Perekat Rakyat Sulteng.

10 Titik Longsor di Morut

66

SULTENG RAYA – Bencana banjir yang melanda Kabupaten Morowali Utara (Morut) dalam sepekan terakhir tidak hanya merendam 45 Desa di lima Kecamatan,  namun juga mengakibatkan longsor di sepuluh titik di Kecamatan Bungku Utara dan Mamosalato.

Longsor tersebut terjadi di sejumlah ruas jalan tanggung jawab Kabupaten dan juga jalan Nasional, akibatnya sejumlah desa di dua kecamatan sulit di jangkau kendaraan.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Morut mencatat telah terjadi longsor di tiga titik jalan Kabupaten dan tujuh titik jalan Nasional.

“Untuk jalan Kabupaten yang mengalami longsor di tiga titik tersebut berada di lokasi ruas jalan antara Desa Baturube-Lemo Bungku Utara, jalan ini menghubungkan ibukota Kecamatan dengan sejumlah Desa lainnya, antara lain menuju Desa Lemo, Lemowalia dan Desa Salubiro dari SPC,” ujar Sekretaris BPBD Morut Darman Bada, Selasa (11/6/2019) di Baturube.

Selanjutnya kata Darman, longsor terparah terjadi di ruas jalan Nasional yang menghubungkan antara Kabupaten Banggai dan Morowali Utara tepatnya berada di antara Desa Momo Kecamatan Mamosalato-Baturube. Dilokasi tersebut terjadi longsor di tujuh titik yang mengakibatkan badan jalan amblas yang memang berada di lereng gunung.

Jalur ini sejatinya merupakan satu-satunya andalan masyarakat sebagai akses ekonomi utama menuju Kota Luwuk Banggai selain jalur laut yang menghubungkan pelabuhan Seliti-Kolonodale.

Selain akses ekonomi, jalur ini juga merupakan jalur utama bagi masyarakat yang akan berpergian ke Kota Luwuk dalam urusan pendidikan dan sebagainya.

Darman mengatakan pihak petugas BPBD bersama TNI dan Polri telah membuka jalur tersebut, meski masih sulit di lalui kendaraan roda empat dan roda dua akibat tebalnya endapan lumpur. Ditambah lagi, pada satu titik longsor telah dimanfaatkan masyarakat setempat untuk melakukan pungutan liar.

“Jadi disana itu kami temukan ada jembatan darurat yang di buat masyarakat kemudian di pungut biaya. Jadi ini merupakan bentuk pungutan liar, masyarakat disana tidak lagi membantu sesama yang mengalami musibah tetapi justru membebani. Setiap kendaraan roda empat dipungut biaya Rp50 ribu sekali lewat dan roda dua Rp20 ribu, tepatnya berada di ruas jalan Nasional antara Desa Tokala Atas dan Desa Momo,” jelasnya.

Ia menambahkan saat ini kondisi di dua kecamatan itu sudah dalam keadaan kondusif, tersisa sejumlah genangan-genangan air di dalam pemukiman warga di 26 Desa yang sempat terendam air.

“Pak Bupati Aptrilpel Tumimomor juga sudah turun langsung melihat kondisi bencana ini, beliau telah memerintahkan kepada BPBD tanggap darurat bencana untuk memberikan segala bantuan kepada wilayah yang terdampak,”  tutupnya. VAN

 

 

Leave A Reply

Your email address will not be published.