Perekat Rakyat Sulteng.

Rektor Unismuh Tanggapi Wacana Pemangkasan SKS

130

SULTENG RAYA-Rektor Universitas Muhammadiyah Palu, Dr. H. Rajindra, SE, MM, melalui wakil Rektor Bidang Akademik, Dr. Raifuddin Nurdin, SP. MH. MP menanggapi wacana Menristekdikti melakukan pemangkasan  Satuan Kredit Semester (SKS) untuk program sarjana dan diploma.

Menurutnya itu tidak jadi masalah, yang terpenting adalah wacana tersebut bisa meningkatkan profil kompetensi para lulusan suatu universitas. “Selama pemangkasan jumlah dan bobot SKS tersebut mendukung tercapainya profile lulusan yang ingin dicapai oleh suatu prodi maka tidak ada masalah,”ungkap Raifuddin Nurdin, Selasa (8/1/2019).

Mengingat kata Raifuddin, saat ini yang paling terpenting adalah profil lulusan suatu universitas yang harus bisa menjawab tuntutan pasar tenaga kerja. Sehingga tidak heran jika prodi dituntut harus bisa meramu kurikulum dan mata kuliah yang bisa mencakup Kognitif, Afektif, dan Psikomotor. Karena inilah yang menjawab kebutuhan itu.

Terlebih tantangan kedepan yang disebut revolusi industri 4.0, pesatnya perkembangan teknologi di era revolusi industri 4.0 sangat berpengaruh terhadap karakteristik pekerjaan yang ada saat ini, dimana keterampilan dan kompetensi menjadi hal pokok yang perlu diperhatikan.

Karena di era revolusi industri 4.0 integrasi pemanfaatan teknologi serta internet yang begitu canggih dan masif juga sangat mempengaruhi adanya perubahan prilaku dunia usaha dan dunia industri, prilaku masyarakat dan konsumen pada umumnya.

Karakteristik di era revolusi industri tersebut meliputi digitalisasi, optimation dan cutomization produksi, otomasi dan adaptasi, interaksi antara manusia dengan mesin, value added services and business, automatic data exchange and communication, serta penggunaan teknologi informasi.

Oleh karena itu, dunia pendidikan dan industri harus mampu mengembangkan starategi transformasi industri dengan mempertimbangkan sektor sumber daya manusia yang memiliki kompetensi dibidangnya.

Selama pemangkasan SKS tersebut, mampu memenuhi itu semua serta ada pemadatan konten atau materi ajar serta menjamin profil lulusan suatu prodi tidak terganggu, hal itu baginya tidak jadi masalah. “Selama tidak mengganggu profil lulusan dan ada pemadatan konten atau materi ajar, saya kira tidak ada masalah,”tambah Wakil Rektor Bidang Akademik ini.

Ia melanjutkan, jika memangacu pada Peraturan Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Republik Indonesia Nomor 44 Tahun 2015, Tentang Standar Nasional Pendidikan Tinggi, pada Pasal (1) huruf D, mengenai masa dan beban belajar penyelenggaraan program, seorang calon sarjana paling sedikit harus menyelesaikan 144 SKS.

Sebelumnya, Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) menyatakan rencana pemangkasan Satuan Kredit Semester (SKS) untuk program sarjana dan diploma bukan hanya untuk mempersingkat waktu kuliah semata, melainkan juga agar waktu dan materi kuliah lebih efisien.

Pemadatan konten atau materi ajar ini dimungkinkan mengacu pada beberapa kampus di negara-negara maju. Karena itu, hingga saat ini tim Kemenristekdikti masih terus menggodok hal tersebut

Seperti di Australia total SKS untuk program sarjana hanya sekitar 70 SKS. Namun, konten dari 70 SKS itu hampir sama dengan konten program sarjana dengan jumlah SKS mencapai 144 SKS.

Menristekdikti Mohammad Nasir mengatakan, saat ini bobot SKS untuk S1 mencapai 144 SKS dan diploma mencapai 120 SKS. Jumlah SKS tersebut terlalu berat, menghambat kreativitas mahasiswa, dan juga membebani pembiayaan. “Saya kira untuk S1 jadi maksimal 120 SKS, dan D3 90 SKS itu sudah cukup,” kata Nasir. AMI

Leave A Reply

Your email address will not be published.