Perekat Rakyat Sulteng.

Pelaku Pembacokan Siswi SD di Sigi Ditangkap

127

SULTENG RAYA – Onis (25) yang merupakan tersangka pembacokan siswi Sekolah Dasar (SD) berinisial MG (11) di Kecamatan Palolo, Kabupaten Sigi, berhasil ditangkap.

Diketahui, tersangka dan korban masih memiliki hubungan keluarga, mereka berdua masih sepupu dan memiliki hubungan spesial.

Dari pengakuan tersangka kepada penyidik, pembacokan tersebut dilakukan karena tersingung pada sikap kasar keluarga korban yang seolah tidak menghargai dirinya. Tersangka juga mengaku cemburu karena korban mulai dekat dengan laki-laki lain.

Setelah membacok MG, Onis sempat melarikan diri dan bersembunyi di Desa Rejeki, Rabu (13/2/2019).

Polisi bersama masyarakat kemudian melakukan pencarian terhadap tersangka di pegunungan dan kebun-kebun warga di Desa Rejeki selama tiga hari.

Karena tidak membuahkan hasil, upaya lain pun dilakukan. Polres Sigi melakukan upaya persuasif kepada orang tua tersangka di Desa Lewara, Marawola Barat, hingga akhirnya tersangka diserahkan keluarganya ke penyidik pada Rabu (20/2/2019).

Kapolres Sigi, AKBP Wawan Sumantri mengatakan, saat ini pihaknya masih terus melakukan pendalaman atas pengakuan tersangka dimana juga diakui telah pacaran dan pernah berhubungan badan dengan korban sebanyak tiga kali.

“Namun pengakuan korban ini masih terus kita dalami karena baru ditangkap kemarin, jadi musti kita dalami lagi untuk penerapan pasal sementara itu,” kata Kapolres saat merilis tersangka, Jumat (22/2/2019).

Untuk barang bukti (BB), polisi mengamankan 1 lembar jaket berwarna biru bermotif garis putih–putih, 1 lembar sarung batik bermotif kipas berwarna coklat biru dongker dan ungu, 1 lembar baju kaos dalam berlumuran darah berwarna pink bermotif bunga, 1 lembar baju kaos berwarna putih berlumuran darah bermotifkan boneka, 1 lembar celana pendek berwarna biru dan 1 lembar celana dalam berwarna hijau bermotif bunga.

“Akibat perbuatannya, tersangaka dijerat Pasal 80 Ayat (1) jo 76 C Undang-Undang Nomor 35 tahun 2014 tentang perubahan atas Undang-Undang Nomor 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak dengan ancaman hukuman 15 tahun penjara,” tegas perwira menengah (Pamen) berpangkat dua melati di pundaknya itu.

Sebelumnya diberitakan, kronologis pembacokan terjadi saat korban MG dijemput oleh kakaknya Irfan (13) di sekolahnya SD Inpres Salu Pondo yang berjarak 1 KM dari pondok ibunya.

Ditengah perjalanan, Onis menghadang keduanya. Sambil menghunus parangnya, Onis berkata pada Irfan, ‘kamu ini yang pandang enteng saya’. Irfan jawab, ‘Minta ampun saya, tidak saya pandang enteng kamu’.

Tanpa bertanya lagi, Onis langsung menyerang Irfan dengan parangnya. Irfan pun berlari ke rumahnya dan meninggalkan MG sendiri setelah berhasil menghindari sabetan parang pelaku. Tiba di rumahnya, Irfan pun mengadukan ke ibunya peristiwa yang barusan ia alami bersama adiknya.

Tanpa panjang lebar, Irfan dan ibunya menuju TKP, namun terlambat, MG telah ditemukan bersimbah darah dan sudah tidak bernyawa lagi. FRY

Leave A Reply

Your email address will not be published.