Perekat Rakyat Sulteng.

Menag Dipastikan Buka AICIS di IAIN Palu

25

SULTENG RAYA – Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, dipastikan membuka secara resmi Annual International Conference on Islamic Studies (AICIS) XVIII yang akan berlangsung pada 17-20 September 2018 mendatang di kampus Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Palu.

Kepastian tersebut setelah Rektor IAIN Palu Prof Dr H Sagaf S Pettalongi selaku Penanggungjawab Panitia Lokal dan tuan rumah melaporkan secara langsung kesiapan kegiatan tersebut.

“Kami berharap Pak Menteri Agama membuka acara dan sekaligus sebagai keynote speech,” ungkap Rektor IAIN Palu Sagaf S. Pattalongi saat memberikan laporan terkait kesiapan pelaksanaan AICIS XVIII Tahun 2018 kepada Menag di kantor Kementerian Agama Jalan Lapangan Banteng Barat Nomor 3-4 Jakarta Pusat, Kamis (13/9/2018).

Sagaf S Pattalongi menyampaikan, IAIN Palu telah siap menjadi tuan rumah AICIS XVIII ini. Sebelum puncak pelaksanaan AICIS XVIII, ada juga kegiatan lain yang berlangsung yakni forum rektor PTKIN se Indonesia, wakil rektor dan forum humas PTKIN se Indonesia.

“Pada AICIS XVIII ini juga kita akan menghadirkan beberapa pemakalah dari Luar Negeri,” kata Sagaf.

Sagaf berharap, semua gelaran AICIS XVIII ini dapat berjalan dengan aman dan lancar, tanpa ada halangan yang memberatkan. “IAIN Palu sudah siap melaksanakan AICIS XVIII, dan semoga berjalan aman dan lancar,” tambah Sagaf.

Selain itu, lanjut Sagaf, peserta yang mengirimkan makalah ke panitia sebanyak 1.500 makalah. Selanjutnya, panitia mengadakan seleksi terpilih lah 360 makalah yang akan ditampilkan pada AICIS XVIII.

“Terkumpul 1.500 makalah, melalui seleksi dari panitia terpilih sebanyak 360 makalah yang akan tampil pada parallel season,” kata Sagaf yang didampingi Wakil Rektor I IAIN Palu, Dr H Abidin Djafar.

\Peserta AICIS XVIII tidak kurang dari 2.000 orang, ada perwakilan Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) dan Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Swasta (PTKIS), di mana setiap kopertais diwakili 3 PTAIS.

Mendengar laporan tersebut, Menag memberikan sejumlah catatan dan masukan kepada lokal maupun pusat,  diantaranya agar AICIS dapat mempublikasikan pandangan dan pemahaman keagamaan Islam di Asia Tenggara dengan beragam perspektif.

Artinya, pemateri tidak hanya datang dari kalangan akademisi saja akan tetapi juga bisa berasal dari budayawan, seniman atau bahkan dari pebisnis. Misalnya, bagaimana potret Islam di Asia Tenggara  dari seorang  pandangan Sujiwo Tejo, atau pendiri ojek online, atau remaja yang mewakili generasi millenial.

Dengan harapan AICIS harus mampu mendorong lahirnya paradigma atau epitemologi alternatif dalam kajian Islam. Dalam kajian Islam jangan hanya dikenal  berfikir ilmiyah Deduktif dan Induktif saja, akan tetapi ada pilihan lain, karena pemahaman dan pengalaman Islam tidak linier, Islam bisa dipahami multi perspektif dan multi disiplin.

Lanjut menteri, dengan tema yang diusung saat ini, “Islam in Globalizing World: Text, Knowledge and Practice” AICIS harus menemukan ciri khas dan  karakteristik keberagamaan Islam Asia Tenggara sebagai bagian peradaban dunia yang sudah mulai mengglobal.

“Jangan takut dengan isu dan masalah  kontroversial dalam setiap mendiskusikan Ilmu Islam sebagai sebuah kajian ilmiyah. Karena kalau ilmu itu selalu berada di zona nyaman dan tenang maka tidak akan ada dinamika. Ilmu itu harus dibenturkan agar dia hidup. Seperti biasanya dalam ilmu itu harus ada tesa, antitesa dan sintesa,” pesan Menteri.

Hadir dalam kesempatan itu Direktur Diktis Arskal Salim dan Kasubdit Pengembangan Akademik Diktis Mamat Salamet. WEBSITE KEMENAG/AMI

Leave A Reply

Your email address will not be published.