Perekat Rakyat Sulteng.

Puluhan Gas Elpiji 3 Kg Disita

30

SULTENG RAYA – Puluhan gas elpiji 3 Kg milik pengecer berhasil disita oleh Pemerintah Daerah (Pemda) Kabupaten Parigi Moutong (Parmout), bekerjasama dengan kepolisian setempat dari Inspeksi Mendadak (Sidak) yang dilaksanakan di sejumlah wilayah di Kota Parigi, Selasa (14/5/2019).

Kabag Perekonomian Setda Parmout, Alina Deu yang ditemui wartawan disela-sela Sidak di Pasar Sentral Parigi mengatakan, sidak yang dilaksanakan itu berdasakan laporan masyarakat Parmout yang kesulitan mendapatkan gas elpiji 3 Kg, dan harganya yang dibandrol mulai dari Rp 40 ribu sampai dengan Rp 50 ribu pertabungnya.

Menurutnya, sidak tersebut akan dilaksanakan di 23 wilayah Kecamatan Parmout yang pendistribusian gas elpijinya dilakukan oleh lima agen di pangkalannya masing-masing. “Untuk hari ini (Kemarin) kami tindaki yang mengecer gas elpijinya, dan langsung melakukan penelitiannya agar memberikan efek jerah kepada mereka,” ujarnya.

Pada intinya, kata dia, masyarakat masih kurang memahami bahwa mengecer gas elpiji 3 Kg tidak dibenarkan, karena merupakan bahan bakar bersubsidi dan peruntukkannya bagi masyarakat ekonomi rendah atau miskin. “Kami tidak tahu pasti sebenarnya mereka paham atau pura-pura tidak tahu. Namun ini upaya pembenaan kepada para pengecer,” katanya.

Dikatakannya, dari hasil sidak itu pihaknya tidak mendapatkan informasi pasti dari pangkalan mana gas elpiji 3 Kg tersebut didapatkan dan dijual kembali dengan harga tinggi. Banyak dari para pedagang di Pasar Inpres Parigi yang mengaku, gas-gas itu merupakan titipan dari orang yang membeli gas di pangkalan lebih dari satu, serta mendapatkannya dari Kota Palu.

“Mereka tidak ada yang mau mengaku pangkalan mana yang memberikan mereka gas. Tapi kalau stok mereka habis, ada yang antarkan gas, diantar menggunakan motor. Ada juga yang dapat gas itu dari Kota Palu,” jelasnya.

Terkait dengan kelangkaan, kata dia, sebenarnya hal itu tidak seharusnya terjadi. Sebab, sesuai hasil koordinasi pihaknya di Pertamina Regional tujuh di Makassar, kuota gas elpiji 3 Kg untuk wilayah Kabupaten Parmout telah mencukupi sesuai dengan jumlah warga miskin, dan bahkan mendapatkan tambahan kuota. Hanya saja, berdasarkan amatan yang dilakukan, ternyata ASN dan pemilik rumah makan besar di wilayah Kota Parigi juga mengunakan gas elpiji 3 Kg yang dibeli mereka dari pangkalan yang ada. Padahal, peruntukkan gas bersubsidi itu hanya untuk masyarakat miskin.

“Harusnya pangkalan juga harus mengetahui ini, ASN tidak boleh gunakan gas elpiji 3 Kg. Begitu juga dengan rumah makan besar yang ada. Peruntukkan gas ini untuk masyarakat miskin,” tegasnya.

Akibatnya, kuota gas elpiji 3 Kg untuk masyarakat miskin terus berkurang, karena tidak tepat sasaran. Penyebab lainnya juga akan terus ditelusuri agar tidak ada kelangkaan lagi yang terjadi.

Diketahui, Asisten 1 Bidang Perekonomian dan Pembangunan, dr. Agus S Hadi bersama Bagian Perekonomian Setda Parmout bekerjasama dengan Polres Parmout, Satuan Polisi Pamong Praja (Sat Pol PP), juga ikut melakukan Sidak disejumlah wilayah di Kota Parigi. OPI

Leave A Reply

Your email address will not be published.