Perekat Rakyat Sulteng.

Peta ZRB Dirilis, Potensi Downlift Luput

28

SULTENG RAYA – Pemerintah melalui lima kementerian, dua badan, pemerintah Provinsi Sulteng, serta pemerintah kabupaten/kota yang terdampak bencana telah merilis peta Zona Rawan Bencana (ZRB).

Namun, ternyata Penurunan muka tanah atau dikenal dengan istilah downlift, belum dimasukkan dalam peta ZRB. Padahal, potensi downlift merupakan salah satu ancaman nyata bagi masyarakat. Poternsi downlift juga sudah kerap terjadi di Sulteng.

Demikian dikatakan pengamat kebencanaan dari Universitas Tadulako (Untad), Abdullah, pada diskusi Penataan Ruang Untuk Mitigasi Bencana dilaksanakan AJI Kota Palu, Kabar Sulteng Bangkit, dan Internews, di halaman Sekretariat AJI Kota Palu, Selasa (8/1/2018).

Menurutnya, pascabencana 28 September 2018 lalu, perhatian semua kalangan terfokus pada potensi bencana gempa bumi, tsunami dan likuifaksi. Padahal, kata dia, ada dua bencana luput, yakni longsor dan donwlift.

“Pasca bencana lalu, terjadi longsor di beberapa titik seperti Enu, Kulawi, serta jalur trans Kebun Kopi. Sementara itu di garis pantai Teluk Palu dan kawasan Pantai Barat Kabupaten Donggala, terjadi penurunan muka tanah yang menyebabkan kawasan yang awalnya daratan menjadi kawasan pasang surut air laut,” jelasnya.

Dirinya juga menjelaskan, dari beberapa bencana gempa bumi yang terjadi sebelumnya, fenomena downlift ini terjadi signifikan, misalnya pada gempa 1938, pesisir pantai mamboro hilang, gempa 1927 menyebabkan pesisir pantai Talise juga turun. Kemudian pada bencana 1968, pusat desa kambayang runtuh total ke dasar laut. Dari kenyataan ini kata dia, potensi downlift kedepannya harus dipertimbangkan sebagai salah satu potensi bencana.

Dirinya juga menyayangkan karena di peta ZRB yang telah ditetapkan, beberapa kecamatan di kawasan pantai barat Donggala yang terdampak gempa, tsunami, longsor, bahkan downlift, seperti Sindue, Sirenja, Balaesang dan Balaesang Tanjung, tidak dimasukkan. Selain itu, di Kecamatan Parigi, di Desa Kampal dan Desa Lebo yang juga mengalami downlift, tidak masuk dalam peta.

“Peta di arah selatan juga hanya sampai Sadaunta (Kulawi) dan di Utara hanya sampai di Labuan (Donggala). Peta ini sangat bagus, namun masih butuh penambahan wilayah yang terdampak namun belum termuat, seperti Kulawi bagian selatan, pantai barat Donggala, serta Parigi Moutong,” ujarnya.

 

Pemprov Bakal Masukkan Revisi RTRW

Kepala Dinas Bina Marga dan Penataan Ruang (Bimatarung) Sulteng, Syaifullah Djafar, pada kesempatan yang sama menjelaskan, peta ZRB ini memang baru ini yang disetujui, karena pasca gempa, Wakil Presiden (Wapres) meminta dalam jangka waktu dua bulan, peta ini selesai. Dengan permintaan Wapres dalam waktu singkat ini kata dia, hanya kawasan ini yang mampu dipetakan.

“Kawasan yang belum masuk, saya bisa pastikan nanti dapat disetujui, karena revisi RTRW membutuhkan peta kawasan yang belum masuk tersebut,” ujarnya.

Lanjut Syaifullah, dalam peta tersebut, potensi longsor dan banjir sudah masuk, namun potensi downlift belum masuk. Menurutnya, tujuan jangka pendek peta ini, adalah untuk memastikan lokasi-lokasi aman untuk relokasi masyarakat yang sebelumnya tinggal di kawasan terdampak.

“Dari penjelasan pak Abdullah, kita sekarang tahu bahwa ada bagian-bagian lain yang harus kita buat petanya,” ujarnya. TMG

Leave A Reply

Your email address will not be published.