6/2019).

Kedatangan Risma bersama rombongan, Rabu (19/6/2019), diterima langsung Wali Kota Palu, Hidayat didampingi Sekretaris Kota (Sekkot) Palu, Asri L Sawayah serta sejumlah kepala organisasi perangkat daerah (OPD) di ruang kerja Walikota.

Dia berharap usulannya mendapat respon positif dari anggota UCLG dari negara-negara di dunia sehingga dapat mempercepat pemulihan ibu kota Provinsi Sulawesi Tengah dan sejumlah kabupaten terdampak bencana 28 September 2018 silam.

Selain itu, Risma juga melakukan penggalangan bantuan ke sejumlah organisasi Internasional.

“Saat ini, kami bersama perwakilan dari organisasi kota-kota di Perancis, juga akan mengumpulkan data. Kita berharap, bantuan bukan hanya datang dari Perancis, namun kota-kota lain di dunia juga ikut membantu masyarakat Kota Palu,” ucapnya.

“Nanti kami upayakan untuk membantu menggalang bantuan di luar negeri,” kata Risma menambahkan.

Ada beberapa agenda yang dilakukan Risma selama di Kota Palu, yakni mendampingi Mrs Fany salle dan Mr Simone Giovet selaku perwakilan organisasi kota se-Asia Pasific UCLG-ASPAC dan CUF berdialog dengan Pemkot Palu, untuk mengumpulkan data kebutuhan korban bencana yang masih membutuhkan bantuan.

“Kunjungan kali ini bersama Mrs. Fany salle dan Mr. Simone Giovet, untuk mengumpulkan data, baik kekurangan Huntap, bantuan bagi peralatan nelayan dan lain sebagainya,” ujar Wali Kota Surabaya dua periode itu.

Selain itu, Risma juga meresmikan sentra PKL atau sentra wisata kuliner di area Hutan Kota Kaombona Palu, Kelurahan Talise. Kemudian, peletakkan batu pertama pembangunan 11 unit Huntap di Kelurahan Tondo, Kecamatan Mantikulore dan peresmian Pasar Pinase di Kelurahan Baiya, Kecamatan Tawaeli.

TERMOTIVASI BANGKIT

Dalam pertemuan yang berlangsung penuh keakraban itu, Wali Kota Hidayat mengucapkan terima kasih kepada Wali Kota Surabaya dan rombongan atas kunjungannya ke Kota Palu.

Menurut Hidayat, kunjungan Tri Rismaharini berserta Mrs. Fany salle dan Mr. Simone Giovet menunjukkan betapa besarnya kepedulian Pemkot Surabaya beserta organisasi internasional terhadap masyarakat Kota Palu.

“Bentuk perhatian ini membuat kami masyarakat Kota Palu menjadi termotivasi untuk terus bangkit dan berupaya mewujudkan tatanan masyarakat yang lebih baik lagi serta lebih sejahtera. Tindakan nyata dari ibu Wali Kota Surabaya untuk percepatan pemulihan di Kota Palu teramat sangat kami apresiasi, baik itu di saat awal pascabencana hingga hari ini,” kata Hidayat.

Ia menyebutkan sekitar 55 ribu unit rumah yang hancur akibat bencana 28 September 2018.

“Jadi 55 ribu unit rumah yang rusak itu antara lain rusak berat, rusak sedang, rusak ringan, hancur dan hilang,” katanya.

Saat ini kata Hidayat, kondisi Kota Palu sudah mulai bangkit. Hal itu terlihat dari aktivitas masyarakat Kota Palu sudah kembali normal.

Namun, kata Hidayat, sampai saat ini pula, sebanyak 30 persen atau sekitar 40 ribu jiwa masyarakat korban bencana di Kota Palu masih menempati tenda-tenda darurat. Sementara, selebihnya telah direlokasi ke hunian huntara (Huntara).

“Selain itu kami juga masih terus mengupayakan kebutuhan Huntap bagi korban bencana. Tidak hanya itu, kami juga terus berupaya untuk membangkitkan kembali ekoomi masyarakat yang terdampak bencana, khususnya bagi nelayan dan UMKM,” ucapnya.

Korban bencana yang rumahnya rusak tersebut lanjutnya tidak semua direlokasi. Sebagian ada yang menerima dana stimulan untuk memperbaiki rumahnya yang rusak dan sisanya diberi bantuan berupa huntap.

“Ada yang dibangunkan huntap di atas tanah rumah mereka yang hancur karena tanahnya mereka tidak berada di zona merah. Jadi tidak semua direlokasi,” ujarnya.

BANTU AIR DAN LISTRIK

 Usai peninjauan  dan meletakkan batu pertama pembangunan Huntap, menurut Presiden UCLG-ASPAC Tri Rismaharini, bantuan yang cocok diberikan untuk kawasan relokasi dan hunian tetap (huntap) untuk korban bencana Palu.

“Paling penting infrastruktur air dan listrik berupa solar cell. Tidak bisa kita bayangkan kalau mereka (pengungsi korban bencana) tinggal di huntap tidak ada air bersih,” katanya usai meletakkan batu pertama pembangunan huntap bantuan pemerintah dan warga Kota Surabaya di kawasan relokasi dan huntap di Kelurahan Tondo, Rabu (19/6/2019).

Apalagi lanjutnya, kawasan tersebut jauh dari pusat kota dan sarana air bersih di kawasan huntap itu belum ada.

“Saat ini kami masih tahap survei dan assessment. Masih melihat-lihat bantuan apa yang cocok untuk diberikan. Nanti kita akan mendengar dan menerima masukan. Yang paling penting menurut saya air dan listrik,” ujarnya.

Olehnya, ia dan 150 anggota tetap UCLG-ASPAC akan membicarakan mengenai bentuk bantuan yang akan diberikan mengingat bantuan tersebut berasal dari sumbangan warga di kota-kota anggota UCLG-ASPAC. HGA/ANT

 

 

Leave A Reply

Your email address will not be published.