Perekat Rakyat Sulteng.

Buku Sejarah Pers Kota Palu Segera Diterbitkan

15

SULTENG RAYA – Buku perkembangan pers di Kota Palu akan segera terbit dan mewarnai khasanah pecinta buku dan sejarah di Kota Palu, buku berjudul “Dari Zamroed Paloe Hingga Mercusuar : Pasang Surut Surat Kabar di Kota Palu (1935-1993)”, karya Idrus A Rore.

Buku tersebut mengulas tentang sejarah perkembangan pers di Kota Palu, hasil pengembangan dari judul skripsi Idrus A Rore pada saat mengambil gerlar sarjana di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Tadulako (Untad), atas dukungan dari Direktorat Sejarah dan Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, judul skripsi tersebut diberi kesempatan untuk dilanjutkan penelitiannya dan diterbitkan menjadi buku.

Seperti diketahui, Idrus A Rore juga berprofesi sebagai dosen di Program Studi (Prodi) Sejarah FKIP Untad. Ditengah-tengah kesibukannya sebagai seorang pengajar, ia juga aktif menulis dan melakukan penelitian terkait isu-isu lokal Kota Palu.

Dalam pemaparan uji petik buku tersebut, Idrus menuturkan, perkembangan sejarah pers dan komunikasi di Kota Palu jarang mendapat perhatian dari para akademisi dan peneliti. Padahal, perkembangan pers di setiap daerah memiliki sejarah dan keunikan tersendiri, serta peran pers merupakan perwajahan dari aktivitas perjuangan di daerah tersebut.

Dengan mengetahui sejarah perkembangan pers di Kota Palu dapat membuka wawasan mengenai karakter dan kebudayaan lokal dari masa ke masa. “Jika dianalisis titik awal dan akhir penelitian ini, maka ditemukan empat kurun waktu perjalanan surat kabar di Kota Palu, yakni masa kekuasaan kolonial Belanda, masa pendudukan Jepang, masa orde lama, dan masa orde baru. Keempat kurun waktu tersebut terkait dengan sistem kekuasaan, sehingga sistem kekuasaan menentukan karakteristik surat kabar. Olehnya, dapat dipastikan bahwa setiap kurun zaman menentukan karakteristik surat kabar di Kota Palu,”jelasnya, Rabu (5/12/2018).

Berdasarkan hasil penelusuran, kata dia, perjalanan surat kabar di Kota Palu dimulai sejak tahun 1935 dengan nama surat kabar pertama Zamroed Paloe di masa Kolonial Belanda. Perkembangan surat kabar dimasa ini berbeda dengan perkembangan surat kabar di zaman Jepang. Zaman Belanda semua surat kabar diarahkan untuk kepentingan penjajahan, sedangkan di zaman Jepang dilakukan pemberangusan pers. Begitupun, kata dia, perkembangan pers dimassa orde lama dan orde baru memiliki dinamika spesifik yang menarik untuk dikaji.

Sementara itu, Surat Kabar Soeara Ra’jat yang merupakan cikal bakal dari Mercusuar memulai perjalanannya ditahun 1962 dengan pendiri Rusdi Toana. Pada masa itu, Soeara Ra’jat bersifat independen, dalam arti tidak terikat dan mengikatkan diri pada salah satu partai politik maupun organisasi sosial tertentu.

Namun, setelah surat kabar Mimbar Ra’jat terbit pada tahun 1963 sebagai surat kabar pembawa suara Partai Komunis Indonesia (PKI), Soeara Ra’jat mengambil sikap lebih condong pada Muhammadiyah. Hal itu  secara laten dimiliki oleh Soeara Ra’jat, karena Rusdi Toana dikenal sebagai tokoh Muhammadiyah Sulawesi Tengah.

“Intinya perkembangan pers di Kota Palu merupakan perwajahan aktivis perjuangan di Kota Palu. Sehingga, kajian perkembangan pers di Kota Palu sangat menarik untuk dilakukan, kemudian buku ini nantinya diharapkan bisa menjadi salah satu referensi yang dapat menjelasakan dinamika perkembangan pers di Kota Palu,”ucapnya.ADK

Leave A Reply

Your email address will not be published.