Perekat Rakyat Sulteng.

Akademisi Untad Dorong Literasi Media Masuk Kurikulum

16

SULTENG RAYA – Akademisi Universitas Tadulako (Untad), Dr Ilyas Lampe, mendorong agar literasi media dimasukan kedalam kurikulum sekolah maupun perguruan tinggi. Sebab, saat ini teknologi informasi dan komunikasi banyak digunakan untuk kepentingan negatif, seperti saling hujat sampai penyebaran informasi hoaks.

Dia menuturkan, hal itu terjadi karena kurangnnya pemahaman masyarakat dalam menggunakan teknologi informasi dan komunikasi secara positif. Saat ini, perkembangan teknologi informasi dan internet sangat pesat. Penggunaan media sosial melalui teknologi informasi dan komunikasi juga sangat banyak. Bahkan Indonesia merupakan salah satu negara pengguna teknologi informasi dan komunikasi terbanyak di dunia. Tidak heran, jika perselisihan kerap terjadi di media sosial, bahkan saling menjatuhkan.

“Dengan kondisi perkembangan teknologi informasi dan internet yang selalu berkembang, tentu dibutuhkan literasi media, jadi yang paling dekat adalah literasi media sosial, kenapa itu penting, karena kita sekarang kebanyakan hanya memanfaatkan media itu untuk kepentingan-kepentingan yang negatif, untuk saling menghujat terlebih lagi dalam konteks politik, kemudian penyebaran konten hoaks dan konten porno juga sangat marak terjadi di media sosial,”tutur  Koordinator Program Studi (Prodi) Ilmu Komunikasi Untad tersebut, Rabu (9/1/2018).

Padahal, menurutnya teknologi informasi dan komunikasi bisa digunakan untuk kepentingan-kepentingan yang positif seperti pengembangan ekonomi kreatif. Misalnya, ada beberapa jenis usaha yang meraih keuntungan yang besar saat ini dengan memanfaat kan teknologi informasi dan komunikasi yaitu, Bukalapak, Grab, Gojek dan sebagainya. Ini merupakan contoh pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi yang baik.

Dengan teknologi informasi dan komunikasi, kata dia, peluang untuk mengembangkan sektor ekonomi kreatif semakin besar. Bahkan, tanpa modal pun, siapa saja bisa memulai usaha dan menjual produk-produk kebutuhan sehari-hari melalui teknologi  ini. Tidak hanya itu, penghasilan dari pengusaha—pengusaha yang memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi tersebut, keuntungannya bisa melampau pengusaha maskapai penerbangan dan angkutan umum yang memiliki banyak pesawat dan mobil. Padahal, mereka hanya bermodalkan aplikasi yang difungsiikan melalui teknologi informasi dan komunikasi yang hampir dimiliki semua orang.

“Untuk itu, literasi media memang harus dimasukan dalam kurikulum pendidikan, saya bahkan mendorong harusnya dikampus sudah ada kurikulum yang berbasis gerakan literasi media, mungkin pertama gerakannya adalah gerakan anti hoaks, yang kemudian mungkin bisa dikembangkan dalam konteks pemanfaatan teknologi informasi itu secara lebih luas, itu harus lebih didorong saya kira baik di kampus dan sekolah. Sehingga, masyarakat Indonesia bisa lebih bijak menggunakan teknologi informasi dan komunikasi,”terangnya.

Lanjutnya, jika memang belum bisa dimasukan didalam kurikulum, paling tidak pengetahuan untuk pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi dengan baik dapat diselipkan pada mata pelajaran yang berkaitan. Agar generasi Indonesia menjadi orang-orang yang dapat memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi dengan baik.

Dia menjelaskan, langkah awal yang harus dilakukan adalah mendorong Pemerintah Daerah untuk mengeluarkan regulasinya. Untuk itu, seharunya kampus dan sekolah dapat bekerjsama untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang pentingnya literasi media sosial dan media secara umum. Sebab, salah satu problem di Indonesia adalah lebih tingginya budaya tutur dibandingkan dengan budaya membaca. Sehingga, membaca informasi hanya pada judul tidak sampai tuntas, dan disebarluaskan, padahal informasinya belum tentu benar.

“Bahkan orang yang berpendidikan tinggi pun melakukan hal yang sama, saya kerap menemukan dosen-dosen yang menyebarkan informasi hoaks karena tidak tuntas membaca dan melakukan verifikasi terhadap informasi tersebut dengan sumber yang lebih kuat. Misalnya dikalangan dosen beberapa waktu lalau ada yang ikut menyebarkan berita hoaks meninggalnya Ustadz Arifin Ilham. Itu contoh karena mereka tidak melakukan verifikasi yang betul, seharusnya melakukan verifikasi dulu dan memastikan sumber berita berasal dari sumber yang kuat dan terpercaya, baru disebar luaskan”jelasnya.

Jadi, kata dia, budaya lietrasi membaca masyarakat Indonesia masih sangat kurang. Olehnya, budaya literasi media sudah harus ditanamkan sejak dini di sekolah, salah satu caranya dengan memasukan literasi media kedalam kurikulum sekolah, agar kelak generasi penerus bangsa dapat tumbuh dengan memiliki pemahaman mengenai media.ADK

Leave A Reply

Your email address will not be published.