Perekat Rakyat Sulteng.

Sulteng Dikelilingi Sesar Aktif

171

SULTENG RAYA – Sulawesi Tengah, merupakan salah satu daerah rawan bencana gempa bumi dan tsunami di Indonesia, karena terletak dekat dengan sumber gempa bumi yang berada di darat dan di laut.

Beberapa sesar aktif yang dapat memicu gempa tektonik dan tsunami ‘mengintai’ daerah berpenduduk sekitar 3,2 juta jiwa yang tersebar di 13 kabupaten/kota ini.

Sesar aktif diantaranya Sesar Palu Koro, Sesar Sausu di Kabupaten Poso, dan beberapa sesar aktif di Kepulauan Banggai yakni Sesar Peleng, Sesar Naik Batui, Sesar Balantak dan Sesar Ambelang.

Maka sangat diperlukan upaya-upaya mitigasi baik di tingkat pemerintah maupun masyarakat untuk mengurangi risiko akibat bencana gempa bumi dan tsunami.

Pada Jumat (12/4/2019) malam, tepatnya pada pukul 19.40 WITA, warga Banggai, dikagetkan dengan guncangan kuat gempa dengan magnitudo 6,9.

Namun, setelah dilakukan pemutakhiran, magnitudo gempa turun menjadi magnitudo 6,8 dengan episenter terletak pada koordinat 1,89 LS dan 122,57 BT tepatnya di Teluk Tolo pada jarak 82 kilometer arah barat daya Kepulauan Banggai, dengan kedalaman 17 kilometer. Atau, 85 km Barat Daya Banggai Kepulauan, 113 km Barat Daya Banggai, 113 km Timur Laut Morowali.

“Setelah dilakukan analisis, gempa di Kepulauan Banggai itu merupakan jenis gempa dangkal akibat aktivitas sesar aktif yakni Sesar Peleng,” Kepala Bidang informasi Gempabumi dan Peringatan Dini Tsunami Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Daryono, Sabtu (13/4/2019).

Gempat akibat Sesar Peleng dirasakan warga di Kabupaten Banggai hingga Kabupaten Morowali dan Morowali Utara.

Sesar Peleng merupakan sesar aktif yang memiliki laju sesar sebesar 1,0 milimeter per tahun dan magnitudo maksimum yang mencapai 6,9.

Jalur sesar aktif itu, yakni berarah ke baratdaya-timut laut di Pulau Peleng dan menerus ke Teluk Tolo.

“Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan bahwa gempa ini dibangkitkan oleh deformasi batuan dengan mekanisme pergerakan mendatar atau strike slip,” kata

Dugaan itu kata Daryono, didasarkan pada alasan bahwa lokasi episenter terletak pada kelurusan Sesar Peleng yang menerus ke laut dengan mekanisme pergerakan mendatar menganan atau dextral.

Gempa Jumat malam itu, juga terasa kuat di Kota Palu, ibu kota Sulteng  sekitar 6 detik dan di Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan, sekitar 4 detik.

Getaran gempa juga dirasakan di beberapa wilayah di Sulteng, Manado (Sulut), dan Makassar (Sulsel).

Kepanikan Warga

Gempa yang terjadi saat menanti waktu shalat isya tersebut, menimbulkan kepanikan warga, yang langsung berlarian ke perbukitan dan tempat tinggi lainnya untuk menyelamatkan diri.

“Masyarakat banyak berlarian ke bukit karena takut tsunami sebagaimana imbauan  BMKG yang mengatakan gempa berpotensi tsunami,” kata Bupati Banggai Herwin Yatim saat dihubungi Sulteng Raya, sesaat setelah gempa, Jumat (12/4/2019) malam.

Bupati Herwin menceritakan saat gempa ia baru tiba di Kota Luwuk dari  Kecamatan Pagimana. Ia pun mengatakan situasi kota sempat kacau.

“Baru tiba dari Pagimana, dan saya langsung cek ke kawasan pantai. Alhamdulillah tidak ada tsunami,” ujarnya.

Guncangan gempa yang dirasakan kuat oleh warga ternyata juga memicu dikeluarkannya peringatan dini tsunami oleh Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG).

BMKG mengeluarkan peringatan tsunami dengan status waspada khususnya untuk Kabupaten Morowali.

Status waspada berarti masyarakat diarahkan untuk menjauhi pantai dan sungai. Daerah yang berpotensi tsunami adalah di Kecamatan Toili, Morowali. Masyarakat di daerah tersebut diminta untuk mengungsi.

Pada pukul 20.48 WITA, BMKG mengakhiri peringatan dini tsunami. Berdasarkan pantauan citra satelit BMKG, ketinggian gelombang air laut di Kabupaten Banggai dan sekitarnya pasca gempa antara 0,5 hingga satu meter. Artinya masih normal.

Sejarah Sesar Peleng

Sebelum terjadinya gempa baru-baru ini, tercatat di Kepulauan Banggai pernah dilanda gempa dahsyat yang menyebabkan tsunami pada 13 Desember 1858 silam. Terjangan tsunami itu menyebabkan kerusahakan parah di desa sepanjang pesisir Pantai Kepulauan Banggai.

Tidak membutuhkan waktu lama, pada 29 Juli 1859 wilayah Kepulauan Banggai kembali dilanda tsunami dengan kerusahakan yang lebih parah.

Catatan terakhir, gempa berkekuatan magnitudo 7,5 pada 4 Mei 2000 menyebabkan tsunami dengan ketinggian diperkirakan 3-6 meter melanda Kota Luwuk, Kabupaten Banggai, dan Pulau Peleng. Dampak dari tsunami mengakibatkan korban meninggal sebanyak 46 orang dan 264 orang luka-luka.

Daerah yang terkena dampak tsunami yakni di Kecamatan Totikum, Kayutanyo, dan Uwedikan dengan landaan tsunami sejauh 100 meter dari garis pantai.

“Di dermaga Totikum air surut kurang lebih 200 meter,” tambahnya.

Selain itu, Kabupaten Poso juga sering diguncang gempa bumi dangkal akibat sesar aktif. Gempa diduga dipicu aktivitas Sesar Sausu.

Trauma Gempa Palu

Kepanikan warga Banggai pada Jumat malam itu, tentunya tidak lepas dari trauma akibat gempa kuat yang juga mengguncang Sulawesi Tengah tepatnya di Kota Palu, Sigi dan Donggala pada hari yang sama 28 September 2018.

Gempa berkekuatan magnitudo 7,7 yang terjadi usai adzan magrib itu disusul gelombang tsunami di pantai barat Sulawesi pada pukul 18.02 WITA.

Pusat gempa berada di 26 km utara Donggala dan 80 km barat laut kota Palu dengan kedalaman 10 km. Saat itu, gelombang setinggi lima meter menghantam Kota Palu.

Peristiwa tersebut juga disusul dengan likuifaksi, yaitu pencairan tanah sehingga menimbulkan kerusakan yang masif serta korban jiwa dalam jumlah yang besar.

Terdata akibat gempa bumi, tsunami dan likuifaksi yang terjadi di akhir September 2018 itu, jumlah korban jiwa mencapai 3.397 orang meninggal dunia, 4.426 orang luka-luka, 221.450 orang mengungsi dan terdampak serta 69.139 unit rumah rusak.

“Gempa ini sama tipenya ‘strike slide’ (pergerakan mendatar), mirip, cuma lokasi berbeda,” kata Kepala BMKG Dwikorita Karnawati yang menyebutkan gempa tersebut setipe dengan gempa yang mengguncang Palu pada September lalu.

Kendati memiliki kesamaan, Dwikorita belum dapat memastikan apakah gempa itu akan semakin kuat sebagaimana di Palu.

Berdasarkan ulasan BMKG, Sulawesi Tengah, merupakan salah satu daerah rawan bencana gempa bumi di Indonesia, karena terletak dekat dengan sumber gempa bumi yang berada di darat dan di laut.

Sumber-sumber gempa bumi tersebut terbentuk akibat proses tektonik yang terjadi sebelumnya. Sumber gempa bumi di laut berasal dari penunjaman Sulawesi Utara yang terletak di sebelah utara Pulau Sulawesi, sedangkan sumber gempa bumi di darat bersumber dari beberapa sesar aktif di daratan Sulawesi Tengah, salah satunya adalah Sesar Palu Koro.

Sesar Palu Koro merupakan sesar utama di Pulau Sulawesi dan tergolong sebagai sesar aktif.

Wilayah Sulawesi Tengah paling tidak telah mengalami 19 kali kejadian gempa bumi merusak sejak 1910 hingga 2013. Beberapa kejadian gempa bumi merusak tersebut pusat gempa buminya terletak di darat.

Kejadian gempa bumi dengan pusat gempa bumi terletak di darat di sekitar lembah Palu Koro diperkirakan berkaitan dengan aktivitas Sesar Palu.

Sesar Palu-Koro sendiri terbentuk dari tumbukan yang juga dihasilkan oleh NNW-SSE Palu-Koro dengan gerakan sesar sinistral (mengiri).

Pergerakan sesar ini juga dikarenakan oleh gaya transtensional, yang terdiri dari gaya transpressive (menekan) dan extensional (perluasan).

Patahan Palu-Koro memanjang dari palu ke arah Selatan Tenggara melalui Sulawesi Selatan bagian Utara melewati Teluk Palu menuju ke Selatan Bone sampai di laut Banda.

Sesar ini diduga sebagai salah satu sesar yang sangat mengkhawatirkan. Pergeseran pada lempeng-lempeng tektonik yang cukup aktif di sesar Palu Koro membuat tingkat kegempaan di wilayah itu juga dikategorikan cukup tinggi.

Wilayah yang rawan akibat aktivitas sesar ini, antara lain Kabupaten Buol, Tolitoli, Donggala, dan Kota Palu. RAF/ANT/ROA

Leave A Reply

Your email address will not be published.