Perekat Rakyat Sulteng.

Arif Latjuba Sebut Semen di Palu Sesuai HET

37

SULTENG RAYA – Sepekan terkahir, masyarakat mengeluhkan tingginya harga semen di Kota Palu. Padahal, semen mulai melimpah masuk ke Sulawesi Tengah, termasuk Kota Palu.

Harga saat ini di pasaran mencapai Rp68 ribu per sak. Harga itu dianggap memberatkan konsumen yang ingin membangun kembali tempat tinggalnya yang rusak akibat bencana gempa bumi, tsunami dan ikuifkasi pada 28 September 2018 lalu.

Namun, menurut Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Sulteng, Arif Latjuba, harga tersebut masih sesuai Harga Eceran Tertinggi (HET) ditetapkan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sulteng.

Arif Latjuba, mengatakan, saat pelaksanaan Operasi Pasar (OP) semen berdasarkan kesepakatan, HET semen antara distributor ke pengecer disaksikan pemerintah dan Satuan Tugas (Satgas) Pangan Sulteng yakni Rp65 ribu  sampai Rp68 ribu.

“Tapi bila masyarakat mau langsung ke gudang distributor dengan syarat dan ketentuan yang ditetapkan, maka harga hanya Rp63 ribu per sak,” tegas Arif Latjuba kepada Sulteng Raya, Kamis (10/1/2019).

Mengenai seisih harga Rp5 ribu dianggap masih batas wajar. Karena, saat distributor mendistribusikan semen ke toko membutuhkan biaya operasional. Terlebih, jarak pengantaran cukup memakan biaya.

Sehingga, ia menilai harga Rp68 ribu per sak masih ideal.

“Kalau kisaran untuk harga OP itu, yang disepakati, Rp65 ribu sampai dengan Rp68 ribu. Yang Bosowa minta Rp68 ribu per sak, karena mereka menganggap bukan BUMN dan pembiayaan cukup tinggi, jadi diminta diangka itu,” katanya.

Mengenai OP diselenggarakan pemerintah kerja sama distributor, kata Arfi, pihaknya telah intens menyosialisasikannya kepada masyarakat melalui pemerintah kabupaten dan kota.

“Kami sudah sosialisasi dan sampaikan dibeberapa media, dan juga sudah menyurat ke Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disperdagin) Kota Palu, Kabupaten Donggala maupun Sigi,” tuturnya.

Sebelumnya, Stok semen di toko-toko pengecer bahan bangunan di Kota Palu, Sulawesi Tengah saat ini cukup melimpah, tetapi harganya masih tinggi jauh di atas harga eceran tertinggi (HET) yang ditetapkan bersama pemerintah, distributor dan pengecer beberapa waktu lalu.

HET semen untuk semua merek ditetapkan sebesar Rp65.000/sak, tetapi harga yang berlaku di pasaran masih di atas berkisar Rp68.000 s/d Rp70.000/sak.

“Kok harganya masih tetap tinggi. Padahal sekarang ini stok semen di pengecer melimpah yang seharusnya sudah kembali normal,” kata Marthen, warga di Palu, Rabu (9/1/2019).

Mengingat harga semen masih diatas HET, ia berharap pemerintah menekan pangecer untuk menurunkan harga sesuai standar yang telah ditetapkan tersebut.

Hal senada juga disampaikan warga Palu lain ya, Budi. Ia mengatakan baru saja membeli semen dengan harga berbeda.

“Saya beli semen di satu toko dengan harga Rp68.000/sak,” kata dia.

Kemudian membeli semen lagi di toko lain dengan merek yang sama, tetapi harganya berbedah yakni Rp70.000/sak.

Padahal pemerintah sudah tetapkan HET semen mereka Tonasa, Tiga Roda dan Bosowa masing-masing Rp65.000/sak.

Sebelumnya, kata Budi, harga semen di tingkat pengecer sempat melambung tinggi hingga mencapai Rp80.000/sak. Saat itu harga semen tinggi karena stok terbatas dan permintaan masyarakat meningkat.

Di satu sisi pasokan semen ke Kota Palu melalui laut terhambat pelabuhan peti kemas di Pantoloan rusak diterjang gempa dan tsunami.

Distributor dan pedagang mendatangkan bahan bangunan itu dari pabrik lewat jalur darat sehingga biaya transportasi mahal dan berdampak terhadap harga jual.

Tetapi kemudian, Pemprov Sulteng dalam mengatasi krisis semen menggundang semua distributor dan beberapa pengecer bersama satgas pangan Sulteng untuk rembuk bersama sehingga disepakati menetapkan HET.

Ketua Bidang Perdagangan Kadin Sulteng, Achrul Udaya meminta pemerintah untuk menindak tegas pengecer yang menjual semen diatas HET yang telah ditetapkan.

“Kalau HET semen sudah ditetapkan Rp65.000/sak, maka pengecer harus menjualnya seperti itu,” kata dia.

Sekarang ada pengecer yang menjual Rp68.000/sak dan ada juga menjual Rp70.000/sak. “Itukan sudah mengabaikan aturan bersama,” ujarnya.RHT/ANT

Leave A Reply

Your email address will not be published.