Perekat Rakyat Sulteng.

Tiga Pengedar Sabu Diringkus di Tenda Pengungsian

64

SULTENG RAYA – Sungguh miris. Peristiwa bencana alam gempa bumi, tsunami dan likuifaksi melanda Kota Palu pada 28 September 2018 lalu, ternyata tidak praktis membuat sadar sebagian orang melakukan kejahatan.
Buktinya, meski menjadi korban bencana gempa bumi dan likuifaksi di Petobo, Kota Palu, tiga orang di tenda pengungsian masih tetap menjalankan transaksi haram narkotika.
Namun, transaksi gelap itu cepat diendus pihak Badan Narkotika Nasional (BNN) Kota Palu.
Pada Senin (7/1/2019) sekira pukul 10.00 Wita, BNN Palu berhasil meringkus tiga pelaku saat bersiap bertransasksi di tenda pngungsian di Jalan Kebun Sari, Kelurahan Petobo, Kecamatan Palu Selatan.
Ketiga pelaku, yakni R bertindak sebagai bandar, bersama kekasihnya EL mengatur keuangan hasil penjualan shabu. Kemudian, AW berperan sebagai kurir sekaligus pengedar.
“Mereka ditangkap saat tengah mempersiapkan transaksi penjualan shabu-shabu, di dalam tenda pengungsi,” ungkap Kepala BNN Kota Palu, AKBP Abire Nusu, saat konfrensi pers di Kantor BNN Kota Palu, Jumat (11/1/2019) pagi.
Kepala BNN mengungkapkan, kronologis penangkapan berawal saat BNN Kota Palu menerima laporan dari masyarakat mengenai adanya dugaan penyalahgunaan narkotika dilakukan pelaku R dan EL, di tenda pengunsgian, di Jalan Kebun Sari, Kelurahan Petobo.
Mendapat laporan tersebut, Tim Berantas BNN Kota Palu dipimpin AKP Gusti Bagus Ngurah, langsung menindaklanjuti melakukan penggerebekan dan penggeledahan di tenda pengungsian milik R.

9,75 GRAM SHABU DIAMANKAN

Setelah dilakulan pengeledahan terhadap R dan kekasihnya EL, petugas menemukan barang bukti berupa sembilan paket plastik bening berisi serbuk Kristal yang diduga shabu dengan berat Bruto 5,70 Gram, lima buah alat isap Shabu alias bong, 13 korek api gas, tiga pack plastik kosong pembungkus shabu, dua timbangan digital, sebuah HP Samsung lipat warna hitam, satu tas kosmetik warna pink, dua sendok shabu terbuat dari potongan pipet, dua Jarum Sumbu dan dua kaca pireks.
“Selain mengatur keuangan hasil penjualan shabu, EL ini juga berperan sebagai pengukur atau yang menimbang shabu sesuai pesanan pembeli,” jelas , AKBP Abire Nusu.
Saat tiba di lokasi, Tim Berantas menemukan AW bersama R dan EL. Ketiga pelaku termasuk AW langsung digeledah.
Dari terduga AW, saat itu mengenakan tas selempang warna coklat loreng ditemukan barang bukti berupa, 23 paket shabu dalam plastik klip bening berat Bruto 4,05 gram, satu bungkus plastik klip bening diduga daun ganja kering berat bruto 1,30 gram dan uang tunai Rp500 ribu diduga hasil penjulan narkotika.

PELAKU R SUDAH LAMA JADI TARGET

Abire Nusu mengatakan, tersangka R merupakan salah satu pelaku sudah lama menjadi target BNN Palu.
Bahkan, pelaku R sempat ditangkap BBN Provinsi Sulawesi Tengah pada 2016 lalu. Karena tidak menemukan bukti, maka R dibebaskan kala itu.
Ironisnya, pelaku R merupakan salah satu korban terdampak langsung bencana likuifaksi di Petobo. Rumah R hancur pada 28 September 2018 lalu.
“Dia pernah ditangkap BNN provinsi sekira 2016 lalu. Tapi karena tidak ditemukan barang bukti, saat dia dibebaskan. R sudah lama menjadi target operasi (TO) dan selama ini di rumahnya yang sekarang hancur dipasang CCTV, sehingga setiap akan digerebek, tersangka selalu lolos. Tapi sekarang akhirnya tertangkap juga,” terangnya.
Ketiga pelaku dikenakan Pasal Pasal 114 ayat (1) , Pasal 112 ayat (l), Pasal 111 Ayat (1) Jo Pasal 132 Ayat (1) Huruf a, Sub Pasal 127 Ayat (1) huruf a, Undang-Undang Nomor 35 tahun 2009 tentang Narkotika.AMI

Leave A Reply

Your email address will not be published.