Perekat Rakyat Sulteng.

Rumah Hilang 4.573, Kebutuhan Huntap di 5.000 Unit

29

SULTENG RAYA – Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kota Palu mencatat, jumlah rumah hilang akibat tsunami dan likuefaksi di Kota Palu sebanyak 4,573. Namun, kebutuhan hunian tetap (Huntap) mencapai 5.000 unit.

Menurut Kepala Bappeda Kota Palu, Arfan, kebutuhan Huntap yang melampaui jumlah rumah hilang akibat banyaknya rumah warga yang berada di lintasan patahan Sesar Palu-Koro. Sehingga, hal itu menjadikan jumlah kebutuhan Huntap.

“Berdasarkan aturan yang ada, setiap rumah yang berada di atas patahan, wajib untuk direlokasi. Mereka (pemilik) akan mendapatkan 1 unit Huntap,” kata Arfan saat menyampaikan pemaparannya pada Musyawarah Rencana Pembangunan (Musrenbang) Inklusi Kota Palu tahun 2019 di salah satu restoran di Kota Palu, Kamis (14/3/2019).

Ia mengatakan, rumah di atas patahan wajib direlokasi sebagai upaya untuk mengurangi dampak saat bencana terulang. Jad, kata dia, tidak ada alasan bagi warga untuk tidak pindah. Meski rumahnya hanya rusak ringan atau ringan, wajib pindah dan tidak boleh dilakukan pembangunan di area tersebut. Karena, seluruh area lintasan patahan sudah ditetapkan sebagai zona rawan bencana (ZRB) I alias zona merah.

Ia juga menegaskan, bagi warga yang memiliki rumah di lintasan patahan, dipastikan tidak mendapatkan dana stimuan perbaikan rumah, laiknya warga yang rusak ringan, sedang dan berat di luar zona merah.

“Tidak ada penggantian atau dana stimulan bagi mereka seperti yang dijanjikan Pemerintah Pusat yang berada di lintasan patahan,” katanya.

Diketahui, peristiwa bencana alam pada  28 September 2018 lalu itu, Bappeda Kota Palu mencatat sebanyak 2.663 korban jiwa, terdiri dari 2.131 orang meninggal dunia dan 532 orang dinyatakan hilang.

Adapun datanya, di Kecamatan Mantikulore 319 korban jiwa, 255 meninggal dunia dan 64 hilang. Kecamatan Palu Selatan sebanyak 581 korban jiwa, 427 meninggal dunia dan 154 hilang. Kecamatan Tatanga 110 korban jiwa, 65 meninggal dunia dan 45 hilang.

Selanjutnya, Kecamatan Tawaeli sebanyak 155 korban jiwa, 149 meninggal dunia dan 6 dinyatakan hilang. Kecamatan Palu Timur sebanyak 306 korban jiwa, 279 meninggal dunia dan 27 hilang.

Kemudian, Kecamatan Palu Utara 69 korban jiwa, 54 meninggal dunia dan 15 hilang. Kecamatan Ujuadi sebanyak 180 korban jiwa, 122 meninggal dunia dan 58 hilang.

Terakhir, Kecamatan Palu Barat merupakan tercatat sebagai daerah paling banyak korban jiwa, yakni sebanyak 943 orang, 780 meninggal dunia dan 163 hilang. Penyebab tingginya jumlah korban jiwa di daerah Palu Barat karena salah satu kelurahan terdapak likuefaksi, yakni Kelurahan Balaroa. HGA

Leave A Reply

Your email address will not be published.