Perekat Rakyat Sulteng.

November 2018, NTP Sulteng Menurun 0,30 Persen

16

SULTENG RAYA – Nilai Tukar Petani (NTP) Provinsi Sulawesi Tengah selama November 2018 sebesar 95,70 persen, turun 0,30 persen dibandingkan NTP bulan lalu sebesar 99,59 persen.

Penurunan NTP disebabkan oleh subsektor tanaman perkebunan rakyat, subsektor peternakan, dan subsektor perikanan masing-masing sebesar -1,40 persen, -0,23 persen dan -0,77 persen.

Indeks harga yang diterima petani (It) turun sebesar 0,30 persen sedangkan indeks harga yang dibayar petani (Ib) tidak mengalami perubahan sebanyak 0,00 persen.

Hal itu diungkapkan Kepala Bidang (Kabid) Statistik Distribusi, Nasser saat menyampaikan data strategis bulanan milik BPS di Kantornya Jalan Muhammad Yamin Kota Palu, belum lama ini.

“Artinya adalah harga kebutuhan untuk petani ini lebih kepada fluktuatif mengalami pergerakan harga. Sedangkan yang dijual tidak memiliki dalam hal komoditas mengalami penurunan jika di rata-ratakan. Namun ada beberapa sub sektor yang mengalami kenaikan,” tutur Nasser.

NTP tertinggi terjadi pada subsektor hortikultura sebesar 109,96 persen, sedangkan NTP terendah terjadi pada subsektor tanaman perkebunan rakyat sebesar 84,03 persen.

Sementara itu, untuk Nilai Tukar Usaha Rumah Tangga Pertanian (NTUP) sebesar 106,42 persen atau mengalami penurunan sebesar 0,58 persen dibandingkan Oktober 2018.

Di tingkat nasional, NTP bulan November 2018 mengalami kenaikan sebesar 0,09 persen, demikian juga dengan NTUP mengalami kenaikan sebesar 0,01 persen.

Nilai Tukar Petani dan Nilai Tukar Usaha Petani di tingkat nasional pada bulan November 2018 masing-masing sebesar 103,12 dan 111,92.

Hal senada juga disampaikan Kepala BPS Sulteng, Faizal Anwar yang mengatakan bahwa NTP harus diperhatikan oleh pemerintah terkait dengan harga-harga kebutuhan petani.

“Ini jadi perhatian kita juga, karena di November kita menjadi penurunan pada saat yang sama Nasional diatas dari 100 persen. Artinya kenaikan harga yang diproduksi petani harus lebih tinggi dibandingkan apa yang dibutuhkan oleh petani. Tapi Ternyata barang-barang yang harus dikeluarkan petani ternyata lebih tinggi perubahan kenaikannya dibanding apa yang ia jual,” imbuhnya. RHT

Leave A Reply

Your email address will not be published.