Perekat Rakyat Sulteng.

Dipolisikan, Ini Tanggapan Santai Bupati Donggala

35

SULTENG RAYA – Bupati Donggala Kasman Lassa menanggapi santai laporan atas dirinya oleh Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Sulteng ke Polda Sulteng, terkait dugaan penganiayaan atau pengeroyokan salah seorang anggota Panwaslu Kecamatan Banawa, Donggala.

Dihadapan sejumlah wartawan di rumah jabatan bupati, Kamis (27/12/2018), Bupati Kasman menceritakan kedatangannya bersama putrinya, Widya Kastrena Lassa ke Dusun Kabuti, Kelurahan Ganti, Kecamatan Banawa.

Kedatangannya untuk menghadiri acara selamatan warga atas kembali normalnya air di daerah tersebut. Sebelumnya, warga secara bergotong royong mengumpulkan dana untuk memperbaiki mesin pompa air.

Saat menyampaikan sambutan, Bupati Kasman memperkenalkan sejumlah pejabat yang turut hadir, diantaranya Lurah Ganti, Umar Lamarauna.

Usai acara kata Bupati Kasman, saat ia telah berada dalam mobil hendak kembali ke Ibu Kota Donggala, ia mendapat laporan bahwa ada oknum yang mengaku dari Panwaslu Kecamatan Banawa, hadir dalam acara tersebut telah dikepung warga, karena kedapatan mengambil gambar serta merekam acara yang diprakarsai oleh masyarakat setempat.

Awalnya, Bupati Kasman mendapat informasi bahwa yang dipersoalkan oleh oknum Panwaslu itu adalah biaya yang dianggap pungutan liar (pungli) yang dikumpulkan masyarakat untuk acara selamatan itu.

Saat itu kata Bupati Kasman, masyarakat yang sudah berkumpul “mengurung” oknum Panwaslu yang kemudian diketahui bernama Harman Acap, justru dilerai oleh dua ajudannya agar tidak diamuk massa. Karena pada saat itu Harman melakukan perlawanan sehingga ditangkap oleh warga.

“Pada prinsipnya saya tidak tahu kalau dia itu Panwaslu karena tidak ada atributnya atau tanda pengenal yang digunakan,” kata Bupati  Kasman.

Masyarakat yang mengepung Harman tidak melakukan pemukulan atau pengeroyokan. HP milik Harman terjatuh dan diambil seseorang yang kemudian diserahkan kepada lurah, yang selanjutnya diserahkan lurah kepada Harman.

Kondisi HP telah rusak sebelum kejadian berlangsung, demikian pula celana yang sobek disebabkan upaya Harman yang ingin melepaskan diri dari tangkapan masyarakat.

Bupati Kasman juga mengaku tidak mengetahui adanya penghapusan data atau foto dalam HP tersebut.

“Tidak benar dia dikeroyok. Dia hanya mau lari tapi ditangkap masyarakat. Karena dia bergerak mau lari. Kalau dikeroyok itu dipukul,” ujarnya.

Terkait dengan kehadiran anaknya di acara itu, Bupati Kasman menegaskan bahwa ia hanya memperkenalkan nama anaknya saja. Tidak ada sebutan sebagai caleg atau yang berkaitan dengan Pemilu 2019. Tidak terpasang atribut atau simbol partai dan bupati hadir menggunakan baju batik demikian pula anaknya.

“Saya memperkenalkan nama anak saya saja. Tidak ada menyebut partai atau caleg,” terangnya.

Menanggapi laporan Bawaslu ke Polda Sulteng, Bupati Kasman menegaskan bahwa hal itu merupakan hak demokrasi dari sebuah lembaga. Namun ia menegaskan akan melakukan upaya hukum jika hal ini tidak dapat dibuktikan kebenarannya dan siap mengikuti proses hukum.

Bupati Kasman yang hadir dalam konferensi pers didampingi politisi NasDem Donggala, Taufik dan pengacara Misbah SH, mengingatkan agar hal ini tidak melebar sampai melibatkan masyarakat. Karena sejumlah masyarakat di Kabuti sudah ada yang menanyakan persoalan ini dan mereka siap untuk melakukan pembelaan.

Bupati Kasman menilai bahwa oknum Panwaslu Banawa itu telah melakukan pelanggaran kode etik, karena datang tanpa menggunakan atribut sebagai lembaga resmi negara.

“Kalau nama saya sampai dicemarkan, tentu saya akan melakukan perlawanan secara hukum,” tandasnya. ROA/WAH

Leave A Reply

Your email address will not be published.