Perekat Rakyat Sulteng.

2019, Disdikbud Sulteng Fokus Tingkatkan Kualitas Guru

15

SULTENG RAYA – Tahun 2019 ini, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng) fokus untuk meningkatkan kualitas guru, dengan cara memperbanyak pelatihan-pelatihan yang diberikan kepada guru. Hal itu disampaikan Kepala Disdikbud Sulteng, Irwan Lahace, saat ditemui Sulteng Raya, Kamis (10/1/2018).

Irwan menuturkan, menghadapi revolusi 4.0 ini, guru merupakan ujung tombak dalam mempersiapkan generasi penerus bangsa yang berkualitas untuk menghadapai revolusi 4.0 ini. Olehnya, guru harus lebih cepat menguasai teknologi informasi dan komunikasi, sehingga dapat menguasainya dan mengenalkan kepada peserta didik.

Menurutnya, saat ini pemerintah terlalu fokus melakukan pembangunan infrastruktur atau fisik. Semantara, pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM) kurang mendapat perhatian. Padahal, pembangunan SDM merupakan sayarat yang harus dipenuhi untuk menghadapi revolusi 4.0. Bagaimana tidak, saat ini segala sesuatu serba canggih dan moderen, guru-guru bahkan tidak semua dapat menggunakan teknologi tersebut untuk kepentingan Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) di sekolah.

“Padahal sekarang ini, guru itu harus lebih cepat, olehnya untuk meningkatkan kualitas guru pelatihan itu harus dilakukan. Dulu ada namanya balai pelatihan guru (BPG), melalui BPG para guru diberikan pelatihan yang namanya penataran guru. Tapi, sekarang hal itu sudah tidak dilakukan, bayangkan saja ada guru-guru yang didaerah sejak pengangkatan menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS), tidak pernah menginjakkan kaki di Kota Palu, bagaimana guru bisa berkembang kalau begitu, untuk itu kedepannya pelatihan guru akan kami tingkatkan”tegasnya.

Selan itu, kata dia, guru adalah kurikulum hidup, sehingga kompetensi seorang guru merupakan harga mati. Dengan begitu, banyak tuntutan yang mesti dipenuhi seorang guru. Agar, para guru dapat mengaitkan mata pelajaran yang mereka bawakan dengan kebutuhan-kebutuhan siswa. Misalnya, pelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK), juga dikaitkan dengan etika penggunaan teknologi informasi dan komunikasi, jangan hanya diajarkan teknis cara pengoprasiannya.

Lanjutnya, begitupun dengan mata pelajaran lain. Sehingga, tidak perlu lagi ada perubahan dan penambahan kurikulum.Bayangkan, jika kepolisian meminta pengetahuan lalu lintas dimasukan kurikulum, Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) juga meminta pengetahuan tentang Keluaraga Berencana (KB) dimasukan di kurikulum, Badan Narkotika Nasional (BNN) juga meminta pengetahuan narkoba dimasukan dalam kurikulum, kan ini sangat repot,”keluh Irwan.

Sedangkan kurikulum, kata dia, sudah ada patokan pencapainnya. Inti dari semua itu, kata dia,  adalah pendidikan karakter yang harus diperkuat. Selebihnya, kemampuan guru dibutuhkan untuk mengaitkan mata pelajaran yang disampaikannya dengan hal-hal yang dibutuhkan oleh siswa. Sebab, sistem pendidikan saat sudah berbeda dengan dulu, saat ini peserta didik sebagai subjek pendidikan bukan objek. Jadi, peserta didik bisa lebih mengembangkan pengetahuan yang disampaikan oleh guru mereka.ADK

Leave A Reply

Your email address will not be published.