Perekat Rakyat Sulteng.

Pelaku Pembunuhan Pelajar SMP Siuna Ditangkap

94

SULTENG RAYA – Kasus meninggalnya Rizki Ahad alias IKI (13) seorang pelajar SMP Desa Siuna, Kecamatan Pagimana yang terjadi pada Kamis (23/8/2018) lalu di Jalan R E Martadinata, Kompleks Tanjungsari, Kelurahan Karaton, Kecamatan Luwuk Kabupaten Banggai, akhirnya berhasil diungkap personil Satuan Reskrim Polres Banggai.

Kapolres Banggai, AKBP Moch Sholeh mengatakan, awalnya kejadian itu dilaporkan sebagai kecelakaan lalu lintas (Laka lantas), sehingga keluarga menolak untuk dilakukan otopsi dan meminta agar korban segera dimakamkan.

“Namun, setelah dilakukan olah TKP (Crime Scene Processing)  timbul kecurigaan kematian pada korban tidak wajar,” kata Kapolres Banggai didampingi KBO Satuan Reskrim, Ipda Teddy Polii dan Kanit IV Ipda Herman saat merilis tersangka, Kamis (31/1/2019).

Sehingga, kata AKBP Moch Sholeh,  Satuan Reskrim kemudian melakukan ekshumasi (Penggalian Mayat) dan otopsi pada 8 Desember 2018, dan dari keterangan ahli forensik bahwa penyebab kematian korban adalah akibat kekerasan benda tumpul.

“Sebab pada otopsi tersebut ditemukan retak tulang tengkorak dan patah tulang rahang sebelah kanan korban,” jelas AKBP Moch Sholeh.

Dengan hasil otopsi tersebut, anggota kemudian melakukan penyelidikan dan penyidikan secara intensif dan diperoleh alat bukti yang cukup, sehingga dilakukan penetapan dan penangkapan terhadap dua tersangka pada Ahad (27/1/2019).

“Kedua tersangka itu yakni Abdulrahman Tuna alias AIS (51) dan Randi Jafar alias Randi (21),” ujar Kapolres.

Lanjut Kapolres, tersangka Randi Jafar alias Randi diduga memegang dan menahan tubuh korban dari belakang, sedangkan Abdulrahman Tuna diduga memukul korban menggunakan kayu balok.

“Kami juga mengamankan barang bukti yakni, 2 unit sepeda motor dan pakaian korban berupa baju dan celana,” lanjut Kapolres.

Sementara, atas perbuatan kedua tersangka dikenakan pasal 340 KUHP subsider pasal 338 KUHP lebih subsider pasal 351 ayat (3) KUHP jo pasal 55. 56 KUHP tentang pembunuhan berencana dengan ancaman hukuman pidana penjara minimal 20 tahun, maksimal seumur hidup atau hukuman mati.

“Untuk motif pembunuhan saat ini masih terus dalam pendalaman penyidik,” jelas perwira menengah (Pamen) berpangkat dua melati di pundaknya itu.*/YAT

Leave A Reply

Your email address will not be published.