Perekat Rakyat Sulteng.

Pascabencana Pasigala, Terjadi 654 Kali Gempa Susulan

11

SULTENG RAYA – Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mencatat, pascabencana gempa bumi, tsunami dan likuifaksi di Kota Palu, Sigi dan Donggala (Pasigala) pada 28 September 2018, terjadi 654 kali gempa susulan.

Demikian disampaikan Kepala Bidang Informasi Gempa Bumi dan Peringatan Dini Tsunami BMKG, Daryono saat menyampaikan materi pada kegiatan Seminar Nasional ‘Gempa Bumi, Tsunami dan Likuifaksi di Sulawesi Tengah: Sebuah Pelajaran Bagi Mitigasi Bencana’ di salah satu hotel di Kota Palu, Rabu (7/11/2018).

Menurutnya, dari 654 kali gempa susulan itu, 41 gempa diantaranya yang dirasakan masyarakat di Pasigala.

“Hingga Rabu, 7 November 2018, kami mencatat 654 kali gempa susulan terjadi di Palu, Sigi dan Donggala. 41 diantaranya gempa dirasakan,” kata Daryono.

Namun, kata dia, BMKG juga mencatat, sejak peristiwa 28 September 2018, kekuatan getaran gempa terus mengalami penurunan. Sehingga, hal itu telah membantah isu-isu yang berkembang di masyarakat mengenai akan terjadinya gempa susulan lebih besar lagi.

“Dari catatan kami, magnitudo gempa di Sulteng makin kecil. Kami juga ingin menegaskan, berita-berita mengenai adanya prediksi gempa di masyarakat itu tidaklah benar. Karena, hingga saat ini, belum ada teknologi yang bisa memprediksi kapan terjadi gempa dan berapa kekuatannya,” kata dia.

Senada, Akademisi Universitas Tadulako sekaligus Peneliti Sesar Palu-Koro, Abdullah, mengatakan, berdasarkan penelitiannya, Sesar Palu-Koro baru dua kali menimbulkan gempa magnitudo lebih dari 7 SR, yakni pada 20 Mei 1938 dengan magnitudo 7,6 SR dan 28 September 2018 magnitudo 7,4 SR.

Jarak antara kedua pusat gempa tersebut sekitar 30 kilometer. Sementara, selisih waktu antara kedua gempa itu selama 80 tahun.

“Jadi, hipotesis saya, sesar Palu-Koro pada segmen 30 km dan sekitarnya, untuk mengumpulkan energi yang lebih besar dari 7 SR atau 1.024 bom atom Hiroshima, butuh waktu puluhan tahun untuk dia lepaskan lagi dalam bentuk gempa. Jadi, kalau ada yang mengatakan akan terjadi gempa susulan yang lebih besar dalam waktu dekat di Kota Palu, Sigi dan Donggala, itu tidak mungkin alias infomasi hoaks,” kata Abdullah.

Abdullah mengibaratkan, energi gempa magnitudo 5 SR setara dengan satu bom atom Hirosima. Untuk 6 SR, setara dengan 32 kali bom atom Hirosima. Sedangkan energi gempa 7 SR setara dengan 1.024 bom atom hirosima.

“Gempa dengan magnitudo 7,4 SR termasuk gempa besar,” jelasnya.HGA

Leave A Reply

Your email address will not be published.