Perekat Rakyat Sulteng.

Penegak Hukum Diminta Panggil Kontraktor, Proyek Jalan Rp10 Miliar Masaengi-Saloya Amburadul

40

SULTENG RAYA –  Proyek jalan tahun anggaran 2018 dengan pagu anggaran Rp10 miliar antara Ape Saloya ke Masaengi, Kecamatan Sindue, Kabupaten Donggala dinilai amburadul. Ketebalan aspal diduga tidak sesuai spek hingga mengakibatkan kualitas buruk.

Hasil investigasi Sulteng Raya di lapangan, terlihat aspal yang cukup sedikit. Sementara Prime Coat yang seharusnya hitam pekat, namun tidak kelihatan                            hingga berdampak pada kualitas lengketnya aspal yang tidak maksimal.

Romi Sumpit, selaku penggiat anti korupsi Sulawesi Tengah menyayangkan dugaan pekerjaan yang dinilai asal-asalan tersebut. Apalagi hanya mengunakan tangan aspal bisa diangkat dan terhambur.

“Dengan anggaran yang cukup fantastis itu sejatinya rekanan harus mengerjakan proyek dengan maksimal bukan hanya asal-asalnya saja,” kata Romi, dihubungi Ahad (30/12/2018).

Dikutip dari situs resmi lembaga pelelangan proyek LPSE, Proyek itu dikerjakan oleh PT. Graha Kayong yang diketahui dikendalikan oleh rekanan bernama Frengky.

Selain itu, lapisan aspal tipis sehingga menimbulkan lapisan pondasi dasar timbul kepermukaan aspalsensite. Selain kondisi ketebalan aspal diduga dipangkas, penggunaan material speksifikasi lapisan pondasi jalan diduga kuat semuanya mengunakan material jauh dibawah standar atau tidak melalui frekuensi pengujian pengendalian kepadatan dan kadar air paling sedikit harus satu pengujian.

Romi meminta penegak hukum bergerak cepat memanggil dirut PT. Graha Kayong dan memeriksa secara intensif terkait dugaan pekerjaan yang asal-asan yang mengakibatkan kualitas jalan buruk itu.

“Kejari Donggala atau Kejati harus segera memanggil Frengki. BAP dan mintai keterangan kenapa pekerjaan jalan bisa seperti itu?. Tentu didalam pekerjaan itu saya menduga pasti ada masalah,” tegasnya .

Cukup miris, dana miliaran untuk membiayai proyek peningkatan struktur jalan Masaingi – Ape Saloya yang melekat di Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Donggala, sudah mulai rusak padahal baru selesai dikerjakan Desember 2018.

Kondisi aspal jalan sangat tipis dan lapisan pondasi jalan menggunakan material jauh dibawah standart sehingga menimbulkan kerusakan dan usian jalan itu sendiri. Hal ini terlihat jelas, sudah dipastikan jika saat prosesnya dilakukan secara asal.

Kondisi yang dinilai tidak bermanfaat terhadap warga itu juga disesalkan oleh sejumlah masyarakat disana, mengingat tidak ada gunanya dibangun jika hanya asal-asalan.

“Tentu tidak ada gunanya, karena dipastikan itu tidak akan lama sudah hancur dan bisa hilang aspalnya karena kerjanya gak bagus,” ucap salah satu warga yang minta namanya tidak dikorankan.

Kondisi ini bisa saja mengarah pada dugaan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) modus mengurangi volume demi meraup keuntungan besar dari uang negara. Maka dari itu penggiat anti Korupsi Sulteng minta Kejari tidak mengulur waktu memanggil Frengki, selaku pengendali pekerjaan jalan itu.

“Penyidik Kejaksaan harus cepat memanggil Kontraktor untuk mengetahui apakah pembangunan proyek tersebut telah sesuai dengan Rencana Anggaran Biaya (RAB) yang sudah ditetapkan atau tidak,” tegas Romi.

Kepala Kejaksaan Negri (Kejari) Kabupaten Donggala Yuyun Wahyudi, dihubungi terkat dugaan permasalahan di wilayah hukumnya akan melakukan tindakan jika memang ditemukan adanya dugaan pelanggaran.

“Oke, saya teruskan ke Pidsus (Pidana Khsusus yang menangani dugaan Tipikor di Kejari Donggala),” katanya.

Sementara itu pengendali Proyek bernama Frengki dihubungi via pesan singkat melalui nomor telepon 0813212092XX tidak merespon, meski media ini telah melayangkan pesan singkat. TUR

Leave A Reply

Your email address will not be published.